Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Walau Pandemi Wisata Aceh “Menggiliat”

Walau Pandemi Wisata Aceh “Menggiliat”

Jum`at, 25 Desember 2020 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

pesona sabang di lihat dari udara. (foto/tripsabang.com)

Ujung barat Indonesia, saat natal dan tahun baru ini disesaki manusia. Hotel dan penginapan penuh. Sejumlah destinasi wisata udah ada yang memesan. Arus transportasi mulai ramai. Aceh tetap menjadi kunjungan wisata, walau negeri ini sedang dibaluti pandemi.

Lihatlah Sabang, liburan natal dan tahun baru 2021, manusia menyemut ke sana. Pemerintah Kota Sabang, menyebutkan rata-rata penginapan di wilayah Pulau Weh itu sudah full bookong alias penuh dipesan ribuan wisatawan.

Demikian juga dengan negeri dalam balutan awan, Takengon, Aceh Tengah tetap menjadi kunjungan wisatawan. Negeri dingin ini diramaikan dengan manusia yang ingin menikmati alam sambil berlibur. Demikian dengan sejumlah daerah lainya di Aceh, ramai dengan wisatawan.

Di Sabang misalnya, geliat kunjungan wisatawan itu di ahir tahun ini sangat terasa, dimana sebelumnya sepi karena pandemi corona. Menurut Faisal, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Sabang, Rata-rata penginapan di Sabang sudah penuh. Dalam seminggu ini kunjungan makin meningkat.

Disparbud Kota Sabang belum memiliki angka pasti lonjakan wisatawan itu. Namun, penginapan di kawasan perkotaan, destinasi wisata Iboih, pantai Gapang, Sumur Tiga dan beberapa tempat lain sudah ada pemesannya. Perkiraan kasar sekitar 3 ribu hingga 4 ribu lonjakan wisatawan dalam seminggu ini,” kata Faisal.

Menurut Faisal, walau di COVID-19, Pemko Sabang tetap membuka destinasi wisata. Pulau paling ujung barat Indonesia kini mulai dibanjiri dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Bagaimana dengan Prokes saat menghadapi pandemic? Kekhawatiran lonjakan kasus virus corona tetap ada, sebut Faisal. Pemko Sabang akan memperketat pengawasan, menerapkan protokol Kesehatan. Akan dilakukan pemindaian suhu tubuh hingga razia protokol kesehatan di setiap tempat wisata.

“Kekhawatiran tetap ada, tindakan pencegahan tetap kita lakukan seperti pengukuran suhu tubuh penumpang di Pelabuhan Ulee Lheu dan Balohan, tetap melaksanakan protokol kesehatan, razia tempat wisata untuk memastikan protokol kesehatan tetap dipatuhi,” sebut Faisal kepada media.

Lonjakan wisatawan ke Sabang juga dibenarkan Kepala Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh Adrian. Dia menyebutkan penumpang kapal mulai meningkat menjelang libur akhir tahun pada 24-27 Desember 2020. Para penumpang dari pelabuhan Ulee Lheu menuju Pelabuhan Balohan Kota Sabang

Adrian kepada media menjelaskan, 7-13 Desember 2020 jumlah penumpang dari Banda Aceh menuju Sabang sebanyak 5.399 orang. Kemudian, mulai terlihat adanya lonjakan penumpang mulai 14-20 Desember 2020 yakni sebanyak 7.984 orang.

Menyikapi keadaan ini, menurut Ardian, pihaknya harus menambah kembali jadwal keberangkatan baik itu untuk kapal cepat maupun kapal lambat (feri) dari biasanya.

"Jadwal keberangkatan kapal lambat (normal dua kali) dan kapal cepat bertambah satu kali (normal empat kali) dalam satu hari," sebutnya, dan memperkirakan jumlah penumpang ke Sabang terus meningkat dalam liburan natal dan tahun baru.

Ekonomi

Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), Iskandar Zulkarnain, saat dihubungi Dialeksis.com, membenarkan perputaran ekonomi di Sabang dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mulai bergerak.

