DIALEKSIS.COM | Kyiv - Rusia melancarkan salah satu serangan udara terbesar sejak invasi ke Ukraina dimulai lebih dari empat tahun lalu. Rentetan rudal dan ratusan drone menghantam Ibu Kota Ukraina, Kyiv, sejak Kamis dini hari hingga Jumat (3/7/2026), menewaskan sedikitnya 27 orang dan melukai puluhan lainnya.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyebut serangan tersebut sebagai yang terbesar dan paling dahsyat yang pernah menghantam ibu kota Ukraina selama perang berlangsung.
Menurut otoritas Ukraina, militer Rusia mengerahkan hampir 500 drone serta lebih dari 70 rudal jelajah dan rudal balistik dalam operasi yang berlangsung selama berjam-jam. Ledakan terdengar tanpa henti di berbagai penjuru Kyiv ketika sistem pertahanan udara Ukraina berupaya mencegat serangan yang datang secara bergelombang.
Selain menyasar Kyiv, serangan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Ukraina.
Pemerintah Rusia mengklaim operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan fasilitas industri militer Ukraina sebagai respons atas serangan Kyiv terhadap infrastruktur sipil di wilayah Rusia.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan Moskow akan terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Ukraina hingga tujuan militernya tercapai.
Di sisi lain, pemerintah Ukraina membantah klaim tersebut dan menuduh Rusia kembali menargetkan kawasan permukiman sipil. Kyiv menilai tidak tepat menyamakan tindakan negara yang melakukan invasi dengan negara yang sedang mempertahankan diri.
Besarnya ancaman serangan membuat puluhan ribu warga memilih berlindung di stasiun bawah tanah. Otoritas Metro Kyiv mencatat sekitar 52.500 warga, termasuk 4.500 anak-anak, menghabiskan malam di stasiun metro. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan paling parah berada di Distrik Darnitskyi, kawasan tenggara Kyiv. Dua rudal menghantam kompleks apartemen bertingkat yang berada di kawasan padat penduduk.
Satu rudal menciptakan kawah besar di dekat sebuah taman kanak-kanak, sementara bangunan-bangunan di sekitarnya hangus terbakar dengan balkon-balkon logam yang bengkok akibat ledakan.
Rudal kedua menghantam sisi bangunan apartemen sembilan lantai hingga sebagian konstruksinya runtuh menjadi tumpukan beton. Tim penyelamat terus melakukan pencarian terhadap korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan.
Sejumlah warga dilaporkan belum ditemukan. Keluarga korban hanya bisa menunggu dengan penuh kecemasan sambil menyaksikan proses evakuasi berlangsung.
Salah seorang warga, Svitlana, mengaku berlindung di lorong apartemennya saat sirene serangan udara berbunyi. Ia mengatakan dentuman ledakan sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak perang berkecamuk.
"Itu tidak lagi terasa menakutkan karena saya sudah berkali-kali mengalaminya," ujarnya.
Svitlana juga menceritakan tragedi yang dialaminya selama perang. Dalam serangan Rusia sebelumnya di kota lain, ia mengalami luka serius dan kehilangan ibunya. Dua tahun kemudian, putranya gugur di medan perang saat membela Ukraina.
Serangan terbaru ini kembali memperlihatkan bahwa konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari kata usai. Di tengah meningkatnya intensitas serangan, warga sipil tetap menjadi pihak yang paling merasakan dampak perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
