Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Kolom / Luruskan Niat dan Berjiwa Besarlah Ketika Dikritik!

Luruskan Niat dan Berjiwa Besarlah Ketika Dikritik!

Senin, 17 Juni 2019 10:00 WIB

Bahtiar Gayo

DIALEKSIS.COM | Aceh - Anakku! Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dalam mengkritik seseorang. Jika kamu ingin mendapatkan kebaikan, maka luruskanlah niatmu.

Kritik itu adalah bagian dari amar makruf nahi mungkar. Tatanan hidup mengajarkan bagaimana mengkritik. Mengajak seseorang ke arah yang lebih baik, bukanlah dengan caci maki.

Tetapi serulah dengan cara santun dan beradab. Karena selain ajaran agama mengajarkan kita beretika, adat Gayo, mengamanatkan bagaimana kita melakukan kritik. "Gere itulak rum serde kolak, gere isenawat rum pembesik si luwis (bukan ditolak untuk menjatuhkan, bukan dicambuk menoreh luka- Bahasa Gayo. Pen)". Gayo itu santun dan beretika.

Kritikan untuk perbaikan sangat dibutuhkan dalam hidup. Kritikan, saran adalah bagian nutrisi, penyempurna tubuhmu.

Namun anakku, bila kamu ingin mengkritik seseorang, tanyakan dulu ke relung hatimu, apakah kritikan ini akan mendatangkan manfaat atau mudarat.

Bila bermanfaat, tanamkan niatmu tulus karena Allah. Kalau niat mu karena yang maha segala galanya, Insya Allah kritikanmu akan membawa berkah.

Namun ketika engkau mengkritik anakku, karena kepentinganmu, ada yang kamu harap, bukan tulus karena Allah, engkau tidak mendapat keberkahan. Silakan kau kritik apa saja, namun pertimbangkan dampak manfaat dan mudaratnya.

Anakku, ingat pesan Ama……. "Enti ku rara tamahko minyak, si besurak nge makin galak. Gelah mujadi wih bang kao kin sulih, lagu emun putih gemasih ku donya. (Jangan ke api kau tambah minyak, yang bersorak kan bertambah riuh. Jadilah air kamu untuk penyejuk, seperti embun putih mengirim berkah ke bumi)".

Tidak ada manusia yang sempurna hidupnya. Pasti ada kesalahan dan dosa. Makanya dia membutuhkan saran, kritikan dari orang lain. Saran dan kritikan itu, ibarat cermin, dia akan menunjukan dimana kesalahan dan kelemahan kita.

Pergunakan hatimu anakku, bila engkau mau memberi saran atau kritikan. Semoga yang kamu lakukan mendapat berkah dari Allah dan menjadi amal semasa hidup di dunia.

Berjiwa Besarlah Ketika Dikritik!!

Kritik dan saran sangat dibutuhkan, guna melatih kita semakin dewasa dan tegar menapaki hidup ini.

Anakku! Selagi ada nafas diberi Allah, tidak ada salahnya Ama (bapak-Gayo) juga mengingatkanmu. Kalau tadi Ama sampaikan bagaimana etika ketika kamu mengkritik, kini ketika giliranmu dikritik, bagaimana sikapmu?

Kritik dan saran yang ditujukan kepadamu, jadikanlah sebagai “lecutan” untuk memacu langkahmu. Bukan menghentikan langkahmu. “Ibebuk kati kul irurut kati naru (ditabuh supaya besar, diurut biar panjang)”. 

Jadikan masukan itu untuk memperbaiki diri. Kita butuh teman, butuh saran dan kritikan untuk memperbaiki kualitas diri.

Setiap manusia memiliki amanah. Baik itu amanah untuk dirinya sendiri, atau amanah yang dititipkan pihak lain untuk kita jalankan. Ketika kita sudah mendapatkan amanah itu, jangan lupa anakku, amanah itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Bukan hanya Allah akan meminta tanggung jawab. Namun, pemberi tanggung jawab di pundakmu, juga akan meminta pertangungjawaban apa yang sudah kamu lakukan. Amanah itu memang berat dan harus dipertanggungjawabkan.

Untuk itu, anakku…! Ketika ada yang mengkritikmu, terimalah dengan lapang dada dan jiwa yang besar. Tanyakan kepada hatimu, apakah yang disampaikan oleh saudaramu itu benar? Apa yang harus kamu lakukan ketika yang disampaikan itu benar? Apakah kamu mau memperbaiki diri?.

Jadikanlah kritikan itu sebagai “kopi pahit arabika”, sebagai penyegar pemikiranmu. Sepenggal nasihat leluhur di Gayo, perlu kamu pertimbangkan. “Pit enti tir ulowahen, sediken lungi enti tir idoloten

Maknanya, pahit jangan langsung dimuntahkan, belum tentu tidak bermanfaat. Bila manis jangan langsung kamu telan, bisa jadi tuba yang memabukkan”.

Indah sekali nasihat petuah di Gayo ini anakku, jauh-jauh hari para leluhur sudah mengingatkanya.

Anakku……! Kopi pahit itu ketika kamu nikmati, akan terasa lemak dan menyegarkan. Tubuhmu membutuhkan kopi pahit untuk penyeimbang. Jangan jadikan kopi pahit itu sebagai lawanmu! Tetapi jadikanlah kopi espreso pahit itu, sebagai bagian dari kebutuhanmu.

Saringlah kopi itu, agar kamu dapat menikmatinya. Ciumlah dengan indramu, apakah aroma kopi itu murni kopi berkualitas, atau kopi yang sudah dicampur dengan ramuan lainnya. Bila kopi murni berkualitas, maka nikmatilah. Namun bila sudah bercampur, kiranya menjadi catatan untukmu.

Anakku, selagi ada nafas diberi Allah dan sudah menjadi kewajiban kita manusia untuk saling mengingatkan. Kopi pahit itu bagi Ama laksana cermin. Dia akan menunjukan bagaimana tubuh dan pakaianmu.

Cermin itu tidak pernah berbohong, maka jadikanlah sebagai sahabat. Dia akan berkata jujur, bila ada sesuatu yang melekat ditubuhmu dan tidak sesuai dengan penampilanmu. Karena dia menyampaikan dengan jujur, janganlah cermin itu yang kamu belah.

Jadikanlah cermin itu sebagai sahabatmu. Namun kamu jangan percaya kepada cermin yang retak. Pergunakan akal dan nalurimu.

Anakku! Jalan yang dibentangkan di hadapan kita bukanlah jalan bertabur bunga, berlapiskan emas. Bukan jalan berbalut sutra. Namun jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang menuntut pengorbanan dan keteguhan hati.

Walau jalan dipenuhi onak dan duri, kita harus melaluinya. Di sanalah kemampuan kita diuji. Apakah kita mampu melaluinya dan sampai ke pulau harapan. Tuhan tidak akan memberikan cobaan, bila tidak memberi imbalan diakhirnya.

Jadikanlah semua ini sebagai ibadah, sebagai pengisi hidup kita di dunia, karena kita manusia, bukan mahluk yang maha segala-galanya. Ama, kamu anakku, dan semuanya kelak akan meninggalkan dunia yang fana ini. (Baga)


Reporter :
Bahtiar Gayo
Editor :
Indri

Komentar Anda