Sabtu, 22 Agustus 2026
Beranda / Feature / Jabatan Bukan Segalanya, Kesetiaan Nurdiansyah Tak Berubah

Jabatan Bukan Segalanya, Kesetiaan Nurdiansyah Tak Berubah

Sabtu, 22 Agustus 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

drh. Nurdiansyah Alasta, M.Kes calon Ketua DPD Demokrat Aceh periode periode 2026 - 2031. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Feature - Politik kerap menguji seseorang bukan ketika dukungan berdatangan, melainkan saat keputusan tidak lagi berada dalam genggamannya. Pada titik itulah ambisi berhadapan dengan kesetiaan, sementara kekecewaan diuji oleh kedewasaan.

Ujian itu kini berada di hadapan drh. Nurdiansyah Alasta, M.Kes.

Musyawarah Daerah VI Partai Demokrat Aceh telah berakhir. Forum tersebut mengantarkan dua nama ke meja Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono yakni Nurdiansyah Alasta dan Sayuti Abubakar. Keduanya menunggu keputusan akhir mengenai siapa yang akan memimpin Demokrat Aceh periode 2026 - 2031.

Bagi Nurdiansyah, penantian itu bukan perkara ringan. Ia datang ke Musda dengan harapan, dukungan, dan perjalanan panjang sebagai kader. Namun, setelah seluruh ikhtiar dilakukan, ia memilih bersikap tenang. Tidak membenturkan kader, tidak pula menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk merusak rumah yang telah lama ia jaga.

Nurdiansyah menyatakan siap menerima apa pun keputusan AHY. Baginya, kontestasi boleh berakhir dengan satu nama, tetapi persaudaraan antarkader tidak boleh ikut selesai. Sikap menerima keputusan tersebut kembali ditegaskannya setelah Musda.

Di situlah sikap kesatria itu menemukan bentuknya: berjuang dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menyediakan ruang di dalam hati untuk menerima hasil yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai harapan.

Jauh sebelum Musda digelar, Nurdiansyah sebenarnya telah menyampaikan pendirian serupa.

“Saya hadir dengan penuh rasa hormat, siap mengikuti seluruh mekanisme partai, serta menerima apa pun keputusan terbaik,” katanya pada Juli lalu, sebagaimana diberitakan media Dialeksis sebelumnya.

Kalimat itu kini memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan lagi ucapan seorang calon sebelum memasuki gelanggang, melainkan janji moral yang harus dibuktikan ketika keputusan semakin dekat.

Bagi Nurdiansyah, Partai Demokrat bukan sekadar kendaraan politik. Partai berlambang bintang mercy itu menyimpan jejak ayahnya, almarhum H. Jamidin Hamdani, yang pernah memimpin DPC Partai Demokrat Aceh Tenggara pada 2002 - 2017 dan menjadi anggota DPR Aceh.

“Ayah adalah panutan terbaik dalam hidup saya. Bahkan hingga mengembuskan napas terakhir, beliau masih mengenakan kaus Demokrat. Sikap, keteguhan hati, dan seluruh perjalanan politiknya begitu menyatu dengan Partai Demokrat. Kenangan itulah yang menjadi teladan sekaligus panggilan bagi saya untuk mengabdikan diri kepada Demokrat rumah politik yang saya cintai serta meneruskan perjuangan Ayah dengan berbuat lebih banyak bagi masyarakat Aceh,” ungkapnya

Jejak itulah yang kemudian diikuti Nurdiansyah. Ia bahkan meninggalkan status sebagai pegawai negeri sipil untuk maju sebagai calon anggota DPR Aceh pada Pemilu 2019 demi berlayar bersama Demokrat. Keputusan tersebut diambil untuk meneruskan perjuangan sang ayah yang dikenal mencintai Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat. Perjalanan politik itu berawal dari ikatan keluarga yang kuat dengan Demokrat.

Karena itu, pencalonannya sebagai Ketua DPD Demokrat Aceh bukan semata-mata soal mengejar jabatan. Ada amanah keluarga yang dibawanya. Ada kenangan tentang seorang ayah. Ada pula harapan untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dari Aceh Tenggara.

Nurdiansyah tentu pernah merasakan getirnya dinamika politik. Dukungan dapat berubah. Peta kekuatan dapat bergeser. Orang yang semula berjalan bersama bisa mengambil arah berbeda. Ia pun pernah mengutarakan apa yang dialaminya melalui jalur organisasi.

Namun, kekecewaan tidak membuatnya membakar jembatan.

Ia menyampaikan keberatan tanpa memberontak, memperjuangkan hak politik tanpa merendahkan orang lain, dan mengetuk pintu partai tanpa berusaha merobohkannya.

“Saya tetap setia kepada Partai Demokrat dan tetap menghormati seluruh keputusan ketua umum,” ujar Nurdiansyah dalam surat terbukanya, seperti dikutip SINDOnews.

Kesetiaan semacam itu mudah diucapkan ketika jalan terbentang mulus. Namun, nilainya baru benar-benar terlihat ketika seseorang berhadapan dengan ketidakpastian.

Menjelang Musda, Nurdiansyah juga berulang kali mengingatkan kader agar tidak terjebak dalam fitnah dan perpecahan. Ia meminta perbedaan pilihan ditempatkan sebagai bagian dari demokrasi internal, bukan alasan untuk saling meniadakan.

“Sebagai kader, tugas kita adalah menjaga persatuan, menghormati mekanisme organisasi, serta menerima setiap keputusan partai dengan penuh tanggung jawab,” katanya, seperti diberitakan Dialeksis.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pesan AHY ketika membuka Musda VI Demokrat Aceh. Ketua umum meminta siapa pun yang terpilih merangkul calon yang belum memperoleh kepercayaan. Sebaliknya, calon yang belum terpilih diminta memberikan dukungan penuh. AHY menempatkan persatuan sebagai agenda utama setelah kontestasi.

Nurdiansyah tampaknya memilih berdiri di jalur itu.

Ia tidak menarik kembali pengabdiannya hanya karena jabatan belum tentu berada di tangannya. Ia juga tidak menjadikan dukungan yang pernah diperoleh sebagai alat untuk menekan keputusan partai. Setelah berusaha, ia menyerahkan penilaian terakhir kepada ketua umum.

Sikap legowo bukan berarti tidak memiliki ambisi. Tanpa ambisi, seseorang tidak akan berani menawarkan diri untuk memimpin. Legowo justru merupakan kemampuan mengendalikan ambisi agar tidak berubah menjadi amarah ketika kenyataan bergerak ke arah berbeda.

Politik Aceh membutuhkan lebih banyak sikap seperti itu: berani bertarung, tetapi tetap tahu kapan harus berjabat tangan; teguh menyampaikan pendirian, tetapi tidak kehilangan kesantunan; serta siap berdiri di depan ketika dipercaya dan tetap bersedia bekerja ketika bukan dirinya yang dipilih.

Bagi Nurdiansyah, keputusan AHY nantinya mungkin menentukan siapa yang menduduki kursi Ketua DPD Demokrat Aceh. Namun, keputusan tersebut tidak harus menentukan apakah pengabdiannya kepada partai berhenti atau berlanjut.

Ia telah memilih jawabannya bahwa tetap berada di dalam rumah, menjaga persaudaraan, dan melanjutkan perjuangan.

Sebab, dalam politik, kemenangan tidak selalu berbentuk jabatan. Terkadang kemenangan hadir dalam kemampuan menjaga kehormatan ketika harapan belum menjadi kenyataan.

Dan pada titik itu, Nurdiansyah Alasta sedang memperlihatkan bahwa seorang kesatria bukan hanya orang yang berani memasuki gelanggang. Seorang kesatria juga tahu cara menerima keputusan dengan kepala tegak, hati lapang, dan kesetiaan yang tetap utuh. Ia datang membawa dukungan, gagasan, dan jejak perjuangan sang ayah. Namun, ketika keputusan akhir berada di tangan AHY, Nurdiansyah memilih menundukkan ambisi demi menjaga keutuhan rumah politiknya. [•]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
pema - damai
dishub