Kamis, 04 Juni 2026
Beranda / Ekonomi / Kelebihan Pasokan Telur, Kementan Genjot Penyerapan Lewat Program MBG dan BUMN

Kelebihan Pasokan Telur, Kementan Genjot Penyerapan Lewat Program MBG dan BUMN

Rabu, 03 Juni 2026 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Indri

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan produksi telur saat ini tumbuh lebih cepat dibandingkan peningkatan serapan pasar. Kondisi tersebut menyebabkan harga di tingkat peternak mengalami tekanan karena pasokan melimpah. [Foto: dok. Kementan]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat upaya penyerapan telur ayam ras guna menjaga harga di tingkat peternak yang tertekan akibat kelebihan pasokan di sejumlah daerah sentra produksi. Langkah tersebut dilakukan melalui perluasan pasar, penguatan distribusi antardaerah, hingga optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan produksi telur saat ini tumbuh lebih cepat dibandingkan peningkatan serapan pasar. Kondisi tersebut menyebabkan harga di tingkat peternak mengalami tekanan karena pasokan melimpah.

"Kita harus jaga para peternak agar tidak dimainkan oleh para middleman. Kiranya daerah yang masih defisit telur dapat langsung menyerap dari daerah sentra produksi, sehingga rantai distribusi lebih efisien dan harga di tingkat peternak tetap terjaga," kata Agung, Rabu (3/6/2026).

Untuk memperluas pasar, Kementan mendorong peningkatan penggunaan telur dalam Program MBG. Upaya tersebut telah ditindaklanjuti oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang menginstruksikan pelaksana program agar mengutamakan pembelian telur dari peternak lokal dengan mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah.

Menurut Agung, program MBG menjadi peluang besar untuk menyerap produksi peternak sekaligus meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat. 

"Kami terus berupaya memperkuat penyerapan produksi peternak melalui berbagai instrumen yang tersedia. Program MBG menjadi salah satu peluang besar untuk memperluas pasar telur sekaligus meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat," ujarnya.

Selain melalui MBG, pemerintah juga mendorong keterlibatan BUMN pangan untuk menyerap telur dari daerah yang mengalami surplus produksi dan mendistribusikannya ke wilayah yang masih kekurangan pasokan. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi penumpukan stok di sentra produksi dan menjaga harga tetap stabil.

Kementan juga mengingatkan pelaku usaha ayam petelur agar menyesuaikan produksi dengan kemampuan pasar menyerap hasil ternak. Pengaturan populasi dan afkir ayam secara terukur dinilai penting untuk mencegah kelebihan pasokan yang dapat kembali menekan harga di tingkat peternak.

Di sisi lain, pemerintah mendorong pengembangan industri pengolahan telur agar produksi berlebih dapat diserap menjadi produk bernilai tambah. Dengan perluasan pasar, distribusi yang lebih merata, serta penguatan industri hilir, pemerintah optimistis harga telur dapat kembali bergerak menuju HAP sebesar Rp 26.500 per kilogram sehingga usaha peternak rakyat tetap berkelanjutan. [in]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI