Logo Dialeksis
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Gelar “Terhormat” di Gayo Berpindah Orang

Gelar “Terhormat” di Gayo Berpindah Orang

Rabu, 08 Mei 2019 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

DIALEKSIS.COM | Jabatan bukanlah harta warisan, apalagi jabatan itu didapatkan dengan sebuah pertarungan. Untuk mempertahankanya harus mengikuti pertarungan lagi. Tentunya semua pihak mempersiapkan diri demi meraih kemenangan dalam pertarungan.

Tidaklah heran bila sebelumnya seseorang mendapatkan gelar “terhormat” menjadi manusia pilihan, kini gelar itu harus ditanggalkan. Pileg 2019 ini mewarnai jatuh bangunya tokoh di Gayo Lut, Aceh Tengah Bener Meriah.

Ada cacatan sejarah baru. Mereka (satu keluarga) yang dulunya menjadi manusia terhormat, mendapatkan jabatan, kini harus melepaskanya karena direbut orang lain. Perputaran roda terjadi, tidak selamanya seseorang itu senantiasa diiringi dengan jabatan.

Catatan Dialeksis.com, keluarga Nasaruddin (mantan Bupati Aceh Tengah) misalnya, ketika Nasaruddin menjabat sebagai Bupati Aceh Tengah, abang kandungnya Beramsyah duduk sebagai wakil terhormat dari Golkar untuk DPR Aceh. Demikian dengan adiknya, Muhlis, mendapat gelar terhormat sebagai wakil rakyat di DPRK.

Namun dalam Pileg 2019 ini, tidak ada satupun dari mereka yang mendapat kesempatan yang sama, duduk sebagai wakil terhormat. Nas, mantan Bupati Aceh Tengah dalam Pilkada lalu menjadi pasangan Zaini Abdullah. Namun pasangan Irwandi- Nova yang unggul.

Kemudian Nas kembali memimpin partai, setelah dia meninggalkan Golkar, menjabat sebagai ketua Partai Berkarya untuk provinsi Aceh. Namun diperjalanan, Nas meninggalkan partai ini dan bergabung dengan partai Gerindra, mengadu nasib bersama TA Khalid untuk DPR RI.

Adiknya, Muhlis, juga ikut bersama Nas, bukan lagi mengayuh perahu Demokrat untuk DPRK, namun mempergunakan bendera Gerindra. Baik Nas dan Muhlis, kalah suara dengan teman dalam satu partai. Nas kalah suara dengan TA Khalid, sementara Muhlis, kalah suara dengan Eka Saputra.

Beramsyah tidak lagi meramaikan dunia politik pada Pileg 2019 ini. Partai pohon beringin  lima tahun lalu diemban oleh Beramsyah, kali ini giliran Hendra Budian mewakili Gayo ke DPRA.

Bagaimana dengan Tagore AB, abangnya Shabela Bupati Aceh Tengah? Tokoh PDIP tidak lagi bertengger di Senayan untuk kedua kalinya. Walau untuk Aceh Tengah, PDIP melaju pesat, mampu menambah dua kursi dari tiga kursi sebelumnya. Namun di Bener Meriah, suara PDIP turun dibandingkan lima tahun lalu.

Ketua dewan di Bener Meriah beralih dari PDIP ke Golkar. Berbalik dengan Aceh Tengah, ketua dewan sebelumnya diraih Golkar, kali ini PDIP yang memimpin. PDIP di Gayo Lut ini (Aceh Tengah- Bener Meriah) juga mampu mengantarkan seorang Calegnya ke DPRA (Muhammad Ridwan).

Namun mereka gagal mengantarkan untuk kedua kalinya tokoh PDIP ke Senayan. Tagore hanya menyisakan tugasnya sebagai wakil rakyat di DPR RI, sampai dengan habis masa jabatanya. Suara rakyat di Gayo Lut terpecah antara Tagore, Nasaruddin dan Syukur Kobath.

