DIALEKSIS.COM | Internasional - Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, pertengahan Mei 2026, bukan sekadar agenda diplomatik rutin. Di balik protokol kenegaraan, dua kekuatan terbesar dunia itu tengah menguji ulang batas-batas kompromiā”dari perang dagang yang tak kunjung reda hingga ketegangan di Selat Taiwan.
Laporan CNBC Indonesia Research pada 10 Mei 2026 menyebutkan, pertemuan ini akan memusatkan perhatian pada sengketa perdagangan yang selama ini menjadi sumber friksi utama kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, Washington dan Beijing saling melancarkan kebijakan tarif, pembatasan ekspor, hingga proteksi teknologi yang memperdalam rivalitas mereka.
Di meja perundingan, masing-masing datang dengan kepentingan yang tak mudah dipertemukan. China menginginkan pelonggaran pembatasan ekspor teknologi tinggi, terutama semikonduktor canggih, yang selama ini dibatasi Amerika. Sebaliknya, Washington menekan Beijing agar membuka akses lebih luas terhadap rare earth mineral strategis yang menjadi tulang punggung industri teknologi dan pertahanan modern.
Ketimpangan sekaligus saling ketergantungan menjadi paradoks hubungan kedua negara. Data Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan ekonomi Amerika masih unggul dengan Produk Domestik Bruto sekitar US$ 32 triliun, sementara China berada di kisaran US$ 20 triliun. Namun dalam rantai pasok global, terutama manufaktur dan bahan baku, Beijing memegang kartu yang tak kalah menentukan.
Isu Taiwan diperkirakan menjadi salah satu titik paling sensitif dalam pertemuan tersebut. Bagi China, Taiwan adalah bagian dari kedaulatan yang tak bisa ditawar. Sedangkan Amerika Serikat, meski mengakui kebijakan āOne Chinaā, tetap mempertahankan dukungan terhadap Taiwan, terutama dalam sektor pertahanan. Ketegangan ini berulang kali menjadi bara yang sewaktu-waktu bisa menyulut konflik terbuka.
Di luar itu, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) muncul sebagai arena persaingan baru. Presiden Trump sebelumnya menyatakan Amerika berada di garis depan dalam pengembangan AI. Pernyataan ini bukan sekadar klaim teknologi, melainkan sinyal bahwa persaingan kedua negara telah bergeser ke sektor strategis yang akan menentukan dominasi global di masa depan.
Pembahasan juga diperkirakan meluas ke isu-isu geopolitik lain, termasuk Iran dan stabilitas kawasan. Selain itu, kedua negara disebut akan menjajaki kerja sama terbatas di bidang perdagangan, seperti pembelian produk pertanian Amerika oleh China, hingga kemungkinan penguatan mekanisme investasi bilateral.
Namun, di tengah banyaknya agenda, satu hal tetap jelas: hubungan Amerika Serikat dan China berada dalam kondisi yang saling membutuhkan sekaligus saling mencurigai. Mereka tidak bisa sepenuhnya berpisah, tetapi juga tidak mudah untuk benar-benar sejalan.
Pertemuan Trump dan Xi kali ini, dengan demikian, bukan hanya tentang mencari titik temu. Ia adalah upaya menjaga agar rivalitas dua raksasa ini tidak berubah menjadi konflik yang lebih terbuka yang dampaknya akan dirasakan jauh melampaui Washington dan Beijing.