Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Beranda / Berita / Dunia / WHO Investigasi Penyakit Aneh di Tanzania

WHO Investigasi Penyakit Aneh di Tanzania

Sabtu, 14 September 2019 17:09 WIB

Font: Ukuran: - +
Ilustrasi perempuan Tanzania. [Foto: Reuters/CNN Indonesia]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menyelidiki kasus penyakit aneh yang menyebabkan kematian seorang wanita di Tanzania. 

Kemungkinan, wanita itu bukan mengidap Ebola, seperti diungkap juru bicara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, Jumat (13/9/2019).

Saat ini Ebola tengah menjadi perhatian di kawasan itu akibat wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo. Sementara itu pada Kamis (12/9/2019), WHO mengumumkan pihaknya sedang menyelidiki kematian seorang pasien di Tanzania.

Wanita yang meninggal di Dar es Salaam pada 8 September itu menunjukkan gejala-gejala umum pada beberapa penyakit. Gejala yang dideritanya serupa dengan penderita demam berdarah atau malaria dan Ebola.

Namun, tidak ada indikasi perempuan itu telah bepergian ke daerah yang terkena atau melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi.

Sementara penyakit malaria dan demam berdarah merupakan penyakit endemik di Afrika Timur. Hal ini disebutkan kata Justin Williams, Direktur Komunikasi dan Kebijakan di kantor Pusat Amerika Serikat untuk Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS di Nairobi. 

"Ini lebih mungkin sesuatu yang lain. Dia belum melakukan perjalanan ke (Republik Demokratik Kongo) dan tidak dalam kontak dekat dengan seorang pasien Ebola dari DRC atau Uganda," katanya kepada Reuters.

Dia menambahkan bahwa pemerintah Tanzania atau WHO dapat merilis hasil pengujian mereka pada Jumat malam atau Sabtu. Menurutnya, pengujian Ebola biasanya memakan waktu satu hingga dua hari.

Kantor regional WHO untuk Afrika mengatakan sudah mengetahui rumor kematian akibat penyakit yang tidak diketahui itu. Lembaga itu menyebut akan "bekerja dengan otoritas kesehatan nasional dan mengerahkan tim teknis ke Tanzania untuk menyelidiki rumor ini sebagai masalah urgensi," tulis WHO dalam pernyataan, Kamis (12/9/2019).

Juru bicara WHO, Tarik Jasarevic mengatakan kepada Reuters di Jenewa, Jumat, bahwa badan itu "tidak memiliki konfirmasi resmi mengenai penyakit tertentu". 

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Tanzania tidak menjawab panggilan.

Wabah Ebola di Kongo, yang terbesar kedua di dunia dalam sejarah, telah menginfeksi hampir 3.000 orang di Kongo. Wabah yangdimulai pada Agustus 2018 ini telah menewaskan dua pertiga penderitanya.

Beberapa kasus telah dikonfirmasi di Uganda. Warga Uganda ini tercatat terinfeksi Ebola setelah melintasi perbatasan. Namun, mereka semua meninggal atau dikirim kembali ke Kongo untuk perawatan khusus.(me/CNN Indonesia)

Editor :
Makmur Emnur

Komentar Anda