"Terjadi pergerakan ekonomi masyarakat di Sabang seperti rumah makan, jualan, tempat penginapan penuh, rental mobil juga laku, jumlah kapal penyeberangan juga meningkat jadi enam kali, kemudian mobil juga banyak antre di Ulee Lheue ke sabang," ujar Iskandar.

Ke depan, Kepala BPKS itu optimis pembangunan pariwisata utamanya di Aceh akan semakin baik dan terus terjadi peningkatan jumlah wisatawan yang nantinya berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian di Aceh.

"Insya Allah semuanya akan kita wujudkan. Kami mohon dukungan masyarakat, pemerintah kota, pemerintah provinsi dan semua yang terlibat, termasuk pemerintah pusat," ujar Iskandar.

"Dan mudah-mudahan melalui Omnibuslaw yang ditergetkan akan berlaku pada Februari 2021 nanti, bisa menguntungkan Sabang," sebutnya.

Walau negeri ini sedang dilanda corona, ternyata di Sabang tidak terlalu sepi wsiatawan, walau angkanya jauh menurun bila dibandingkan sebelum pandemic corona. Pemko Sabang mencatat sebanyak 85.726 orang wisatawan berkunjung ke wilayah Pulau Weh. Data tersebut merupakan data Agustus 2020.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sabang, Faisal, menjelaskan, kunjungan wisatawan ke Sabang jauh mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sangat menurun, karena Sabang sempat lockdwon juga, sehingga enggak ada wisatawan yang bisa masuk ke Sabang," kata Faisal.

Faisal merincikan, pada 2019 kunjungan wisatawan di Sabang mencapai 620.694 orang, terhitung data mulai dari Januari hingga Desember, yang meliputi 589.244 wisnus dan 31.450 wisman.

Memasuki Januari 2020 jumlah wisnus ke Sabang mencapai 34.682 orang, sedangkan wisman 2.142 orang. Pada Februari, wisnus 23.815 orang dan wisman 1.653 orang, kemudian pada Maret kunjungan wisnus 7.964 orang dan wisman 1.198 orang.

Pada bulan April dan Mei tidak ada wisatawan yang berkunjung ke Sabang. Sementara pada Juni sebanyak 3.980 wisnus dan dua orang wisman. Selanjutnya pada Juli 4.354 wisnus dan enam orang wisman serta pada Agustus 5.926 wisnus dan empat orang wisman.

Di bulan Sepetember, Oktober dan November 2020 masih dalam pendataan pihak Disparbud Kota Sabang, jelas Faisal.

Investasi 

Di penghujung tahun 2020 ini, ada harapan baru dalam sektor wisata. Gubernur Aceh Nova Iriansyah membahas tindak lanjut terkait investasi Uni Emirat Arab (UEA) pada sektor pariwisata di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

Pembahasan itu ia lakukan bersama dengan Excecutive Director Murban Energy, Amine Abid di Meuligo Gubernur Aceh, Rabu (23/12/2020).

"Saya harap melalu investasi ini bisa memberikan multiplier effect bagi kita, selain menguntungkan investor, tapi juga memberikan manfaat bagi kemakmuran Aceh khusunya masyarakat setempat," kata Nova.

Menurut Nova, terkait persoalan lahan di Pulau Banyak. Pihak investor tidak perlu khawatir, sebab hampir keseluruhan wilayah di pulau indah tersebut merupakan milik Pemerintah Aceh, sehingga untuk soal pembebasan lahan sudah terselesaikan.

"Permasalahan tanah sudah diselesaikan. Kini dengan regulasi baru investor sudah bisa memperoleh perizinan lahan hingga 30 tahun dan bisa diperpajang hingga 20 tahun. Sehingga pihak investor bisa mendapat izin usaha hingga 50 tahun lamanya," sebut Nova.

Nova berharap, investasi antara Pemerintah Aceh dengan UEA di bidang pariwisata dapat direalisasikan secepat mungkin. Sehingga, jika masih terdapat kendala dapat segera diselesaikan secepat mungkin dengan pihak terkait.

Bukan hanya itu, Nova juga menawarkan potensi investasi lainya, salah satunya terkait kopi arabika Gayo. Kopi Gayo merupakan varietas kopi arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan dari Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah. Kopi arabika Gayo merupakan kopi dengan kualitas terbaik di level dunia.

"Tapi kita selesaikan satu-satu dahulu, semoga ini bisa berjalan dengan baik," ujar Nova.

Sebelumnya, Excecutive Director Murban Energy, Amine Abid, mengaku telah mengunjungi Pulau Banyak pada Senin (21/12/2020). Kedatanganya untuk melihat secara langsung potensi pariwisata yang ada di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

Amine mengaku, sangat terkesan dengan kondisi pulau-pulau kecil yang ada di gugusan Pulau Banyak. Ia mengatakan, spot-spot di Pulau Banyak sangat bagus. Namun, masih banyak pulau-pulau kecil lain yang belum dimanfaatkan oleh pemerintah, padahal di sana sangat menarik untuk dikembangkan perhotelan maupun restoran.

Ia juga mengungkapkan, lahan yang mereka butuhkan adalah wilayah yang tidak terlalu besar namun jauh dari pulau lainnya dan memiliki hamparan pasir putih yang elok untuk dikembangkan sebagai resort.

Rencananya, pihaknya akan membangun resort dengan konsep penginapan di atas laut seperti yang ada Maldives. Maka itu, nantinya kunjungan tersebut akan ia laporkan kembali ke perusahaan, untuk dilakukan analisis teknikal dan financial sebagai tindak untuk menentukan industri yang paling cocok dikembangkan.

Mereka juga meminta kepada Pemerintah Aceh, untuk menyegerakan pembangunan infrastruktur di daerah tersebut, karena menurut mereka Pulau Banyak masih sangat terbatas infrastruktur.

Apa Kabar Pariwsiata Aceh?

J Kamal Firsa juga tidak ketinggalan dalam mengupas persoalan pariwisata di Aceh. Dalam tulisanya yang panjang, dimuat Dialeksis.com, penasihat hukum dan penikmat wisata ini, mengupas secara mendetil tentang pariwisata Aceh.

Apa kabar pariwsiata Aceh? Tanya J Kamal, selain membahas tentang potensi wisata Aceh yang cukup melimpah, di seluruh wilayah Aceh, lelaki penasihat hukum teman juara ini juga mengupas pretasi wisata Aceh, dana yang besar tapi tidak sejahtera, Kamal juga memberikan solusi.

Sekilas ini gambaran sudut pandang J Kamal Firsa tentang wisata Aceh, penulis tidak lagi menguraikan soal potensi yang disebutkan Kamal, namun lihatlah bagaimana dia menilai prestasi wisata, dana yang besar tapi kesejahtraan kecil, serta solusi dalam mengembangkan wisata.

Dimata J Kamal Firsa, Aceh memiliki uang yang banyak, dan kekuasaan yang besar dan otonom untuk dapat memanfaatkan seluruh potensi menjadi penghasilan daerah. Tetapi apa hasil yang kita peroleh dari kucuran dana-dana yang besar itu? Tak ada, karena sampai sekarang Aceh masih berstatus daerah termiskin di Indonesia.

Aceh, selain memiliki jumlah dana dalam bentuk APBA, APBK, Dana Otonomi Khusus, Dana APBN, dan dana perimbangan pusat-daerah, juga memiliki jumlah dana desa yang sangat besar.

Pemerintah sudah menyalurkan dana desa di Aceh selama 4 tahun (2015 - 2018) terakhir mencapai Rp 14,8 triliun. Ini menduduki ranking ketiga besar nasional, setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kamal mencontohkan, kalau kita belajar dari Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali. Desa ini adalah desa termiskin di Bali. Lingkungan geografis desa tandus, yang terletak di pinggir pantai dan dikelilingi gunung dan batu karang menjadikan masyarakat setempat mulanya banyak menekuni profesi nelayan dan petani dengan hasil yang minim.

Namun mereka berhasil keluar dari jerat kemiskinan setelah memanfaatkan dan mengelola dana desa yang diberikan pemerintah pusat sebanyak Rp 800.000.000. Presiden Jokowi memuji desa ini, yang pandai mengelola dana desa sehingga menjadi desa kaya.

Ini merupakan salah satu desa yang berhasil betul memanfaatkan dana desa untuk kesejahteraan masyarakatnya. Jadi, di Desa Kutuh ini konsentrasinya di sport tourism, misalnya menyewakan lapangan bola untuk latihan dan kompetisi (bertaraf) internasional, kata Jokowi saat berkunjung ke desa itu.

Desa Kutuh, dari kompetisi paralayang mampu menghasilkan uang Rp 800 juta dalm setahun. Untuk desa sendiri memiliki revenue per tahun Rp50 miliar.

Sepanjang tahun 2015 -2018, Desa Kutuh telah memanfaatkan dana desa untuk membangun sarana-sarana yang menunjang aktivitas ekonomi masyarakat, antara lain jalan desa sepanjang 957 meter, jembatan, pasar desa, BUMDes, tambatan perahu, embung, irigasi, dan sarana olahraga.

Bandingkan dengan Aceh, pinta J Kamal Firsa. Aceh pernah memenangkan World” Best Airport for Halal Travellers Tahun 2016 dan Bandara Sultan Iskandar Muda, dan dinobatkan sebagai International Airport dan World Best Halal Cultural Destination.

Aceh juga pernah berhasil meraih Peringkat Kedua sebagai Destinasi Wisata Halal Indonesia 2019 dari 5 Provinsi di Indonesia melalui standar Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2019 yang mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI).

Di tengah ketakutan para turis datang ke Aceh karena berbagai info miring yang mereka terima, Aceh malah masuk peringkat hebat sebagai destinasi wisata bertaraf nasional dan internasional.

Menurut J Kamal, penilaian IMTI itu mengadopsi 4 kriteria standar GMTI yang dikenal dengan sebutan ACES, meliputi: 1. Access (akses), 2. Communication (Komunikasi), 3. Environment (Lingkungan) , dan 4. Services (Pelayanan).

Masing-masing kriteria tersebut mengandung 3 komponen penting lainnya untuk menentukan sebuah daerah terpilih sebagai destinasi wisata halal nasional dan internasional.

J Kamal Firza menyayangkan, dia belum melihat adanya blue print tentang wisata Aceh, sebuah kerangka kerja terperinci sebagai landasan dalam pembuatan kebijakan dan tujuan wisata, sebuah gambar besar yang mampu menceritakan wisata Aceh.

Penasehat hukum ini juga mengulas sedikit tentang undang undang. Dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menjelaskan, pariwisata sebagai berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.

Sementara dalam Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2013, disebutkan, pariwisata adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata dan usaha lain berkaitan dengan kegiatan tersebut.

Undang-undang dan Qanun sudah ada, dan saya tidak membahas sekarang secara detail. Artinya, pemegang otoritas pariwisata Aceh sudah memiliki payung hukum dan landasan kuat untuk bekerja sangat maksimal.

Wabah yang melanda negeri ini, tidak selamanya menyeramkan. Buktinya denyut perekonomian dari sektor pariwisata sudah mulai menggeliat. Puncaknya di saat pandemic ini adalah saat liburan natal dan tahun baru.

Sabang misalnya, yang sempat sepi selama beberapa bulan lalu, kini diburu para wisatawan. Demikian dengan sejumlah obyek wisata lainya di seluruh kawasan Aceh, Gayo misalnya, kini sudah dibanjiri sejumlah wisatawan.

Aceh bertaburan dengan destinasi wisata, geliatnya sudah semakin terasa. Wabah corona bukan penghalang untuk menggerakan ekonomi dalam bidang pariwisata.Aturan protocol kesehatan diterapkan, perputaran ekonomi juga digelorakan.

Kita hidup dalam wabah, namun bagaimana menyiasati walau kita hidup dalam wabah, upaya mengerakan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup juga dilakukan. Kita tidak boleh berdiam diri, namun kita harus menghadapi tantangan ini. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda