Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Gaya Hidup / Pengusaha Masih Ragu Garap Bisnis Halal

Pengusaha Masih Ragu Garap Bisnis Halal

Sabtu, 10 Agustus 2019 16:24 WIB

Ilustrasi pasar produk halal. [FOTO: Republika]

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Potensi industri halal di Indonesia sangat besar. Tapi, saat ini, belum semua pengusaha menggarap sektor tersebut secara serius. 

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) Sapta Nirwandar menilai, hal itu karena masih banyak pengusaha, khususnya di Jakarta yang masih ragu jalankan bisnis halal. 

"Alasannya, mereka takut tidak laku, padahal pasar bisnis halal tidak hanya Muslim, tapi juga non- Muslim," tegasnya saat berkunjung ke kantor harian Republika di Jakarta, pekan lalu.

Jumlah hotel bersertifikat halal di Jakarta saja, kata dia, belum banyak. Bahkan, sampai sekarang, belum ada hotel halal yang berbintang lima.

"Hotel halal yang kita kenal sejak dulu hanya Hotel Sofyan. Padahal, di Malaysia, Singapura, dan Thailand sudah ada," lanjut Sapta, seperti dilansir Republika, Sabtu (10/8/2019).

Ia berharap, industri halal, terutama pariwisata halal bisa makin maju. "Maka, restoran dan hotel bersertifikat halal harus semakin banyak, karena tidak bisa kalau hanya salah satunya, harus keduanya," jelas dia.

Sapta menambahkan, kini industri halal di Tanah Air didorong melakukan ekspor. Ia percaya, Indonesia bisa melakukannya.

"Kita punya misi dorong ekspor. Agar itu terwujud, perlu ada sinergi karena di Indonesia yang susah itu sinergi," ujar dia.

Dia menyebutkan, ada enam sektor halal Indonesia yang bisa diandalkan dan berpotensi ekspor. Di antaranya, makanan, baik dari hulu maupun hilir. Selanjutnya fashion, termasuk alat shalat.

"Ini sangat besar, di Indonesia segala macam model hijab ada, mukena paling mahal juga adanya di In donesia yang harganya mencapai Rp 9 juta," kata Sapta.

Berikutnya, yakni sektor wisata halal. Lalu, ko mestik dan farmasi. "Kita bisa ekspor, tapi kalau ke negara maju akan susah saingannya. Jadi, kita bisa sasar negara OIC (organization of Islamic Conference)," tutur dia.

Sebagai langkah awal, kata Sapta, Indonesia bisa mengekspor produk halal berupa bahan mentah. Misalnya kopi, teh, minyak, dan ikan.

Ketua Indonesia Saudi Arabia Business Council M Hasan Gaido menilai, bukan tidak mungkin nantinya Indonesia bisa menjadi pemimpin pasar halal di dunia.

"Misalnya, ada sebagian orang Baduy yang tetap nyaman tinggal di hutan, namun yang keluar dari Baduy justru berkarier menjadi polisi," tuturnya pada kesempatan serupa.

Jadi, baginya, semua pihak perlu bekerja sama untuk mewujudkannya. "Ini kewajiban kita untuk menyampaikan. Berjamaah dalam kebaikan," tambah dia.(Republika)


Editor :
Makmur Emnur

Komentar Anda