Beranda / Kolom / All Eyes on rafah: Ini Genosida dan Bukan Perang!

All Eyes on rafah: Ini Genosida dan Bukan Perang!

Minggu, 09 Juni 2024 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Wildia Ulfita Ladayani

Wildia Ulfita Ladayani, Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. [Foto: dok. pribadi untuk Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Pada hakikatnya peristiwa yang terjadi antara Palestina dan Israel bukan hal yang baru lagi dalam pembahasan, apalagi kini sudah pantas disebut sebagai genosida

Maka karena itu penting untuk mempelajari lebih mendalam tentang sejarah yang dilakukan Israel terhadap negara Palestina. Dr. Agustin Hanafi menekankan pentingnya membaca buku dan mempelajari sejarah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang konflik tersebut.

“Artinya kepedulian kita paling tidak dengan membaca sejarah, apa alasan konflik itu?” sebut Dr Agustin.

Dan pada tahun 1948 dimulai dengan peristiwa Nakba yang bisa dikatakan sebagai awal akar dari konflik Israel-Palestina dan masih berlanjut hingga hari ini dimana saat itu banyak dari mereka yang syahid, mengalami kekerasan dan bahkan diusir dari rumah mereka sendiri. Jadi selama 76 tahun dari dulu hingga sekarang sudah lebih dari 77 persen tanah Palestina dirampas oleh Israel.

Perang di Gaza Kini

Kemudian apa yang sebenarnya terjadi di Palestina, khususnya Gaza? Dimulai pada Oktober 2023 lalu hingga sekarang Mei 2024 yang diperkirakan telah berlangsung selama 7 bulan lamanya Israel telah melancarkan serangan yang tidak henti-hentinya dan mereka pada saat itu juga mengiming-imingi akan adanya safe zone yang mereka klaim bisa menjadi tempat perlindungan bagi rakyat Gaza dan sementara mereka menyerang tempat-tempat lain. 

Namun hal itu tidak benar, ketika rakyat telah berkumpul di safe zone saat itu juga mereka terus melancarkan serangan kepada warga Gaza di tempat itu.

Pada awalnya memang mereka menyuruh rakyat untuk berkumpul ke North Gaza, kemudian berpindah ke Kota Gaza, lalu ke Deir Al Balah, kemudian berpindah lagi ke Khan Yunis, dan berpindah ke Rafah yang menjadi tempat terakhir perlindungan rakyat Palestina. 

Jadi hampir 1.5 juta rakyat Palestina dilaporkan berlindung di Rafah dan ketika dipikirkan berapa banyaknya rakyat Palestina terpaksa untuk berjalan kaki dengan keadaan panasnya terik matahari dengan kelelahan dan juga kesakitan dari hari demi hari. Dan perlu diketahui bahwa Rafah ini hanya bisa menampung sebahagian kecil rakyat Palestina yang diperkirakan dari jumlah 1,5 juta hanya mampu menampung 275.000 orang.

Alasan selanjutnya yaitu mempertimbangkan data dari jumlah rakyat Palestina yang syahid, terluka dan tingkat kerusakan dan kehilangan yang terjadi, khususnya di Gaza selama 7 bulan belakangan ini, jadi didasarkan pada data yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan Palestina melalui Aljazeera.com pada 14 Mei 2024, bahwasanya menurut keterangan lebih dari 35.173 yang wafat, dan hampir setengah dari angka tersebut terdiri dari anak-anak yaitu mencapai 14.500 jiwa, 79.061 mengalami luka-luka, dan lebih dari 10.000 jiwa dinyatakan hilang dan perlu diketahui angka tersebut masih belum murni, karena pada nyatanya angka yang sebenarnya lebih tinggi korbannya dan angka ini makin bertambah hari demi hari.

Dan menurut keterangan Westbank dilaporkan bahwa ada 498 jiwa yang syahid dimana 124 dari angka tersebut terdiri dari anak-anak, dan 4.950 jiwa terluka.

Beranjak dari hal sebelumnya sudah semestinya, juga kita melihat dari data kemusnahan infrastruktur yang ada di Gaza dimana Israel telah memusnahkan rumah-rumah di Gaza, kemudahan komersial, sekolah, sumber air dan terakhir hampir semua pusat pengobatan (rumah sakit) dilumpuhkan.

Kemudian mereka memerintahkan untuk kembali pindah ke bagian safe zone selanjutnya, yaitu di Al-Mawasi dimana berdekatan dengan tepi pantai dan areanya juga tidak seluas yang dapat menampung banyak orang, Israel juga mengatakan bisa berpindah ke Khan Yunis tetapi jika dilihat kembali daerah Khan Yunis sudah mereka hancurkan tidak ada yang tersisa sama sekali. Begitu juga dengan sumber air tidak ada lagi di area tersebut dan ini sudah menjadi 7 atau 8 kali instruksi paksa dari mereka agar supaya rakyat Palestina pindah dan akhirnya mereka terpaksa berpindah dengan kondisi kelaparan, kesakitan, dan juga lelah dari hari demi hari dan tidak semua rakyat Palestina mampu berpindah ke Rafah. Ada sebahagian dari rakyat Palestina lebih kurang 250.000 jiwa yang berlindung di Utara Gaza.

Kemudian Gaza memiliki tiga jalur pemasukan bantuan satu terletak di bagian utara Gaza dan dua lagi di bagian Rafah, dan sekarang memang banyak negara-negara mencoba memberikan bantuan kepada rakyat Gaza tetapi masalahnya adalah penduduk Israel mencegat dan menghalang transportasi bantuan yang ingin masuk kesana dan mensabotase transportasi tersebut dengan cara membuang makanan, dan juga menginjak dan merusak serta meletakkan batubata di sepanjang jalur agar transportasi bantuan tidak bisa masuk ke area Rafah jadi banyak dari rakyat Palestina terjebak tanpa ada persediaan makanan layak, obat-obatan dan pakaian serta akses yang lainnya.

Dengan kata lain hari demi hari rakyat Palestina mengalami penderitaan, jadi apa sebenarnya yang terjadi sudah tampak dengan jelas bahwa itu bukan lagi sebuah peperangan melainkan genosida, dimana rakyat Palestina dengan kondisi kelaparan, kesakitan, kelelahan dengan tidak ada bantuan yang mudah masuk kesana dan mereka juga tidak tahu harus pergi kemana lagi.

Setelah mempelajari bagaimana sejarah Nakba dan apa yang sudah terjadi pada Oktober kemarin, dan tingkat kerusakan serta kekacauan di tanah Gaza sampai Rafah pada dasarnya banyak negara-negara yang sudah mendesak genjatan senjata, tetapi penolakan terjadi terus-menerus dan masih melakukan genjatan senjata ke Rafah walaupun mereka tahu Rafah adalah tempat perlindungan terakhir untuk rakyat Gaza.

“Konflik di Palestina seharusnya tidak terlepas dari peran berbagai pihak dalam mencari solusi, solidaritas internasional dan peran-peran negara Arab sangat penting namun ya kembali lagi bahwa hak veto PBB dipegang oleh Amerika,” ungkap Dr Agustin Hanafi.

Bagaimana kondisi seperti ini bisa dikatakan sebuah peperangan, sedangkan satu pihak dipenjara selama puluhan tahun tidak ada bantuan dan tidak ada akses ke dunia luar dan satu pihak lagi mendapatkan dana yang fantastis, dapat senjata modern dan mendapat dukungan dari negara-negara berpengaruh di dunia. 

Jadi sekarang ini satu dunia sudah mendesak agar terjadinya gencatan senjata terhadap Israel dan di seluruh belahan dunia seperti aksi protes turun jalan, kampanye baikot juga masih berlanjut supaya apa, agar dapat memberi tekanan kepada mereka yang sebahagian menyumbangkan dananya kepada aksi Israel.

“Israel itu sudah hilang rasa belaskasihnya, ya paling tidak kita tidak ke KFC, Mcdonald’s, Pizzahut atau produk pendukung lainnya,” ujar Dr Agustin Hanafi.

Bentuk bantuan dan dukungan yang bisa kita perjuangkan kepada rakyat Palestina dengan melakukan boikot produk-produk yang berafiliasi dengan Israel, menyumbangkan dana atau uang, dan jangan lupa berdoa untuk saudara Palestina kita. [**]

Penulis: Wildia Ulfita Ladayani (Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Keyword:


Editor :
Indri

kip
riset-JSI
Komentar Anda