Beranda / Berita / Dunia / Serangan Pemberontak Houthi ke Fasilitas Minyak, Akibatkan Kurs Riyal K.O

Serangan Pemberontak Houthi ke Fasilitas Minyak, Akibatkan Kurs Riyal K.O

Selasa, 24 November 2020 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

(REUTERS/Faisal Al Nasser)


DIALEKSIS.COM | Dunia - Nilai tukar riyal melemah melawan rupiah pada perdagangan Senin (23/11/2020), setelah berhasil menguat tipis sepanjang pekan lalu, sekaligus mengakhiri penurunan 7 pekan beruntun.

Melansir data Refinitiv, riyal hari ini melemah 0,16% ke Rp 3.767/SAR di pasar spot. Sementara sepanjang pekan lalu menguat 0,03%.

Kabar buruk datang dari Arab Saudi hari ini, fasilitas minyak yang dimiliki diserang menggunakan rudal oleh kelompok pemberontak Houthi. Serangan tersebut ditujukan ke stasiun distribusi minyak mentah milik perusahaan Saudi Aramco.

Stasiun tersebut berada di pinggiran Jeddah. Seorang juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan serangan itu dilakukan dengan rudal tipe Quds-2.

"Serangan itu sangat akurat, dan ambulans serta mobil pemadam kebakaran melesat ke sasaran," kata Yahya Serea, juru bicara Houthi sebagaimana dilaporkan Reuters.

Belum ada konfirmasi langsung dari Saudi atas klaim Houthi tersebut. Fasilitas produksi dan ekspor minyak Aramco sebagian besar berada di Provinsi Timur Saudi, lebih dari 1.000 km di seluruh negeri dari Jeddah.

Minyak mentah merupakan sumber pendapatan utama Arab Saudi, saat fasilitas distribusinya terganggu tentunya akan mempengaruhi pendapatan negara. Kurs riyal pun terpukul.

Namun, di sisi lain, kabar serangan tersebut membuat harga minyak mentah melesat naik. Harga minyak mentah jenis Brent melesat 2,5% ke atas US$ 46 per barel, tertinggi sejak 31 Agustus lalu.

Sementara itu rupiah kembali perkasa setelah Bank Indonesia (BI) pekan lalu juga melaporkan transaksi berjalan (current account) yang mencatat surplus untuk pertama kalinya dalam 9 tahun terakhir. Surplus transaksi berjalan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada kuartal III-2020, transaksi berjalan mencatat surplus sebesar US$ 1 miliar atau 0,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Transaksi berjalan menjadi faktor yang begitu krusial dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil [cnbcindonesia].

Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda