Logo Dialeksis
Beranda / Feature / Tewasnya Hakim Jamaluddin: 'Cinta Jadi Benci, Istri Akhiri Hidup Suami'

Tewasnya Hakim Jamaluddin: 'Cinta Jadi Benci, Istri Akhiri Hidup Suami'

Selasa, 14 Januari 2020 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +
Tersangka tewasnya hakim Jamaluddin, seorang hakim di PN Medan. [Foto: dok tribun medan]

DIALEKSIS.COM - Ketika cinta bersemi, indahnya berbunga-bunga. Banyak hal dilakukan mengalahkan logika. Apapun akan dilakukan demi cinta. Walau yang dilakukan itu tidak diterima logika. Namun, manusia mau melakukannya karena alasan cinta.  

Ada juga  kasih sayang berubah jadi benci. Ketika sayatan hati tak tertahankan, ada manusia yang lupa diri. Nekat melakukan perbuatan yang juga tidak diterima logika. Ada yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Ada juga yang tega sampai menghabisi hidup pasangannya.

Kisah cinta perjalanan anak manusia kini menjadi pembahasan. Kali ini bukan persoalan cinta yang berbunga-bunga, namun kisah cinta berbuah petaka. Sang istri nekat menghabisi suami.

Tewasnya hakim Jamaluddin, salah seorang hakim di Pengadilan Negeri Medan, kembali mengurai kisah perjalanan anak manusia yang tidak ada habis-habisnya karena cinta.

Zuraida yang merupakan istri kedua, nekat membunuh suaminya, karena persoalan hati. Dia mengaku sudah lama menderita akibat ulah sang suami. Pengakuannya, sang suami sering selingkuh. Dia sudah tidak tahan dengan perlakuan teman hidupnya.

Zuraida mengakui suaminya mengkhianatinya dengan bergonta ganti wanita. Namun Zuraida juga punya pacar gelap yang menjadi eksekutor menghilangkan nyawa hakim Jamaluddin. Cinta berbalut selingkuh, pasangan ini melakoninya.

Untuk menghabisi suaminya yang berprofesi sebagai hakim, Zuraida meminta bantuan kekasih gelapnya Jefri Pratama.

Dalam rekonstruksi pembunuhan Hakim Jamaluddin yang digelar di beberapa tempat di Kota Medan, Sumatera Utara, Senin (13/1/2020), kisah asmara berbalut cinta dan selingkuh itu terungkap.

Kisah itu bermula akhir November 2019, ketika Zuraida bertemu dengan Jefri yang menjadi kekasih gelapnya. Dalam pertemuan itu direncanakan bagaimana membunuh Jamaluddin dan apa kompensasi yang akan didapat oleh kekasih gelap Zuraida ini.

Zuraida yang mengenakan sandal jepit dalam rekonstruksi itu, melalui pengeras suara menceritakan persoalan hatinya yang tercabik-cabik karena cinta. Keluarga sudah tidak harmonis, karena suami membagi cinta dengan wanita lain.

”Suami saya terus menerus berselingkuh dengan perempuan-perempuan lain. Dia selalu mengkhianati saya. Saya lagi hamil pun, dia bawa perempuan ke rumah. Saya sudah mengadu ke keluarganya dan mengadu ke kakak kandungnya, adik kandungnya, tapi mereka tak berdaya apa-apa," sebut Zuraida.

Sikap suaminya yang menurut Zuraida sudah di luar batas, dia meminta cerai. Namun, Jamaluddin tidak mengizinkannya. “Saya coba minta cerai, namun jawaban yang diberikan, jangan coba-coba minta cerai dengan saya, karena perceraian kedua, saya akan malu karena saya seorang hakim,'” ujar Zuraida mengutip keterangan suaminya.

Permintaan cerai ditolak, eksekutor bertindak. Zuraida bersikukuh meminta bantuan kepada kekasih gelapnya untuk menghabisi nyawa Jamaluddin.

Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Sumatera Utara Komisaris Besar Andi Rian, menjelaskan, awalnya Jefri menolak permintaan Zuraida dan menyarankannya untuk menggugat cerai ke pengadilan.

Namun saran yang disampaikan Jefri ditolak Zuraida dengan berbagai pertimbangan. Dia tetap bersikukuh suaminya harus dihabisi. Sikap tegas istri hakim ini, membuat Jefri meminta bantuan temannya, Reza.

Zuraida menjanjikan akan memberikan hadiah umrah kepada eksekutor. Hal itu diungkap Zuraida dalam rekonstruksi yang digelar di beberapa tempat di kota Medan ini.

Pengakuan Zuraida, eksekutor Reza meminta imbalan. Dia pergi umrah bersama ibu dan adiknya, setelah melakukan eksekusi. Total biaya umrah disepakati mencapai Rp 100 juta.

“Saya tidak janjikan uang Rp 100 juta, tapi uang itu dipergunakan untuk umrah,” sebut Zuraida. Sementara Jefri, usai melakukan tugasnya mengeksekusi Jamaluddin, dia akan menikah dengan Zuraida. Jefri statusnya duda memiliki seorang anak yang baru berusia 7 tahun.

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan, Zuraida memberikan uang Rp 2 juta kepada Reza untuk membeli sejumlah keperluan, demi mulusnya eksekusi. Diantara benda yang dibeli itu, ponsel untuk mereka komunikasi, sarung tangan untuk menghindari sidik jari.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, dalam keteranganya menjelaskan, usai melakukan eksekusi, ponsel yang mereka pergunakan untuk alat komunikasi mereka buang.

Skenario yang mereka terapkan, mampu dipecahkan pihak kepolisian. Tuhan tidak merestui perbuatan mereka yang sudah menghilangkan nyawa. Pihak penyidik mengelandang pelaku dan otak eksekusi ini ke terali besi.

Kisah cinta berbuah petaka ini, tidak diduga oleh anak almarhum dari istri yang pertama. Mereka mengakui tidak menduga ibu tirinya tega menghabisi nyawa ayahnya dengan “menyewa” orang lain.

Namun walau mereka berbalut duka, karena kepergian ayah untuk selama-lamanya, sebagai seorang kakak dia punya tanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan adiknya, anak dari Zuraida dengan almarhum Jamaluddin.

“Khanza adalah adik saya sedarah, kami satu ayah. Kami inginkan adik Khanza  biar kami rawat, kami didik,” sebut Rajif Pandi, anak kandung almarhum Jamaluddin dari istri pertama, menjawab media.

Berbicara soal cinta, bagaikan mengulas persoalan dunia yang tidak ada habisnya. Anak nabi Adam, Qabil dan Habil sudah mengukir sejarah pertama tentang cinta yang berakhir hilangnya nyawa. Qabil menghabisi saudara Habil, karena rasa cinta berbalut cemburu.

Kisah itu terus bergulir dengan perputaran dunia, hanya motifnya yang berbeda-beda. Intinya sama, bila cinta sudah melahirkan kebencian, petaka adalah pilihan diakhirnya.

Cinta itu memang aneh namun nyata. Ketika cinta berbunga-bunga, dunia rasanya bagaikan di surga. Namun ketika cinta melahirkan derita, manusia akan melakukan hal-hal di luar logika. Manusia tidak bisa menghindari dari persoalan cinta, yang tidak akan habisnya dalam ukiran sejarah dunia. (Bahtiar Gayo)


Editor :
Redaksi

Komentar Anda