Demikian dengan anak kandung Tagore yang mencalonkan diri melalui PDIP untuk Dapil 1 DPRK Aceh Tengah. Rahmiati Putri Tagore, kalah suara dengan rekan separtainya Ichwan Mulyadi.

Selain keluarga Nas, dan Tagore, ada juga keluarga Zulfikar- Sirajuddin yang kandas dalam Pileg kali ini. Zulfikar dan adiknya Sirajuddin, sebelumnya sama sama duduk di DPRK Aceh Tengah dari Dapil yang sama, namun berbeda partai. Zulfikar mengayuh perahu Gerindra dan Sirajuddin mempergunakan perahu PAN.

Namun diperjalanan Fikar mundur dari dewan, karena maju dalam pertarungan Pilkada menjadi pasangan Khairul Asmara. Pasangan Cabub dan Cawabup ini kalah dengan pasangan Shafda yang kini memimpin Aceh Tengah.

Pada pertarungan Pileg 2019 ini, Fikar mempergunakan perahu Nasdem di Dapil 1. Adiknya (Sukri ) ikut meramaikan Dapil yang sama. Sementara adik Fikar yang lain, dimana mereka dulu sama sama duduk di DPRK (Sirajuddin), memilih maju menjadi Caleg DPRA dari PAN, satu partai dengan Sukri.

Namun ketiga tiganya belum bernasib baik, tidak ada yang duduk sebagai wakil terhormat. Bahkan PAN untuk Aceh Tengah pada Pileg 2019 harus kehilangan dua kursi di DPRK, dari empat kursi pada lima tahun yang lalu.

Nasib yang sama juga dialami khairul Asmara mantan wakil bupati ini menjadi Cawabup pada Pilkada lalu berpasangan dengan Zulfikar. Khairul Asmara mengadu peruntungan menumpangi partai NasDem untuk Dapil 3 Aceh Tengah. Namun partai yang diusung Khairul kalah di Dapil ini.

Demikian dengan Alamsyah pada Pilkada lalu berpasangan dengan Anda Suhada. Alamsyah maju sebagai wakil Gayo di DPR Aceh dari PKB. Namun Alamsyah kalah suara saat dilakukan pembagian setelah PKB mendapatkan satu kursi ke DPRA. Suara PKB untuk kursi kedua kalah tipis dari PDIP.

Pasangan lainya yang bertarung dalam Pilkada tahun lalu, dewi portuna berpihak kepadanya. Muhsin Hasan yang dalam Pilkada lalu berpasangan dengan M. Taupiq, keduanya menjadi wakil rakyat.

Muhsin kembali ke DPRK Aceh Tengah dari Golkar dan Taupiq melenggang ke DPR Aceh mempergunakan perahu Gerindra.Kali ini Muhsin Hasan akan ditemani abang iparnya, Muhlis, juga dari Golkar, untuk sama sama duduk di dewan.

DPRK Aceh Tengah banyak dihiasi wajah baru. Bahkan ketua Demokrat di sana, Ismail Aman Nir yang sudah dua priode “duduk manis” di DPRK, kali ini harus tersingkir. Demikian dengan Amiruddin dari Demokrat, kali ini harus mengakui teman separtainya yang duduk di DPRK. Demokrat kehilangan satu kursi di DPRK Aceh Tengah.

Nasib baik dialami Sukurdi Iska, dia berpindah dari PDIP ke Demokrat untuk dapil IV Aceh Tengah.Sukurdi kembali ke DPRK namun tidak lagi membawa bendera PDIP.

Sejarah sudah diukir oleh pemain politik di Gayo, ada masa keemasan, ada masa suram. Ibarat roda yang selalu berputar, tidak selamanya berada di atas. Semuanya sudah diatur Tuhan agar manusia dapat mengambil pelajaran. Bahtiar Gayo


Editor :
Redaksi

darwis jeunib
pelantikan menteri nadiem
Komentar Anda