Logo Dialeksis
Beranda / Feature / Sirat Harapan Pasien Kanker Pada Gedung Oncology

Sirat Harapan Pasien Kanker Pada Gedung Oncology

Jum`at, 06 Maret 2020 11:05 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Im Dalisah

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ribuan besi berkarat  tertancap ke pondasi . Bagaikan bulu landak,  walau telah lama tak terurus, besi itu masih terlihat kokoh berdiri  menjulang. Beberapa tiang utama yang sudah dicor dan semak-semak, bagaikan melindungi besi ini. Kesan terbengkalai kelihatan.

Sementara itu, tepat di bagian depan sudut lahan, terpancang sebuah papan informasi bertuliskan nama kegiatan 'Pembangunan Gedung Oncology Centre (MYC)'.

"Bangunan ini mulai dikerjakan tahun 2017. Awalnya di area ini diperuntukan buat poliklinik,"  ucap Rahmadi, Humas Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA), sembari menunjuk ke arah bangunan yang tidak terawat itu. Pria ini mendapat tugas dari Direktur RSUZA Dr.dr.Azharuddin, Sp.OT. K-Spine, FICS untuk mendampingi Dialeksis.com saat meninjau pembangunan Gedung Oncology Center, Kamis, (5/3/2020). 

Saat itu matahari sedang terik-teriknya. Seolah tak mau kompromi, tidak peduli dengan manusia yang gerah di sekitar bangunan ini.  Sejauh mata memandang, tidak terlihat adanya aktifitas sebuah proyek yang konon menelan anggaran ratusan milyar itu. Tidak ada kendaraan proyek yang hilir mudik, atau alat berat yang bekerja. 

Beberapa pekerja memilih 'ngaso' dibawah pohon sawit yang tidak lagi produktif. Meski hanya beralaskan kertas kardus. Namun, Semilir angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan, bagaikan mengusir lelah, setelah sekian jam mereka bekerja membersihkan lahan dan semak belukar.

"Sudah 4 hari kami disini. Targetnya seminggu sudah selesai," timpal seorang pekerja saat disapa Dialeksis.com. Berdasarkan keterangan pekerja lainnya, kehadiran mereka di lokasi proyek bernilai Rp. 219.645.249.000 itu dalam rangka pembersihan lahan sebelum fase pembangunan kontruksi dilakukan.

Pembangunan fasilitas kesehatan yang dikhususkan bagi penderita kanker itu cukup menyita perhatian publik. Betapa tidak, telah tiga kali rencana pembangunan oncology gagal. 

"Tahun pertama dimulai saat 2017 lalu. Namun dihentikan ditengah jalan karena pelaksana proyek ini ternyata sebuah perusahaan yang telah diblacklist oleh pemerintah. Tahun kedua, 2018, kembali gagal dengan penyebab yang sama. Tahun 2019 mengalami polemik, seperti yang diberitakan media selama ini. Mudah-mudahan tahun ini bisa berjalan lancar," kata Rahmadi.

Harapan Rahmadi, sama persis dengan asa yang disuarakan oleh Laini, gadis penderita osteosarcoma (Kanker tulang), asal Kabupaten Aceh Singkil. Wanita berusia 20 tahun itu harus rela kaki kirinya diamputasi agar sel kanker tidak merambat ke bagian lain. 


Lainiwati (memakai tongkat) pasien kanker asal Aceh Singkil, saat bersama teman-temannya pada suatu acara di Banda Aceh. Foto: Ist

"Ya senang lah bang. Dengan adanya gedung oncology, kita kan gak payah lagi ke Medan. Kan bisa lebih irit," kata Laini saat disinggung mengenai rencana pembangunan gedung oncology, Rabu, (26/2/2020).

Mimpi yang sama disampaikan oleh Syarifah Suniati, orang tua penderita kanker getah bening, Tahta (11 th) asal Sigli, Kabupaten Pidie. 

Persoalan biaya menjadi kendala utama bagi Syarifah untuk mengobati penyakit yang dihadapi buah hatinya. Dia mengaku harus 'berjibaku' mencari lembar demi lembar rupiah sebagai persiapan biaya operasional selama mendampingi Tahta kontrol di RSUZA.


Syarifah bersama anaknya, Tahta, penderita kanker getah benih asal Pidie. Foto: Ist

"Sebenarnya anjuran dokter 1 bulan sekali harus dikontrol, tapi karena keterbatasan biaya terpaksa 2 bulan sekali. Beratnya itu ongkos transportasi dan biaya hidup selama disana pak, karena belum tentu jadwal kontrol itu tersedia seperti yang dijadwalkan. Kadang-kadang meleset juga. Selain itu, hanya saya sendiri yang mencari uang pak," ucapnya lirih.

"Saya senang sekali seandainya disana (RSUZA) tersedia fasilitas lengkap untuk pasien kanker. Jadi, gak perlu rujuk lagi ke rumah sakit luar yang sudah pasti akan banyak mengeluarkan biaya," tambah Syarifah sekaligus menyampaikan harapannya

Sepertinya, mimpi para penderita kanker itu akan segera terwujud. Jika tak ada aral melintang, diatas lahan seluas 13.514,878 m2 itu akan berdiri tegak sebuah gedung yang akan memiliki fasilitas lengkap untuk melayani penderita kanker seperti Laini, dan Tahta. 

Luas total bangunannya mencapai 17.989,35. Gedung oncology diharapkan memberi kontribusi dan wujud nyata tanggung jawab negara terhadap kesehatan rakyatnya. Khususnya masyarakat Aceh, tidak harus "membuang" uang  yang lebih banyak, bila harus berobat, karena di ujung barat Sumatra ini kelak akan ada oncology.(Im)














Editor :
Im Dalisah

dalimi
utu lebaran
Komentar Anda
hendri budian