Selasa, 19 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Serangan Drone di Sudan Tewaskan 24 Pengungsi, Delapan di Antaranya Anak-anak

Serangan Drone di Sudan Tewaskan 24 Pengungsi, Delapan di Antaranya Anak-anak

Minggu, 08 Februari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Seorang perempuan pengungsi berdiri di depan sebuah kotak kardus kosong bertuliskan "USA", di sebuah kamp pengungsi, di el-Obeid, Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan, 12 Januari 2026 [Foto: El Tayeb Siddig/Reuters]


DIALEKSIS.COM | Sudan - Serangan pesawat tak berawak (drone) oleh kelompok paramiliter terkenal menghantam sebuah kendaraan yang membawa keluarga pengungsi di Sudan tengah pada hari Sabtu (7/2/2026), menewaskan sedikitnya 24 orang, termasuk delapan anak-anak, kata sebuah kelompok dokter.

"Serangan oleh Pasukan Pendukung Cepat (RSF) terjadi di dekat kota Rahad di Provinsi Kordofan Utara," kata Jaringan Dokter Sudan (the Sudan Doctors Network).

Kendaraan tersebut mengangkut pengungsi yang melarikan diri dari pertempuran di daerah Dubeiker di Kordofan Utara, kata Jaringan Dokter Sudan dalam sebuah pernyataan. "Di antara anak-anak yang tewas terdapat dua bayi," ucapnya.

Lembaga itu mendesak komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia untuk "mengambil tindakan segera untuk melindungi warga sipil dan meminta pertanggungjawaban langsung kepemimpinan RSF atas pelanggaran ini."

Tidak ada komentar langsung dari RSF, yang telah berperang melawan militer Sudan untuk menguasai negara itu selama sekitar tiga tahun.

Sudan terjerumus ke dalam kekacauan pada April 2023 ketika perebutan kekuasaan antara militer dan RSF meledak menjadi pertempuran terbuka di ibu kota, Khartoum, dan di tempat lain di negara itu.

Perang yang menghancurkan ini telah menewaskan lebih dari 40.000 orang, menurut angka PBB, tetapi kelompok-kelompok bantuan mengatakan bahwa angka tersebut kurang dari jumlah sebenarnya dan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

Perang ini menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia dengan lebih dari 14 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Perang ini memicu wabah penyakit dan mendorong sebagian wilayah negara itu ke dalam kelaparan. [AP]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI