Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / Negara Belum Serius Urus Korban Hidrometeorologi

Negara Belum Serius Urus Korban Hidrometeorologi

Sabtu, 14 Maret 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Aji Muda, salah seorang korban bencana di Kala Segi Bintang, Aceh Tengah, tabah sduah 4 bulan di tenda pengungsian. (foto/dok Dialeksis.com)

DIALEKSIS.COM| Feature- Walau tinggal satu rumah, satu ayah dan satu ibu, namun bagaikan ada anak kandung dan anak tiri. Itulah yang dirasakan korban bencana hidrometeorologi atas perlakuan orang tuanya.

Mereka punya ayah dan ibu (negara) namun belum serius “memafah” korban untuk bangkit. Jangankan untuk bangkit, untuk hunian tempat tinggal saja banyak dari korban yang kondisinya memprihatinkan.

Selain itu, berbagai persoalan bermunculan hampir disetiap daerah. Lihatlah bagaimana hingar bingarnya soal huntara (belum nanti soal huntap). Bagaimana aksi protes masyarakat ada yang tidak mendapatkan jadup dan biaya pengganti alat rumah yang hancur diterjang bencana.

Di Aceh mulai dari ujung timur, utara, tengah, tenggara, barat selatan, semuanya daerah nyaris memiliki persoalan yang sama. Nasib para korban bencana ini belum ada kepastian. Ada yang sudah mendapatkan huntara namun masih banyak juga yang tidak kebagian.

Catatn Dialeksis.com, mereka dijanjikan akan dibuat huntara di tahap selanjutnya, namun kapan. Tidak ada kepastian. Bagaikan ada anak kandung dan anak tiri dalam penangangan bencana ini. Pemerintah daerah “pusing” dengan tuntutan masyarakat, meminta kepastian.

Di Bireun, misalnya, ada korban yang nekat memasang tenda di kawasan kantor bupati. Mereka sudah 4 bulan diterpa hujan dan disengat matahari. Mereka belum mendapatkan huntara, walau dijanjikan.

Sebenarnya bukan hanya di Biruen di daerah lainya juga mengalami kasus yang sama. Bahkan ada yang sudah menetap di huntara, mendapatkan kunci, namun kemudian disuruh keluar, karena namanya belum masuk dalam SK penerima huntara tahap pertama.

Di Kawasan pengunungan dengan aroma kopi, juga penderitaan yang sama dialami korban. Mereka yang sekampung diterpa bencana, sama sama rumahnya hancur lebur, namun ada yang sudah mendapatkan huntara, ada juga yang kecewa belum mendapatkan. Pemerintah tidak berani menjanjikan kapan mereka akan mendapatkan huntara menuju huntap.

Lain lagi persoalan jadup dan bantuan penganti perabot rumah, juga nasibnya nyaris sama seperti huntara, ada yang sudah mendapatkan, namun ada juga yang terlewatkan. Walau sudah disusul untuk mendapatkan tahap selanjutnya, namun belum ada kepastian kapan.

Selain itu, lumpur dan puing puing kehancuran akibat bencana ini masih banyak berserakan di mana-mana. Menutupi perkampungan, perumahan penduduk. Ada yang sudah dibersihkan masyarakat, semampu mereka.

Namun serakan puing-puing bencana itu masih menyebar dimana mana, di seluruh daerah. Satgas bencana yang bertugas untuk memperbaiki tatanan yang hancur ini, bagaikan membiarkanya semuanya tergantung pada alam.

Masyarakat sudah lelah, mereka sangat letih, perih bertindih tindih. Mereka bagaikan daun kering yang mudah tersulut. Apalagi ada kesan anak kandung dan anak tiri dalam penangangan para korban musibah.

Dilain sisi, parlemen, wakil yang mereka pilih, sampai saat ini tidak ada yang bersuara lantang membela mereka. Memperjuangkan nasib mereka yang “tersayat luka” berbulan bulan. Bahkan parlemen seperti di DPRA, ribut memperjuangkan kepentingan mereka.

Apakah para korban bencana ini akan terus kedinginan ketika hujan menerpa, akan tersengat panas ketika dicanda matahari, karena mereka masih mendiami tenda. Sampai kapan mereka akan seperti ini, sementara ada linangan air mata ketika melihat saudaranya yang sama sama didera bencana kini sudah menempati huntara.

Dimana ibu dan ayah mereka yang menyatakan dirinya mampu mengurus para korban bencana? Sampai saat ini negara belum serius mengurus mereka. Atau negara tidak mampu, sehingga ada anak tiri dan anak kandung?


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI