Logo Dialeksis
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Listrik Aceh Masih Bertopang ke Medan

Listrik Aceh Masih Bertopang ke Medan

Minggu, 03 November 2019 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi: Petugas memperbaiki jaringan listrik. (Foto: PLN)


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pelayanan PT PLN (Persero) sering kali dikeluhkan warga di Provinsi Aceh, terutama warga Banda Aceh dan Aceh Besar.

Masalahnya, aliran listrik sering padam mendadak tanpa pemberitahuan. Sejak sepekan terakhir ini, listrik padam mendadak setiap malam.

"Hampir setiap malam mulai jam 23.30 WIB listrik mati, kadang juga hari, ini tanpa pemberitahuan," kata Mahdi Anwar (42) pedagang di Pasar Lambaro, Aceh Besar.

Pemadaman listrik yang terjadi selama ini sangat mengganggu ketentraman warga. Sebab, aliran listrik itu berpengaruh terhadap bisnis warga yang mengandalkan cahaya dan listrik.

“Tentu saya rugi kalau listrik padam, bisnis saya sangat terganggu, jalan keluarnya tentu saya harus menggunakan genset,” tambah Mahdi. 

Bukan hanya alat elektronik saja yang rusak, Mahdi mengaku, isntalasi listrik di ruko milik juga pernah rusak parah, hingga petugas PLN tak menolak memperbaiki dengan alasan yang rusak bukan meteran.

“Kerusakan instalasi ini bukan sengaja, tapi karena listrik sering mati, saya menghubungi pihak PLN melalui nomor layanan,” kata Mahdi.

Janji PLN yang memastikan tidak ada pemadaman listrik ternyata belum terpenuhi.

Buktinya, sejumlah pelanggan masih mengeluhkan pemadaman dalam beberapa hari terakhir ini. 

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Aceh Taqwaddin Husini mengatakan, laporan keluhan pelanggan terhadap pemadaman listrik masih saja ada setiap hari. Pelayanan dari perusahaan negara terutama saat pemadaman listrik.

“Laporan warga macam-macam, termasuk kerusakan akibat pemadaman listrik. Ada yang ditolak, kadang mereka harus mencari jasa diluar PLN untuk diperbaiki listrik di tempat mereka,” kata Taqwaddin Husin, saat dihubungi Dialeksis.com.

Beban puncak aliran listrik membengkak

PT PLN Wilayah Aceh mengelah beban puncak kebutuhan listrik di Provinsi Aceh membengkak mencapai 490 MW. 

Sementara yang tersedia aliran listrik hanya 300 MW, ini yang menyebabkan listrik di Aceh kerap terjadi pemadaman, kebutuhan tidak sesuai dengan aliran yang tersedia.

Untuk menutupi kebutuhan aliran listrik di Aceh terpaksa harus disuplai dari sistem Sumatera Barat sebesar 190 MW.

Pembangkit yang tersedia di PLTMG Arun sebesar 240 MW ternyata masih dalam rencana, akhir Desember 2019 baru bisa digunakan sebesar 50 MW.

“Tambahan pembangkit dari PLTMG Arun 2 (240 MW) direncanakan akan masuk sebagian ke sistem Aceh pada akhir desember 2019 sebesar 50 MW, sisanya akan masuk pada tahun 2020,” kata General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi kepada Dialeksis.com.

Tambahan pembangkit ini dari PLMG Arun 2 ini tidak melepaskan ketergantugan kebutuhan listrik Aceh dari Sumatera. 

Untuk melayani kebutuhan listrik di Provinsi Aceh, PLN perlu bekerja keras melakukan pemeliharaan jaringan dan pembangkit untuk bisa melayani pelanggan yang lebih baik. 

“PLN berusaha untuk memperbaiki pelayanan kepada pelanggan, PLN tetap memberikan yang terbaik untuk pelanggan di Aceh,” kata Jefri Rosiadi.

Aceh memiliki dua pembangkit listrik yang kapasitasnya bisa memenuhi kebutuhan aliran listrik. Namun dua pembangkit listrik yang seharusnya menjadi andalan tapi tetap mengecewakan.

Dua pembangkit listrik itu adalah PLMG Arun 2 dan PLTU Nagan Raya. Bila dua tambahan pembangkit listrik ini berfungsi dengan baik kapasitasnya bisa melebihi dari butuhan aliran listrik di Aceh.

Menurut Dosen Universitas Syiah Kuala Dr. Suriadi, S.T, sumber pembangkit tenaga listrik PLMG Arun dan PLTU Nagan Raya itu bisa berfungsi dengan baik memasok daya listrik yang lebih untuk kebutuhan Aceh, tapi masalahnya keandalan kedua pembangkit listrik itu sering kali terjadi gangguan, sehingga listrik di Aceh sering padam. 

“Persoalan pembangkit listrik kita keandalannya. Ketersediaanya sudah mencapai 60%, sebenarnya ini sudah cukup untuk kebutuhan kita,” kata Dr. Suriadi.

Diakui walau masih menggunakan sistem terkoneksi dengan Sumatera Utara tetap saja terjadi masalah listrik di Aceh.

“Wajar saja kalau listrik kita masih terjadi pemadaman, karena kita masih menerima suplai dari Sumatera Utara, kalau ada gangguan di satu titik pasti listrik mati semuanya di Aceh,” kata Dr. Suriadi.

Seharusnya kata Dr. Suriadi, dua pembangkit listrik yang dimiliki Aceh saat ini bisa melayani bila terjadi gangguan di salah satu titik. Khusus wilayah Timur bisa dibantu oleh PLMG Arun, tapi ini tidak terjadi.

“Kalau ada gangguan wilayah Timur tidak perlu ada pemadaman listrik sebab ada PLMG Arun, begitu juga bila terjadi ganggun di wilayah barat ada PLTU Naga Raya. Harus diakui secara teknis PLN kita belum maksimal.” ujar Dr. Suriadi.[]

Editor :
Zulkarnaini

Berita Terkait
    darwis jeunib
    pelantikan menteri nadiem
    Komentar Anda