DIALEKSIS.COM | Indepth - Aceh Tengah berduka. Terkurung diantara musibah diseluruh wilayah. 21 jiwa meninggal dan 23 lagi dinyatakan hilang. Seribuan rumah hancur (data terus terupdate). Puluhan kenderaan tertimbun, ratusan hektar perkebunan dan sawah sumber hidup masyarakat disapu banjir.
Ada beberapa kawasan yang masih terisolir, bukan hanya informasi, namun akses. Belum diketahui bagaimana masyarakat yang terhimpit diantara himpitan musibah ini bertahan hidup.
Kawasan Kecamatan Linge misalnya, sampai kini masih ada beberapa kampung yang belum diketahui nasib masyarakatnya. Akses dari dan ke Linge putus total, sementara komunikasi hilang. Dampaknya ada masyarakat yang terpaksa berjalan kaki selama dua hari untuk menyampaikan informasi ke posko musibah.
Kondisi masyarakat Aceh Tengah yang dikepung musibah diseluruh penjuru kecamatan ini, Minggu (30/11/2025) warga di seputaran kota Takengon sudah kesulitan mendapatkan beras. Toko kelontong yang selama ini menjual beras sudah kehabisan stok.
Harga melambung tinggi, untuk telur saja pada Sabtu (29/11/2025) ada yang nekat menjual mencapai Rp 80 ribu perpapan. Minyak pertalit sangat langka, bahkan di masyarakat yang menjual eceran harganya ada yang mencapai Rp 25 perliter.
Musibah banjir dan longsor melanda Aceh Tengah yang tersebar diseluruh kecamatan, telah meluluhlantakan perumahan penduduk, pemukiman dan sumber penghidupan masyarakat. Titik longsornya ratusan tersebar diseluruh kecamatan.
Diperkirakan ribuan perumahan penduduk yang terkena amukan alam ini. Data valid di BPBD dan Posko Kodim 0106 yang senantisa terupdate belum seluruhnya mampu mendata kondisi musibah secara ril. Medan yang masih berat ditembus, membuat data musibah ini senantiasa mengalami perkembangan.
Pemda Aceh Tengah bersama unsur terakit, bekerja ekstra keras untuk memberikan masa panic kepada korban diseluruh kawasan yang terkena musibah.
Dari data yang berhasil Dialeksis.com rangkum di lapangan dan posko musibah, ada beberapa kawasan yang perkempunganya disabu longsor, banjir bandang dimana ada seratusan rumah penduduk yang hancur.
Terparah untuk kasawan kota Takengon, terjadi dikampung Mendale Kacamatan Kebayakan, 100 rumah diterjang banjir bandang. Di Linge, kawasan Lumut juga 100 unit rumah hancur 22 ha sawah terendam. Di Kampung Umang juga mengalami nasip yang sama 100 unit rumah hancur, akses jalan terputus.
Di Celala juga mengalami derita pahit, 100 rumah disana disapu banjir. Di Linge 30 unit rumah. Bale Kejurun Nosar Kecamatan Bintang, 70 unit rumah. Kelitu 20, Konyel, 15, Sintep 15, sementara Kala Segi yang termasuk rusak parah sampai kini datanya belum diketahui berapa unit rumah yang hancur di sapu banjir, demikian dengan Gegarang.
Untuk kecamatan Lut Tawar; Dedalu 7 unit, Asir Asir 7n unit rumah, Pedemun 12 unit rumah, sementara desa Toweren, datanya belum terhimpun. Dikabar kawasan ini juga mengalami musibah yang parah.
Seluruh kecamatan di wilayah negeri penghasil kopi ini memiliki daftar korban yang rumah dan harta kekayaanya terkena musibah.
Kawaan Kecamatan Ketol, Celala, Pegasing juga mengalami musibah besar dibeberapa titik.Kute Panang, Kecamatan Rusip Antara dan Jagong serta Atu Lintang juga tidak luput dari musibah.
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga yang setiap saat memantau perkembangan dan mengerahkan satuanya untuk bergerak menyalurkan bantuan, membuka akses jalan, serta membantu mengatasi persoalan masyarakat, masih dihadapkan dengan sejumlah persoalan karena hingga hari kelima akses jalan masih banyak dibeberapa titik yang terputus, sehingga mengakibatkan masyarakat terisolir.
Danau Lut Tawar
Selain komunikasi yang putus total, semua aktifitas terhenti akibat listrik padam sudah sepekan. Ditambah lagi sulitnya mendapatkan BBM, sembako yang menipis dan harganya melambung, telah mengakibatkan masyarakat yang mengalami musibah diseluruh kawasan Aceh Tengah benar benar menderita.
Warga Kecamatan Bintang misalnya, harus kembali ke masa jaman menggunakan perahu atau kapal bila untuk ke Takengon dan kembali ke Bintang. Kawasan ini dilanda musibah, namun masyarakatnya lebih memilih mengungsi di seputaran Bintang, mereka tidak ke Takengon.
Warga Kecamatan Bintang terkurung, karena akses jalan di kiri dan kanan Danau Lut Tawar dipenuhi timbunan longsor dan material yang cukup banyak di puluhan lokasi.
Jalan Bintang ini menuju Linge dan Gayo Luwes, kondisinya parah. Dampaknya masyarakat di Linge juga terisolir dan belum diketahui dengan pasti bagaimana kondisi mereka, walau sebagian lagi sudah terjangkau dan mendapatkan bantuan darurat.
Hingga berita ini diturunkan, untuk kawasan seputran kota Takengon terlihat masyarakat antri panjang di SPBU yang BBM nya tidak dalam kepastian. Hubungan Aceh Tengah dengan dunia luar terputus.
Listrik padam, menjadi pemandangan baru di area yang memiliki ginset, warga beramai ramai untuk mengecas HP. Sementara bank juga terlihat antrian panjang, bahkan di ATM masyarakat rela berpanas-panasan untuk menarik uang atau keperluan lainya.
Hanya ada Bank Aceh yang berfungsi, sementara BSI yang diharapkan masyarakat dapat membantu dalam suasana musibah ini, sampai dengan Minggu (30/11/2025) belum berfungsi.
Masyarakat juga terlihat lalulintang membawa jeregen untuk mendapatkan air bersih. Selain itu sungai pesangan kini dijadikan tempat berkumpul, dimana kaum bapak dan kaum ibu ramai ramai membawa pakaian untuk dicuci, bahkan banyak diantara mereka yang mandi disana.
Cuaca sudah cerah selama tiga hari ini. Namun kepanikan masyarakat untuk mendapatakan BBM, gal elpiji, air bersih, kebutuhan pokok, sudah mulai menjadi pemandangan baru. Tidak jarang juga di seputaran kota banyak sepeda motor yang didorong karena kehabisan minyak.
Belum diketahui dengan pasti kapan listrik akan menyala, kapan BBM akan dipasok untuk Aceh Tengah, dimana saat ini antrian panjang mengular. Bagaimana dengan kebutuhan sembako, apakah akan langka? Karena akses dari dan ke Aceh Tengah masih terputus.