Senin, 05 Oktober 2026
Beranda / Ekonomi / BSI Cetak Laba Rp5,3 Triliun: Bukti Nyata Kepercayaan Nasabah

BSI Cetak Laba Rp5,3 Triliun: Bukti Nyata Kepercayaan Nasabah

Senin, 05 Oktober 2026 16:30 WIB

Font: Ukuran: - +




Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Jakarta - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) terus menunjukkan laju kinerja yang impresif dengan fundamental keuangan yang semakin kokoh. Hingga Agustus 2026, bank syariah terbesar di Indonesia ini berhasil membukukan laba sebesar Rp5,30 triliun, atau tumbuh 10,07% secara tahunan (Year on Year/YoY).

Pencapaian laba tersebut tidak lepas dari strategi ekspansi bisnis yang berkualitas, penguatan dana murah, akselerasi pembiayaan, serta kontribusi signifikan dari bisnis emas dan fee based income (pendapatan berbasis biaya). Kinerja ini membuktikan bahwa BSI tidak hanya bertumpu pada besaran aset, melainkan juga pada efisiensi struktur pendanaan.

Faktor pendukung lainnya adalah penerapan manajemen risiko yang terukur, pemantauan pembiayaan yang ketat, serta penguatan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang membuat perseroan tetap tangguh di tengah dinamika ekonomi.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI melonjak 17,71% (YoY) menyentuh angka Rp389 triliun. Menariknya, porsi dana murah (CASA) mendominasi dengan capaian Rp246 triliun, yang ditopang kuat oleh tabungan sebesar Rp171 triliun. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan efisiensi biaya dana perseroan.

Tingkat efisiensi tersebut tercermin dari Cost of Fund (CoF) BSI yang susut 37 basis poin menjadi 2,30% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini memberi keleluasaan bagi BSI untuk menjaga daya saing pembiayaan sekaligus mempertahankan tingkat profitabilitas.

Di sektor fungsi intermediasi, penyaluran pembiayaan BSI tumbuh agresif. Hingga Agustus 2026, total pembiayaan mencapai Rp344 triliun atau melesat 16,21% (YoY). Angka ini menunjukkan BSI mampu mengoptimalkan likuiditasnya untuk ekspansi yang produktif, dengan tetap menjaga kualitas aset. Hal ini dibuktikan dengan rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross yang terjaga di level rendah, yakni 1,8%.

Sumber pundi-pundi perseroan juga diperkuat oleh Fee Based Income (FBI) yang melonjak 36,27% menjadi Rp5,6 triliun. Kontribusi terbesar disumbang oleh transaksi treasury dan bisnis emas. Penguatan ini mendongkrak fee based ratio BSI menjadi 23,07%, yang menandakan semakin beragamnya sumber pendapatan bank di luar bisnis pembiayaan inti.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyatakan bahwa kinerja positif hingga Agustus ini adalah bukti transformasi bisnis BSI yang menghasilkan pertumbuhan seimbang di berbagai lini, baik funding, financing, maupun non-financing income.

“Kami melihat fundamental BSI semakin kuat. Pertumbuhan laba dua digit berjalan beriringan dengan penguatan CASA, pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi, penurunan cost of fund, serta akselerasi fee based income. Ini menunjukkan mesin pertumbuhan BSI semakin terdiversifikasi dan memiliki ruang untuk terus berkembang,” ujar Anggoro, Senin (5/10/2026).

Menghadapi sisa kuartal di tahun 2026, BSI akan terus memacu pertumbuhan dana murah yang menjadi kekuatan utama perseroan. Salah satu strateginya adalah menggarap ekosistem haji dan umrah secara optimal, serta memperluas pembiayaan di segmen ritel dan konsumer yang terbukti lebih kebal terhadap guncangan ekonomi.

“Ke depan, fokus kami bukan hanya tumbuh lebih besar, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan kualitas dan profitabilitas yang semakin kuat. Kami optimistis kinerja hingga akhir tahun tetap berada di jalur yang telah ditetapkan,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI