Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / PMI Anjlok Lagi! Pemerintah Siapkan “Tameng” Baru Selamatkan Industri dan Cegah PHK

PMI Anjlok Lagi! Pemerintah Siapkan “Tameng” Baru Selamatkan Industri dan Cegah PHK

Selasa, 05 Mei 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief. [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pelemahan sektor manufaktur Indonesia kembali terjadi pada April 2026, ditandai dengan turunnya Purchasing Managers’ Index (PMI) ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret. Angka ini menempatkan industri dalam fase kontraksi, di tengah tekanan global yang belum mereda.

Kementerian Perindustrian menilai penurunan tersebut tidak lepas dari dinamika geopolitik global yang mengganggu rantai pasok dan meningkatkan biaya produksi. Lonjakan harga komoditas serta biaya logistik disebut menjadi faktor utama yang menekan aktivitas industri nasional.

“Pelemahan angka PMI tersebut merupakan dampak dari dinamika global, khususnya konflik geopolitik yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga komoditas serta biaya logistik,” ujar Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (5/5/2026).

Merespons kondisi ini, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk memperkuat rantai pasok industri dan mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing serta menekan risiko fluktuasi nilai tukar.

Selain itu, Kemenperin juga mempercepat kebijakan strategis seperti substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor. Program pendampingan industri kecil dan menengah (IKM) serta percepatan transformasi digital juga terus didorong untuk meningkatkan efisiensi.

Pemerintah bahkan tengah menyiapkan insentif baru guna menjaga utilisasi industri dan mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). 

“Bapak Menteri Perindustrian sedang menyiapkan usulan insentif baru dan kebijakan perlindungan industri dalam negeri dalam menghadapi dampak gejolak geopolitik,” kata Febri.

Meski berada di zona kontraksi, kinerja manufaktur Indonesia dinilai masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya. 

Optimisme pelaku industri juga tetap terjaga, tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri yang mencapai 70,1 persen untuk enam bulan ke depan, meski sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI