Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Cerpen Agusni AH: Penunggu Ombak

Cerpen Agusni AH: Penunggu Ombak

Jum`at, 01 Mei 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Agusni AH

Ilustrasi cerpen Agusni AH berjudul Penunggu Ombak. Foto: desain AI


DIALEKSIS.COM | Cerpen - Agusni AH, dalam beberapa waktu terakhir, tampak kembali menyapa kebiasaan lamanya sebuah kebiasaan yang dulu pernah menjadi rumah bagi imajinasi dan kegelisahannya. Jika sebelumnya ia tenggelam dalam dunia puisi merangkai rindu, kehilangan, dan doa dalam larik-larik lirih yang seolah bergaung dari ruang kosmik kini ia perlahan beralih, menapaki kembali dunia cerpen dengan langkah yang lebih tenang dan matang.

Menulis cerpen bukanlah wilayah asing baginya. Justru di sanalah denyut awal perjalanan kreativitasnya bersemi, sejak masa SMA hingga bangku perguruan tinggi. Pada periode itu, ia akrab dengan upaya menarasikan kehidupan dalam bentuk kisah menghidupkan tokoh-tokoh sederhana, merajut alur, dan menyulam peristiwa menjadi cerita yang utuh dan bermakna.

Kini, setelah sekian lama berdiam dalam puisi, kembalinya ia ke cerpen terasa seperti perjalanan pulang yang sunyi namun penuh makna. Ia tidak sekadar mengulang jejak lama, melainkan menghadirkan kembali dunia cerita dengan kedalaman rasa yang telah ditempa oleh waktu, pengalaman, dan perenungan panjang. Jika dahulu cerpennya mungkin tumbuh dari kegairahan muda yang spontan, kini narasinya hadir lebih lirih, lebih reflektif, dan menyimpan lapisan emosi yang lebih dalam.

Barangkali, ini memang bukan sekadar kembali.

Melainkan sebuah pulang ke akar yang sejak awal membentuknya sebagai penulis dan jurnalis. Sebuah pulang yang tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga pemaknaan baru atas perjalanan kreatif yang telah dilaluinya.

Seperti halnya jejak batin yang mengalir dalam cerpen berjudul “Penunggu Ombak” berikut ini sebuah kisah yang tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak pembaca menyelami sunyi, menafsir rindu, dan mendengarkan bisik waktu yang bergulung bersama ombak.

PENUNGGU OMBAK

_______

Cerpen: Agusni AH (Ketua KIP Aceh)

ANGIN sepoi menerpa daratan, seakan mengajak alam untuk menikmatinya. Bagai halnya lelaki tua itu kembali ke laut tanpa membawa apa pun selain kenangan yang tak pernah benar-benar selesai. Menjadikan orang-orang kampung nelayan memanggilnya Penunggu Ombak, seolah ia bukan lagi manusia, melainkan bagian dari laut itu sendiri. Sesuatu yang datang dan pergi tanpa pernah benar-benar bisa utuh dimiliki. Dan, memang demikian adanya dunia.

Dulu ia adalah nama yang akrab di halaman depan koran. Ia pernah hidup dalam tiga zaman. Zaman mesin ketik yang berisik seperti hujan di atap seng, zaman komputer yang dingin dan teratur, hingga zaman layar sentuh yang serba instan dan serba manja. Ia menulis tentang perang, tentang politik, tentang manusia-manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Ia mewartakan peritiwa penuh keyakinan bahwa kata-kata bisa mengubah dunia.

Namun, dunia tak pernah benar-benar berubah. Bahkan semakin kacau, kian meracau sesuka hati.

Ia lahir di antara ombak dan gelombang di kampung nelayan yang sederhana. Dimana ombak menjadi jam dan angin menjadi penanda musim. Masa kecilnya adalah laut yang melebur, jaring yang dijemur, dan jala sebagai modalnya. Tak ayal tawa ringan tanpa beban, tanpa harus bicara penuh retorika, tanpa harus meyakinkan siapa-siapa. Semuanya mengalir bagai semilir yang selalu menyapa wajah-wajah nelayan di tempat kelahirannya.

Ia mengenal dunia pertama kali dari debur ombak ritmis, jujur, dan tak pernah berpura-pura.

Tapi, kemudian ia pergi.

Ia ingin tahu dunia yang lebih luas dari garis horizon yang membentang di bawah langit raya. Ia pergi karena percaya bahwa hidup tak cukup hanya dengan menunggu ikan dan musim. Ia pergi membawa mimpi, dan mimpi itu sempat membesarkannya.

Namanya dikenal. Tulisannya dikutip. Suaranya didengar.

Namun, semakin tinggi ia berdiri, semakin sunyi ia merasa.

Ia mulai sadar, ada sesuatu yang tertinggal di belakangnya. Sesuatu yang tak bisa ditulis dalam berita, tak bisa dijelaskan dalam tajuk rencana. Sesuatu yang sederhana, tapi tak bisa tergantikan. Adalah rasa pulang.

Keputusannya tanpa perayaan.

Ia meninggalkan ruang redaksi, meninggalkan nama yang telah dibangunnya bertahun-tahun. Tak ada resepsi atau serimoni, apalagi pidato perpisahan. Tak ada penjelasan panjang. Ia hanya risegn. Berhenti. Dan, ia pulang.

Walau tak sedikit orang-orang heran. Sebagian mencibir. Sebagian lainnya menganggapnya gila.

“Dari wartawan jadi nelayan?” 

Ia hanya tersenyum.

Mereka tak tahu, ia bukan menjadi nelayan sesungguhnya. Ia hanya kembali menjadi dirinya yang dulu.

Hari-harinya kini diisi dengan laut. Saban waktu ia menjalaninya. Ia berangkat sebelum fajar, ketika langit masih menyimpan sisa gelap. Ia melempar jaring, menunggu, menariknya kembali dengan tenaga yang tersisa. Kadang ia pulang membawa hasil, kadang dengan tangan hampa. Entah karena keiatiqamahannya dalam menerima apapun Keputusan Pencipta, entah pula ia sudah benar-benar gila. Tampak Ia merasa lebih hidup di antara ketidakpastian hidupnya itu.

Ia berbicara dengan ombak. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan diam yang panjang. Ombak tak pernah menjawab, tapi selalu mendengarkan.

Dan mungkin, baginya itu sudah lebih dari kata cukup.

Suatu sore, saat langit berwarna teja yang kemerah-merahan dan angin bertiup pelan, seorang anak muda datang menghampirinya di pantai itu.

“Pak…! Saya kenal Bapak. Bukankah selama ini sebagai wartawan ?”

Lelaki itu diam. Mematung.

“Saya belajar menulis dan terinspirasi menjadi jurnalis karena Bapak.”

Ia menoleh, menatap wajah pemuda itu penuh harap. 

“Kenapa Bapak tidak merespon saya ?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya terlalu berat untuk diucapkan.

Sebenarnya ia ingin berkata bahwa dunia terlalu bising, dramatisir dan terlalu banyak sandiwara. Bahwa kebenaran sering kali dikalahkan kepentingan. Bahwa kata-kata yang dulu ia yakini, perlahan kehilangan maknanya.

Tapi ia hanya berujar, “karena laut tidak pernah berbohong.”

Anak muda itu terdiam, tak sepenuhnya mengerti.

Dan lelaki itu tahu, tak semua hal perlu dipahami.

Malam itu, laut tampak lebih gelap dari biasanya. Seperti hari-harinya yang kelam, namun selalu tersulam bahagia.

Angin bertiup lebih keras, membawa suara yang seperti panggilan. Lelaki itu berdiri di tepi pantai, menatap ombak yang terus datang silih berganti. Tanpa lelah.

Ia teringat masa kecilnya.

Ia teringat Ibu-Ayahnya. Ia teringat semua anggota keluarganya. Penuh canda dan tawa di masa dulu.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar rindu.

Bukan pada kota. Bukan pada dunia yang pernah membesarkannya.

Tapi pada dirinya sendiri yang telah lama hilang. Terasing di tanah kelahirannya sendiri. Di pantai yang kini kian sepi. Di benak dan lubuk hati penuh sunyi. Perlahan ia melangkah ke air. Dengan langkah yang teratur, tubuhnya terus bergerak ke

air yang mulai mencapai lututnya, lalu pinggangnya. Ombak menyentuh tubuhnya seperti pelukan lama yang akhirnya kembali.

Tak sesiapa melihatnya malam itu.

Tak ada yang memanggil.

Ia berjalan lebih jauh, hingga tubuhnya hampir tenggelam.

Dan ketika ombak besar datang, ia tegar tanpa melawan.

Pagi harinya, beberapa nelayan hanya menemukan perahunya terombang-ambing tanpa arah.

Jaring dan jala tuanya kosong.

Namanya tak lagi disebut di koran.

Tak ada berita tentangnya.

Hanya ada cerita yang menyebar dari mulut ke mulut tentang seorang lelaki yang memilih kembali ke laut, dan akhirnya benar-benar menjadi bagian darinya yang abadi sebagai Penunggu Ombak hingga mati.*.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI