Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / Bantuan Presiden untuk Meugang Antara Daging dan Uang

Bantuan Presiden untuk Meugang Antara Daging dan Uang

Minggu, 15 Februari 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Daging Meugang. [Foto: Antara]

DIALEKSIS.COM| Feature- Aceh yang dilanda prahara amukan alam, banjir bandang dan longsor, menjelang Ramadhan 1447 H (2026) diriuhkan dengan persoalan meugang. Antara uang tunai atau daging.

Presiden sudah menyalurkan bantuan senilai Rp 72,7. Bantuan Presiden untuk meugang ini kini menjadi perbincangan dan perdebatan. Para korban musibah banjir bandang dan longsor ada yang menginginkan agar bantuan itu diberikan dalam bentuk uang. Bahkan Bupati Aceh Tenggara sudah memutuskan akan menyalurkanya dalam bentuk uang.

Eittt tidak boleh. Pemerintah Aceh dengan tegas menyebutkan tidak boleh dalam bentuk uang namun dalam bentuk daging. Walau ada sebagian masyarakat korban musibah menginginkan dalam bentuk uang, namun itu tidak boleh dilakukan.

Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, sudah mengambil kebijakan sesuai dengan hasil kesepakatan instansi vertikal, organisasi perangkat daerah (OPD), camat, serta kepala desa dari wilayah terdampak bencana.

Menurutnya, pembagian uang langsung ini menghindari polemik di tengah masyarakat terkait kualitas maupun pembagian daging meugang.

“Jika dibelikan sapi dikhawatirkan tidak sesuai dan jadi polemik di tengah masyarakat,” kata Bupati Aceh Tenggara kepada wartawan, Jumat (13/2/2026). Aceh Tenggara memperoleh dana meugang dari Presiden Rp2,2 miliar lebih.

“Semoga dana ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita (yang terdampak bencana) dalam menyambut Ramadan,” ujarnya.

Uang tersebut akan disalurkan ke 4.700 Kepala Keluarga tersebar di 14 kecamatan terdampak bencana banjir dan longsor. Setiap korban akan menerima Rp450 ribu dan ditransfer langsung ke rekening masing-masing.

Berbeda dengan Aceh Tengah, walau sebagian masyarakat sudah menyuarakan agar bantuan presiden itu diberikan dalam bentuk uang, Pemda setempat telah memutuskan penyaluran dan bentuk daging untuk 167 kampung yang terkena bencana.

Aceh Tengah menerima alokasi dana sebesar Rp. 8,05 miliar untuk meugang. Penyaluran itu dilaksanakan saat momentum meugang. Bupati bersama Wakil Ketua DPRK, Sekda, para Asisten, Kepala OPD, camat, perwakilan LSM, serta pengusaha lokal sudah menetapkan suatu keputusan.

Daging meugang dapat dimasak dan dinikmati bersama di masing-masing kampung atau dibagikan langsung kepada setiap keluarga sesuai kesepakatan masyarakat setempat. Pemda Aceh Tengah sudah menetapkan anggaran sebesar Rp 25 juta per desa secara merata, serta Rp 30 juta per desa bagi kampung dengan jumlah penduduk lebih besar dan tingkat dampak bencana yang lebih parah.

Bupati Haili Yoga menginstruksikan para camat untuk berkoordinasi dengan pengusaha lokal, terkait ketersediaan kerbau atau lembu guna menjamin kecukupan pasokan daging. Langkah ini menjaga menjaga tradisi meugang tetap hidup sebagai simbol kebersamaan, solidaritas, dan penguatan semangat masyarakat di tengah proses bangkit dan pemulihan pascabencana.

Di tengah riuhnya soal muegang antara uang dan daging, pemerintah Aceh dengan tegas menyebutkan bantuan yang diberikan kepada para musibah dalam bentuk daging, bukan uang.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA dalam keterangannya, Sabtu (14/2/2026) menyampaikan pemberian daging meugang ini merujuk pada surat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah mengeluarkan petunjuk pelaksanaan melalui surat Nomor 400.6/848/SJ Tanggal 12 Februari 2026 tentang Penggunaan Bantuan Presiden untuk Meugang Menjelang Bulan Ramadan Tahun 2026.

“Para Bupati diperintahkan untuk segera melakukan belanja pembelian sapi lokal melalui Dinas (SKPD) terkait. Pembagian bantuan meugang Presiden wajib berbentuk daging, dan tidak boleh berbentuk uang,”jelasnya.

Artinya masyarakat penerima akan menerima daging yang telah dipotong, dari arahan dan petunjuk Mendagri tersebut telah mempertegas dan memperjelas agar dapat melaksanakannya secara baik dan penuh tanggungjawab," sebut MTA.

Bagi pemimpin menginginkan bantuan ini dalam bentuk uang, harus kerja keras menyiapkan segala sesuatunya, agar para korban musibah menerima bantuan presiden ini dalam bentuk daging. Artinya panitia harus menyiapkan hewan untuk meugang, melakukan penyembelihan dan membagikanya kepada masyarakat.

Soal daging meugang di Aceh, tidak perlu lagi diributkan dan diperdebatkan, satu kata, satu irama, para korban musibah akan mendapatkan bantuan presiden dalam bentuk daging, bukan dalam bentuk uang.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI