Logo Dialeksis
Beranda / Kolom / Jangan Biarkan Si Miskin Terancam Kelaparan

Jangan Biarkan Si Miskin Terancam Kelaparan

Selasa, 24 Maret 2020 13:39 WIB

Font: Ukuran: - +


Oleh :  Bahtiar Gayo


Mengkarantinakan diri saat wabah melanda, adalah pilihan yang harus dilakukan. Agar wabah tidak menyebar.Namun, tidak semua mampu melakukanya. Ada pilihan lain yang harus mereka lakukan, walau harus menghadapi pertarungan antara hidup dan mati.

Adanya himbauan untuk menutup/tidak melakukan aktifitas yang mengundang orang berkumpul, mengkarantikan diri, telah membawa dampak. Khususnya bagi mereka yang hidup digaris kemiskinan.

Simalakama. Mengurung diri di rumah adalah pilihan yang bagus. Namun bila kebutuhan pokok tidak ada, apakah pilihan mengurungkan diri di rumah adalah langkah yang bijak. Keluarga mau makan apa. Ketika anak anak menjerit kelaparan, bagaimana mengatasinya?

Mereka yang hidup digaris kemiskinan, saat belum “terserang” wabah, mengandalkan otot untuk membuat dapur mengepul. Usaha yang dilakukan satu hari, cukup tak cukup harus dicukupkan untuk makan sehari.

Apalagi saat suasana “mencekam”, harga kebutuhan pokok bergerak naik. Saat harga stabil saja, si miskin harus pandai benar benar berhemat, demi mengepulnya asap dapur.

Di Indonesia angka kemiskinan masih lumanyan tinggi. Menurut data statistik, persentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen (25,14 juta). Untuk Aceh angkanya mencapai 810 ribu atau 15,32 (statistik direlis 15 Jan/2020).

Angka ini berpeluang naik, seiring dengan “mengguritanya” wabah corona di seluruh penjuru dunia. Ketika ada himbauan mengkarantinakan diri, bagaimana keadaan si miskin yang ketika tidak ada wabah, mengandalkan fisiknya untuk mengais rejeki?

Satu hari saja mereka tidak bekerja, dapurnya tidak berasap. Bagaimana kalau harus mengurung diri selama dua pekan? Apa yang mereka makan? Bagaimana dengan keluarga mereka? Mereka tidak pernah terpikirkan untuk bisa menyetok makanan, bertahan untuk sebulan atau beberapa bulan.

Untuk menyimpan makanan yang tahan dalam sepekan saja sangat sulit. Karena selama ini mereka mencari rejeki rata rata cukup untuk menghidupi kebutuhan satu hari (itu juga masih banyak kurangnya).

Saat wabah melanda mereka tidak punya stok makanan, tidak mampu berusaha. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup ditengah prahara yang melanda?

Amanat UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan memang mengharuskan penyelengara negara untuk menyelamatkan rakyatnya. Pemerintah berkewajiban melindungi rakyatnya.

Namun pemerintah juga berkewajiban atas kelangsungan hidup mereka. Pasal 52 ayat 1 dalam undang undang ini disebutkan, selama penyelenggaraan karantina kebutuhan hidup dasar bagi orang dan makanan hewan ternak yang berada dalam rumah menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dengan melibatkan Pemerintah Daerah dan pihak terkait.

Saat saat seperti ini, menunggu bantuan pemerintah untuk mempertahankan hidup, khususnya bagi mereka yang miskin, adalah pilihan yang sulit. Bila berharap dan menunggu bantuan pemerintah, memerlukan proses.

Bagi si miskin, ada yang nekat harus keluar (walau rejeki belum tentu didapat) demi menghapus linangan air mata anak anaknya di rumah. Pilihan pahit antara pertarungan hidup dan mati dalam serangan wabah, harus mereka lakukan.

Melihat persentase si miskin, tentunya yang hidupnya mapan, sejahtera atau hartawan, jumlahnya lebih banyak. Mengapa mereka yang hidup berkecukupan, saat saat kritis seperti ini “belum” tergerak hatinya untuk sama sama “menyelamatkan” si miskin dari gerbang maut?

Minimal di lingkungan tempat kita tinggal. Si “kaya” harus membantu si miskin untuk bertahan hidup, sampai keadaan normal, sampai mereka mampu berusaha kembali. Mengapa tidak ada gerakan masal untuk menyelamatkan mereka?

Apakah hidup harus napsi napsi. Membiarkan si miskin bergelut dengan “maut” dalam mempertahankan diri. Bukankah mereka saudara kita, bagian dari hidup kita? Mereka tidak pernah meminta hidup dalam garis kemiskinan.

Sudah seharusnya, saat saat kritis seperti ini, mereka yang hidupnya lebih baik dari miskin mengulurkan tangan, menghapus air mata hamba hamba Tuhan yang menjalani hidup dalam kesengsaraan. Dimana hati nurani kita?

Ketika kita membiarkan saudara kita bergelimang dalam air mata dibalut penderitaan, ingat! Ada kekuatan lain yang mengatur hidup kita. Perhitungan Tuhan jauh lebih sempurna, tidak tertutup kemungkinan, Tuhan akan memberikan kita nasib yang sama dengan mereka yang miskin.

Bantulah saudaramu yang dibalut penderitaan, apalagi saat negeri ini sedang mengalami prahara. Derita dan air mata mereka, adalah bagian duka kita. Semuanya kita dalam musibah, namun ada yang lebih musibah lagi, yakni mereka yang hidup dalam garis kemiskinan.

Mengharapkan bantuan pemerintah sesuai dengan amanat undang-undang, dalam waktu dekat, saat krisis ini, bukanlah solusi yang terbaik. Prosesnya akan panjang dan membutuhkan waktu (itu juga bila ada).

Namun keadaan saudara kita yang hidup dalam garis kemiskinan, mereka setiap waktu dihantui dengan perut keroncong. Tegakah kita membiarkan mereka, terancam mati karena kelaparan. Tanya pada hati kita, masih manusiakah kita?


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda