Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Literasi Rendah, Guru Besar UIN Ar-Raniry Dorong Asuransi Syariah Masuk Kampus dan Dayah

Literasi Rendah, Guru Besar UIN Ar-Raniry Dorong Asuransi Syariah Masuk Kampus dan Dayah

Selasa, 24 Maret 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Guru Besar Ekonomi Islam Prof Dr. Hafas Furqani. M. Ec. Foto: doc pribadi/Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh - Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan, literasi asuransi syariah di Aceh justru dinilai masih tertinggal. Padahal, sebagai daerah yang kerap berhadapan dengan risiko bencana, kebutuhan akan sistem perlindungan yang sesuai prinsip syariah menjadi semakin mendesak.

Guru Besar Ekonomi Islam Prof Dr. Hafas Furqani. M. Ec  menilai literasi asuransi syariah di Aceh masih rendah dan membutuhkan langkah serius serta kolaboratif dari berbagai pihak. Dalam wawancara dengan Dialeksis, ia mendorong agar sosialisasi asuransi syariah tidak hanya dilakukan oleh industri, tetapi juga melibatkan kampus dan lembaga pendidikan keagamaan seperti dayah.

Menurut Hafas, pendekatan edukasi berbasis komunitas akademik dan keagamaan penting untuk menjawab keraguan masyarakat, terutama terkait legalitas asuransi dalam perspektif syariah. 

“Lembaga asuransi syariah perlu menggandeng akademisi, mahasiswa, hingga dayah untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat,” ujarnya kepada Dialeksis saat dihubungi, Selasa 24 Maret 2026.

Ia menjelaskan, asuransi syariah pada dasarnya berfungsi sebagai instrumen perlindungan untuk meringankan beban ekonomi ketika terjadi musibah. Karena itu, pemahaman tentang pentingnya proteksi perlu diperkenalkan sejak dini, bahkan di bangku sekolah. Dengan literasi yang kuat sejak awal, masyarakat diharapkan memiliki kesadaran untuk mempersiapkan perlindungan diri dan keluarga di masa depan.

Hafas menilai rendahnya penetrasi asuransi syariah di Aceh tidak bisa dilepaskan dari minimnya literasi publik serta belum optimalnya sinergi antara pemerintah, industri jasa keuangan syariah, akademisi, dan ulama. Padahal, sebagai daerah yang kerap dilanda bencana, Aceh memiliki urgensi tinggi terhadap sistem perlindungan berbasis syariah.

“Dampak bencana terhadap keluarga dan masyarakat bisa diminimalkan jika asuransi syariah menjadi bagian dari gaya hidup,” kata dia.

Ia menambahkan, ragam produk asuransi syariah sebenarnya cukup luas, mulai dari asuransi jiwa, kesehatan, kerusakan aset, hingga asuransi pertanian. Bahkan, sejumlah produk telah terintegrasi dengan skema investasi yang memungkinkan perencanaan keuangan jangka panjang.

Khusus untuk sektor pertanian, Hafas menekankan pentingnya kehadiran asuransi sebagai jaring pengaman bagi petani. Ia mencontohkan kondisi banjir yang kerap merusak sawah dan ladang, menyebabkan petani mengalami kerugian berlapis”kehilangan hasil panen sekaligus modal usaha.

“Jika asuransi pertanian berjalan optimal, petani bisa mendapatkan dana dari skema tabarru’ untuk menutup kerugian sekaligus menjadi modal memulai kembali usaha,” ujarnya.

Hafas juga menyoroti pentingnya inovasi produk dan kemudahan akses agar asuransi syariah lebih inklusif. Ia mendorong perusahaan asuransi untuk menghadirkan produk yang sederhana, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal, termasuk skema mikro yang terjangkau bagi kelompok berpenghasilan rendah.

Selain itu katanya, peran pemerintah dinilai krusial dalam memperluas penetrasi melalui regulasi yang mendukung, insentif, serta integrasi dengan program perlindungan sosial. Dengan langkah terpadu, ia optimistis asuransi syariah dapat berkembang dan menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Aceh.

Pada akhirnya Prof Hafas menyampaikan, penguatan literasi dan perluasan akses asuransi syariah bukan semata urusan industri keuangan, melainkan bagian dari upaya membangun ketahanan sosial. Di tengah ketidakpastian dan risiko yang kian kompleks, kesadaran untuk saling melindungi melalui prinsip gotong royong dalam skema syariah menjadi fondasi penting menuju masyarakat yang lebih tangguh dan berdaya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI