Minggu, 12 Juli 2026
Beranda / Feature / Ada Kopi, Ada Hati: Ketika Sekda Aceh Melepas Jabatan dan Menjadi Manusia

Ada Kopi, Ada Hati: Ketika Sekda Aceh Melepas Jabatan dan Menjadi Manusia

Sabtu, 11 Juli 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun membaca syair di Kedai Kopi Cut Ayah di Pango, Banda Aceh. Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di Aceh, kopi tak pernah sekadar minuman. Ia adalah jeda, perjumpaan, pengakuan, bahkan pengampunan. Di atas meja kayu yang mulai menghitam oleh waktu, dari uap yang mengepul pelan, sering lahir percakapan yang tak pernah sanggup diselesaikan ruang-ruang rapat.

Malam itu, Jumat (10/7/2026), Kedai Kopi Cut Ayah di Pango, Banda Aceh, kembali membuktikan bahwa secangkir kopi mampu menyatukan orang-orang yang datang dari dunia berbeda. Seniman, birokrat, akademisi, mahasiswa, pengusaha, hingga kepala daerah duduk tanpa sekat.

Tak ada kursi kehormatan. Tak ada podium megah. Tak ada protokol yang mengatur jarak.

Yang ada hanya kopi, puisi, dan manusia.

Suasana mencair sejak syair yang sudah akrab di telinga para penikmat sastra Aceh dinyanyikan bersama.

"Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, tak ada kopi tak usah banyak cerita, ayo ngopi kita bercerita, banyak ngopi banyak kali cerita kau."

Syair karya Yoppi Smong yang kemudian "ditambahi" satu kalimat oleh sastrawan Fikar W. Eda itu seolah menjadi pembuka sebuah malam yang tidak hendak dipenuhi pidato.

Justru karena itu, ketika Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, diminta memberi sambutan, ia menolak dengan halus.

"Tak ada yang mau dengar seremonial. Nanti pembacaan puisi malah jadi acara basi," ujarnya disambut tepuk tangan.

Kalimat sederhana itu langsung mengubah suasana.

Di malam tersebut, Nasir tidak tampil sebagai pejabat tertinggi birokrasi Aceh. Ia hadir sebagai seorang lelaki yang pernah muda, pernah jatuh cinta, pernah ditolak, dan masih menyimpan kenangan itu hingga puluhan tahun kemudian.

Panitia kemudian menggeser beberapa meja untuk menciptakan ruang kecil sebagai panggung. Tak ada dekorasi khusus. Di sisi kiri, tumpukan kayu bakar yang biasa dipakai dapur kedai tetap dibiarkan menjadi bagian dari latar.

Kesederhanaan itulah yang justru menghadirkan kehangatan.

Nasir berdiri di depan mikrofon.

Ia mengawali pembacaan puisinya dengan sebuah pengakuan yang membuat seluruh ruangan tersenyum.

Puisi yang akan dibacakannya, katanya, bukan karya penyair terkenal.

Melainkan karya kecerdasan buatan.

"Saya minta AI membuat puisi tentang pejuang," katanya santai.

Namun, bukan puisinya yang paling diingat malam itu.

Yang paling membekas justru cerita sebelum puisi itu dibacakan.

Dengan wajah tenang, Nasir mengaku terakhir kali membaca puisi terjadi lebih dari tiga dekade lalu, tepatnya pada 1995 ketika masih menempuh studi di Yogyakarta.

Ia mengenang sebuah malam yang membuat banyak orang spontan tertawa.

"Saya waktu itu bersedia membaca puisi karena tertarik pada seorang gadis. Saya beli buku puisi, beli bunga. Tapi gadisnya menolak saya. Jadi saya gagal membaca puisi."

Gelak tawa langsung memenuhi kedai.

Di antara para hadirin, duduk sang istri, Malahayati.

Nasir menoleh sambil tersenyum.

"Ini cerita lama ya, Ma."

Lalu ia menambahkan kalimat yang membuat tawa semakin pecah.

"Saya gagal di Yogya, tetapi akhirnya mendapatkan Bu Mala."

Tak ada yang menyangka seorang Sekda akan membuka cerita yang begitu personal di depan publik.

Namun justru di sanalah puisi menemukan rumahnya.

Ia tak selalu lahir dari kata-kata indah.

Kadang ia muncul dari keberanian seseorang menertawakan masa lalunya sendiri.

Setelah Nasir turun dari panggung, pembacaan puisi bergulir seperti aliran kopi yang terus dituang ke dalam gelas-gelas baru.

Sastrawan, akademisi, pejabat, hingga anak muda bergantian membaca karya mereka.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, ikut hadir dan membacakan puisi.

Malam pun berubah menjadi ruang bersama tempat kegelisahan dan harapan saling bertemu.

Herman RN membuka babak perenungan lewat puisi tentang cinta masyarakat Gayo kepada Indonesia yang dibalas dengan kekecewaan.

Lalu tampil Fathya Ruziqna, mahasiswi Universitas Syiah Kuala yang menjadi pembaca termuda malam itu.

Puisinya berbicara tentang hutan yang dirusak, banjir yang menggulung sawah dan permukiman, serta alam yang perlahan kehilangan suara.

Dari secangkir kopi, lahir kisah tentang bergelas-gelas air mata.

Nada itu kemudian disambung Jamal Syarif yang kembali mengingatkan bahwa bencana sering kali merupakan hasil dari keserakahan manusia sendiri.

"Kopi belum sempat diminum habis, kedainya sudah digulung bencana."

Kalimat itu menggantung lama di udara.

Seolah tak hanya ditujukan kepada para penyair, tetapi kepada siapa saja yang masih menganggap alam sebagai sesuatu yang boleh dihabiskan.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthala Muddin, menyentil realitas sosial melalui puisi tentang "segelas kopi untuk proyek", yang terasa berkelindan dengan lagu "Poh Bandet" karya Nazar Apache dan Mai Munzir yang malam itu dinyanyikan penuh semangat.

Lagu itu menyindir berbagai wajah "bandit" dalam kehidupan, dari kampung hingga kantor.

Sindiran dibungkus tawa.

Kritik dibalut seni.

Pengusaha Alwin Abdullah melalui puisi Benarkah mengajak hadirin mempertanyakan mengapa manusia memilih saling membenci, padahal sejak lahir mereka tidak ditakdirkan untuk bermusuhan.

Sementara Devi Matahari membawa hadirin pulang ke kenangan masa kecil melalui secangkir sanger dan sedotan plastik biru yang mengingatkannya kepada ibunda.

Di sudut lain, Wina SW1 mengingatkan bahwa kopi tidak pernah mengenal jenis kelamin.

"Kopi bukan milik lelaki, juga bukan milik perempuan."

Fauzan Santa kemudian menutup kegelisahan dengan tawa melalui monolog jenaka tentang percakapan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yang disatukan oleh secangkir kopi.

Malam semakin larut.

Namun kopi belum selesai bercerita.

Kepala BPSDM Aceh, Dr. Marthunis, mengibaratkan pembangunan sumber daya manusia seperti meracik kopi terbaik: membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan komposisi yang tepat.

Sedangkan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, T. Banta Nuzullah, membawa hadirin melihat kopi dari sudut ekonomi.

Dalam puisinya Sembilan Kata, secangkir kopi berubah menjadi angka-angka yang mencerminkan denyut ekonomi Aceh: sekitar Rp15,6 miliar setiap hari, Rp468 miliar setiap bulan, hingga lebih dari Rp5,6 triliun dalam setahun.

Di Aceh, kopi memang bukan lagi sekadar komoditas.

Ia telah menjadi budaya.

Menjadi identitas.

Menjadi bahasa yang dipahami semua kalangan.

Ketika gelas-gelas mulai kosong dan kursi-kursi perlahan ditinggalkan, malam belum benar-benar selesai.

Beberapa seniman menghampiri Nasir.

Mereka mengucapkan terima kasih.

Bukan karena ia seorang Sekda.

Melainkan karena malam itu ia datang sebagai dirinya sendiri—tanpa jarak, tanpa protokol, tanpa naskah pidato.

Sebelum meninggalkan Kedai Kopi Cut Ayah, Nasir menyampaikan satu kalimat yang mungkin menjadi simpulan seluruh peristiwa malam itu.

"Menurut saya, kita perlu sering bergaul dengan seniman dan mendengarkan puisi agar kita dapat membuka ruang hati. Saya senang bisa bersama seniman."

Barangkali, di tengah dunia yang semakin bising oleh angka, target, dan agenda birokrasi, Aceh masih membutuhkan lebih banyak malam seperti itu.

Malam ketika secangkir kopi bukan hanya menghangatkan tangan, tetapi juga melembutkan hati.

Karena pada akhirnya, seperti syair yang dinyanyikan bersama di awal acara, setiap cangkir kopi memang selalu membawa cerita.

Dan selama kopi masih diseduh di tanah ini, cerita tentang Aceh tampaknya tak akan pernah benar-benar selesai.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI