Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Kolom / Ibnu Khaldun: Dari Bau Busuk hingga Asabiyyah Diniyyah

Ibnu Khaldun: Dari Bau Busuk hingga Asabiyyah Diniyyah

Selasa, 17 Februari 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bisma Yadhi Putra

Bisma Yadhi Putra, peneliti sosial dan sejarah. [Foto: dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Ibnu Khaldun memperoleh berbagai julukan manis dari pembaca karyanya yang amat tebal: Mukaddimah. Kitab -- yang terbit pertama tahun 1377 -- ini amat masyhur, padahal Khaldun memaksudkannya sebagai suatu prolog atas karya utama yang tengah dikerjakannya. 

Berkat Mukaddimah, lakab apresiatif yang disematkan pada profil Khaldun bermacam-macam karena buku itu membahas macam-macam pengetahuan. Para cendekiawan Muslim yang menggemari geografi menjuluki Khaldun sebagai “ahli geografi Islam”. Yang menekuni sejarah menyebutnya sebagai “sejarawan Muslim terbesar”. Yang menggeluti ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, menamainya sebagai “bapak sosiologi”. Ada pula ahli statistik yang melakabnya sebagai “pakar demografi”.

Kenyataannya, Mukaddimah dibaca banyak orang dari pelbagai disiplin ilmu karena buku ini berisi pengetahuan yang tak tunggal atau terfokus pada satu bidang keilmuan saja. Dapat dikatakan, Mukaddimah adalah karya gado-gado. Isinya mencakup ilmu politik, sejarah, ilmu ekonomi, geografi, pedologi (ilmu tanah), tata ruang kota, aerologi, seni, sastra, juga sosiologi.

Artinya, meskipun dijuluki Bapak Sosiologi atau Bapak Sosiologi Islam, Khaldun bukan ilmuwan yang membatasi konsentrasinya hanya di sosiologi. Mukaddimah adalah karya besar yang menampilkan Khaldun sebagai ulama yang dapat berdiri di berbagai panggung akademis. Khaldun bukan spesialis satu atau dua bidang kajian; dia bukan cuma sosiolog, bukan cuma sejarawan, bukan cuma geograf.

Karakter tersebut selaras dengan semangat keilmuan yang dihidupkan para cendekiawan Islam di masa lalu. Ulama-ulama terdahulu tidak semata fokus mempelajari satu bidang kajian. Mereka tidak berusaha meraih spesialisasi tertentu. Mereka mempelajari banyak hal yang di dunia, mendalaminya, hingga menuliskannya. Berbeda dengan semangat ilmuwan Barat yang mengharuskan setiap orang berkonsentrasi atau mendalami satu-dua bidang ilmu saja, ilmuwan Islam membangun tradisi keilmuan di mana setiap Muslim hendaknya punya pengetahuan yang mendalam atas berbagai ilmu.

Dari tradisi ini, kelak lahir cendekiawan Muslim yang cakap di berbagai bidang. Setelah Khaldun, pada era modern, antara lain, muncul nama Muhammad Iqbal, cendekiawan Muslim asal Pakistan. Iqbal adalah agamawan. Iqbal adalah ahli filsafat. Iqbal adalah seniman. Iqbal adalah sastrawan. Iqbal adalah politikus dan pemikir politik. Di Aceh, sosok multipredikat begitu salah satunya ialah Ali Hasjmy. Dia ahli tauhid, fikih, penulis sastra, mediator, birokrat, ahli politik. Khaldun dan cendekiawan-cendekiawan Muslim lainnya menulis beragam isu, tema, atau kajian ilmiah.

Meskipun Mukaddimah bukan karya yang cuma berfokus pada satu disiplin ilmu, melainkan multidisiplin ilmu, setiap pengetahuan yang dibahas Khaldun tetap terasa memadai. Dia tak memperlakukan satu bidang ilmu dengan serius seraya menulis bidang ilmu lain secara alakadar. Semuanya ia gurat secara mendalam dan serius dan, tentu saja, sesuai dengan konteks Abad Pertengahan, masa di mana Khaldun menulis karya tersebut.

Jika para pembaca Mukaddimah adalah mahasiswa dan pengajar sosiologi yang ingin menulis pandangan kemasyarakatan Khaldun, maka yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi fragmen-fragmen narasi mengenai sosiologi yang diungkapkan Khaldun, memilahnya, lalu menarik benang merah untuk mempertalikan setiap fragmen atau dimensi sosiologi itu.

Dalam mengumpulkan bagian-bagian sosiologi dalam Mukaddimah, ada satu hal lain yang penting dipahami dalam konteks sosiologi modern yang kini telah memiliki banyak cabang konsentrasinya seperti sosiologi konflik, sosiologi keluarga, sosiologi perkotaan, atau sosiologi sastra. Untuk menemukan sosiologi Khaldun secara utuh, tak ada jalan lain selain membaca Mukaddimah secara utuh pula. Dalam kata lain, karya itu harus dibaca secara keseluruhan, bukan hanya bab-bab atau bagian tertentu yang bersifat sosiologis.

Pasalnya, aspek sosiologis dalam Mukaddimah menempel di seluruh bab, termasuk bab-bab yang tidak membahas soal kemasyarakatan. Sebagai contoh, pada bagian di mana Khaldun menguraikan masalah kelaparan terdapat pembahasan mengenai politik. Khaldun melihat fakta kelaparan yang dipicu oleh merosotnya pertanian akibat intrik serta kebijakan politik. Perebutan harta, pemberontakan, dan penerapan pajak yang menyiksa membuat masyarakat enggan bertani sehingga mereka kian sulit menciptakan ketahanan pangan bagi komunitas maupun keluarganya. Khaldun melihat politik bisa berpengaruh langsung pada isi perut setiap orang:

Contoh lain bisa kita temukan dalam bab bercorak sosiologi perkotaan yang diberi judul “Yang Harus Diperhatikan dalam Membangun Kota dan Akibatnya jika Hal Itu Diabaikan”. Dalam bab ini, Khaldun, antara lain, membahas masalah sirkulasi udara namun mengandung fragmen-fragmen sosiologis, yakni perihal pentingnya perkembangan volume penduduk di setiap permukiman.

Di bab itu, Khaldun memperingatkan pembacanya: “Di antara yang harus diperhatikan untuk menghindari berbagai musibah alam adalah kebersihan udara agar tidak timbul berbagai macam penyakit. Karena apabila udara berhenti dan tidak bergerak, maka akan berakibat buruk. Demikian juga bersebelahan dengan air yang rusak, lautan berbau busuk, atau ladang gembala yang buruk, maka bau busuk akan cepat menyebar lalu mengenai segala sesuatu yang berada di dekatnya. Akibatnya, akan cepat timbul penyakit pada hewan (sumber makanan penduduk) yang berada disana. Hal itu telah terbukti”. (2011: 616).

Pernyataan Khaldun itu dapat menjadi acuan untuk membangun tata ruang yang baik bagi kesejahteraan hidup masyarakat. Dalam sosiologi Khaldun, udara mendapatkan perhatian yang signifikan. Udara berbau busuk tercipta karena tidak ada pergerakan udara ke atas. Dampaknya, berkembanglah “demam bau busuk”, penyakit yang menyebar secara luas serta cepat, seperti yang pernah terjadi di kawasan Maghrib di Afrika.

Khaldun melihat pergerakan udara ke atas hanya akan terjadi kalau dalam suatu permukiman atau kota terdapat banyak penduduk. Dengan banyaknya penduduk, udara atau bau yang berada di sekitar tanah akan naik ke atas lalu disapu oleh hembusan angin. Sirkulasi udara ini membuat bau cepat hilang. Hal ini tak akan terjadi di kawasan berpenduduk jarang. Khaldun mengafirmasi penjelasan ini dengan pernyataan yang sangat meyakinkan: “Inilah satu-satunya penjelasan yang benar” (hlm. 618).

Di sisi sebaliknya, Khaldun juga memperingatkan pembaca Mukaddimah bahwa meningkatnya jumlah penduduk berarti meningkatnya pembangunan. Dan meningkatnya pembangunan juga bisa memicu tumbuhnya wabah. Pasalnya: “... banyaknya pembangunan yang membuat banyak hal bercampur, baik bau busuk maupun kelembaban yang berbahaya (hlm 540). Ketika semakin banyak orang menetap dalam suatu kawasan, limbah pun pasti meningkat jumlahnya. Tanpa manajemen penanganan limbah yang baik, hewan-hewan di kawasan tersebut paru-parunya akan terserang wabah. Wabah di paru-paru hewan bisa menjangkiti manusia di sekitar. Orang-orang menjadi demam, nyeri, lalu mati. Polusi udara akibat eskalasi pembangunan yang diuraikan Khaldun mendapatkan relevansinya dalam konteks terkini.

Dalam sosiologi Khaldun, salah satu komponen penting untuk mengatasi masalah publik adalah ‘asabiyyah diniyyah, yakni “solidaritas keagamaan”. Solidaritas ini dibentuk oleh iman yang terpatri dalam sanubari insan-insan yang menempati kawasan. Para insan yang beriman dan tahu cara mengatur ruang serta udara akan bergerak untuk mencegah dan menyelesaikan persoalan kesehatan yang ada. Tujuannya adalah keselamatan serta kesejahteraan bersama.

Dengan demikian, Mukaddimah menyajikan penjelasan sekaligus solusi teknis dalam sosiologi yang dihadirkannya. Khaldun membicarakan problem-problem umat sekaligus jalan keluar konkretnya. Alhasil, karya tebal ini masih cocok dibaca di masa sekarang, juga pasti berguna untuk kehidupan pada masa mendatang. [**]

Penulis: Bisma Yadhi Putra (Peneliti sosial dan sejarah)

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI