Logo Dialeksis
Beranda / Kolom / Kedunguan Berpolitik

Kedunguan Berpolitik

Rabu, 29 Juli 2020 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Oleh : Otto Syamsuddin Ishak


Waktu bergerak mendekati Pilkada. Perilaku juga mengalami perubahan karena dikondisikan oleh pilkada. Samar-samar pencalonan atau pencitraan mulai bangkit. Pendukung mulai berceloteh.

Semua itu memantik memori tentang sebuah rumor politik, antara generasi tua dan baru dalam konteks perpolitikan Aceh. Mungkin ada hikmahnya. Tokoh muda bertemu dengan tokoh tua. Kata yang muda: “Abu, moto awai ka hanco. Nyoe ka lon puwoe moto baro. Supee meunancit, ta gantoe yang baroe.”

Sayangnya, rumor tak menjelaskan apa respon tokoh tua pada saat itu. Akibatnya muncul opini pro dan kontra di seantero warung kopi. Waktu pun terus bergerak. Lalu, seorang tokoh tua mudik dari Jawa (setelah dulu berjuang bersama Abu).

Salah satu yang ia kampanyekan, ia selipkan di dalam agenda dakwah dari kampung ke kampung, bahwa sopir dan mobil baru itu tak direstui Abu. Lalu, ia kena tembak pantatnya.

Di lain pihak, ada seorang tokoh di barisan muda bercerita bahwa Abu selalu mengirim uang ke dia, untuk membantu pembelian bensin mobil baru. Kemudian, Abu pun diambil paksa oleh serdadu untuk dijauhkan dari Aceh.

Tokoh muda itu pun ditangkap di panglong kayu miliknya, tetapi ia berhasil melarikan diri, dan bermukim di negara Atas Angin. Lalu, pasca Mou Helsinki, selain menua secara alamiah, ia juga sempat berkeluarga, tinggal di kampung dengan materi yang berkecukupan.

Sesekali, ia turut serta sebagai aktor Pilkada.Sesekali dia melakukan manuver politik dengan Bahasa Aceh bergaya simbolik nan kocak. Suatu hal yang khas pada mereka yang dibesarkan dalam kultur Melayu.

Pemerintah Pusat mulai mewacanakan Pilkada. Kampanye di medsos mulai digelar, dari yang samar-samar mendukung sampai mulai jelas dukungannya. Komitmen-komitmen politik mulai dibuat: saya bantu anda sekarang, saat pilkada anda bantu saya. Rumor-rumor pencadangan dana kampanye dari anggaran pembangunan mulai ditargetkan besarannya.

Apakah kita melupakan rumor politik yang beredar di awal masa konflik Aceh 1976-2005; atau kita tak bisa melihat hikmah. Mungkin sudah kita lupakan.

Kita sudah terperangkap dalam sangkar besi yang tiada terkait dengan hikmah yang bisa didapat dari peristiwa-peristiwa di masa lalu kita. Kita cenderung mempertimbangkan Aceh ini ibarat mobil pengangkut uang.

Tidak menjadi persoalan apakah butuh sopir lama atau sopir baru. Hana peng, hana kupi( Tidak ada uang tidak ada kopi)! Aceh menjadi sesuatu yang latent, dan kopi menjadi sesuatu yang dimanifeskan.

Karena perspektif politik yang demikian sangat kuat, juga pada generasi muda, maka sopir-sopir tua yang sudah parkir di bangku panjang mulai dilambungkan. Mereka mengabaikan pertimbangan, apakah ketika supir tua itu mengendalikan mobil, penumpang sampai atau kian mendekati titik tujuan (kesejahteraan Aceh)?

Nuansa berpikir demikian terus dirasionalisasi. Tanyakan pada pengamat dan pelaku politik, siapakah sopir yang layak membawa mobil Aceh ke depan? Meraka yang punya uang dan kenderaan politik (partai politik lokal maupun nasional). Mengapa demikian kriteria calon pemimpin itu? Di manakah letak kapasitas, integritas dan elektabilitas?

Kapasitas bisa ditingkatkan bila memiliki uang. Seperti orang yang hendak menjadi sopir, bila ia memiliki uang maka ia bisa mendaftar dan berlatih di tempat pendidikan sopir terbaik dan termahal sekali pun. Kalau pun tak meningkat kapasitasnya, ia bisa menyewa sopir yang professional.

Integritas, semakin banyak uang yang dimiliki seseorang, maka hasrat untuk korupsinya semakin rendah. Sekalipun ada adagium yang mengatakan kekuasaan cenderung korup. Uang juga bisa digunakan untuk menyewa mobil (partai) lain agar syarat tercukupi dan dukungan politik menguat.

Elektabilitas itu sesuatu yang bisa didongkrak. Semakin banyak dana, maka pendongkrakan semakin cepat bisa diraih. Apalagi diera android, pendongkrakan bisa dilakukan dengan intensitas yang tinggi dan meluas, asal ada dana.

Saya tersadar bahwa kita sudah berada di zaman kenormalan keacehan yang baru, bukan hidup di zaman sebuah rumor politik yang lahir di masa lalu. Meskipun saya tetap cemas sebagai penumpang, apakah saya akan dibawa ke tempat tujuan bersama semua orang Aceh lainnya?

Ingatan saya kembali ke masa lalu, manakala konflik bersenjata di Aceh semakin meluas dan intensif, yang diibaratkan bahwa warga sipil sudah berada dalam posisi seperti asam sunti. Nasib asam sunti diantara batu di bawah batu di atasnya juga batu. Sehingga hanya dijadikan sebagai bagian dari bumbu gule dalam kenduri (politik) yang semakin membesar.

Muncul rumor tentang orang-orang yang ingin mengungsi ke Penang, Malaysia. Setelah mereka menyetor uang, lalu pada dinihari yang masih gelap dinaikkan ke dalam kapal kecil. Kapal berjalan, penumpang diingatkan untuk istirahat.

Kemudian kapal berhenti di pinggir pantai, semua penumpang dibangunkan karena katanya sudah sampai. Lamat-lamat penumpang mendengar suara azan. Rasa yakin sampai ke tujuan mulai muncul. Kemudian terdengar deru suara mobil. Penumpang semakin yakin telah sampai tujuan.

Tiba-tiba terdengar jamaah ke masjid yang berbicara dengan Bahasa Aceh. Ketika senja kian berlalu, mereka melihat bus Banda Aceh-Medan lewat. Lalu, secara serentak mereka berseru; kita sudah ditipu!

Begitulah nasibnya bila suasana berpolitik di Aceh didominasi oleh persekongkolan antara supir lama, penjual tiket yang dungu, dan agen yang culas!

* : Penulis Sosiolog Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Editor :
Redaksi

riset-JSI
malikusaleh idul adha
Komentar Anda
dinsos dan M