DIALEKSIS.COM | Dubrovnik - Jalan-jalan di kota tua Dubrovnik, Kroasia, mulai dipadati wisatawan dari berbagai negara meski musim panas masih beberapa bulan lagi. Kondisi ini biasanya menjadi sinyal awal musim liburan yang ramai, namun tahun ini dibayangi ketidakpastian akibat situasi global.
Ketegangan yang dipicu konflik di Timur Tengah, termasuk perang Iran, serta lonjakan harga bahan bakar memunculkan kekhawatiran terhadap industri pariwisata. Kota pesisir di Laut Adriatik itu sangat bergantung pada kunjungan wisatawan internasional sebagai salah satu penopang utama ekonomi Kroasia.
Direktur Dewan Pariwisata Dubrovnik, Miro Draskovic, mengatakan situasi saat ini terus dipantau secara ketat. “Situasinya memang sangat, sangat sulit, dan kami mengikuti perkembangan setiap hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, pasar Amerika Serikat masih kuat, namun wisatawan dari Australia mulai menghadapi kendala untuk bepergian ke Eropa.
Meski demikian, data sementara menunjukkan tren positif. Bandara Dubrovnik mencatat peningkatan jumlah penumpang sebesar 13 persen selama periode Paskah dibandingkan tahun lalu. Ramainya aktivitas wisata, termasuk kedatangan kapal pesiar, menunjukkan daya tarik kota tersebut masih tinggi.
Sebagai situs warisan dunia yang dilindungi UNESCO, Dubrovnik dikenal dengan sejarah abad pertengahan, arsitektur klasik, serta lokasinya di tepi laut. Popularitasnya semakin meningkat sejak menjadi lokasi syuting serial televisi Game of Thrones.
Namun, ketergantungan tinggi terhadap transportasi udara membuat Dubrovnik lebih rentan terhadap dampak krisis bahan bakar. Sekitar 80 persen wisatawan datang melalui jalur udara, sehingga kenaikan harga tiket berpotensi menekan jumlah kunjungan pada musim puncak.
Di sisi lain, Kepala Badan Energi Internasional Fatih Birol sebelumnya memperingatkan potensi krisis energi di Eropa, meski pejabat Uni Eropa menyatakan belum ada bukti kekurangan bahan bakar. Hingga kini, otoritas setempat tetap berharap kondisi segera stabil, sembari berupaya menjaga performa sektor pariwisata. [db-jg-AP/abc news]