Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Reporters Without Borders: Junta Burkina Faso Diduga Siksa Jurnalis Investigasi

Reporters Without Borders: Junta Burkina Faso Diduga Siksa Jurnalis Investigasi

Kamis, 07 Mei 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Dalam foto yang dirilis oleh Reporters Without Borders ini, jurnalis Burkina Faso Atiana Serge Oulon berbicara pada konferensi pers di Dakar, Senegal, pada 3 April 2023. [Foto: dok. Reporters Without Borders via AP]


DIALEKSIS.COM | Burkina Faso - Otoritas Burkina Faso secara diam-diam menahan dan menyiksa seorang jurnalis investigasi terkemuka dan puluhan orang lainnya di fasilitas penahanan darurat di ibu kota, kata sebuah kelompok advokasi internasional pada hari Rabu (6/5/2026), dalam penindakan terbaru terhadap perbedaan pendapat politik di negara Afrika Barat tersebut.

Reporters Without Borders mengatakan Atiana Serge Oulon, editor surat kabar L’Evenement, dibawa dari rumahnya pada Juni 2024 oleh beberapa pria bersenjata berpakaian sipil. Junta militer Burkina Faso kemudian mengatakan dia telah direkrut untuk dinas militer.

Sebaliknya, menurut kelompok advokasi tersebut, mantan tahanan mengatakan Oulon dan hingga 40 orang lainnya ditahan di sebuah rumah yang dijaga ketat di ibu kota, Ouagadougou, sejak akhir tahun 2025, bertentangan dengan klaim pemerintah. Mereka melaporkan tidur di lantai tanpa alas, harus minum air toilet, dan dipukuli oleh penjaga yang menggunakan tali dan ranting pohon.

Lokasi Oulon saat ini tidak diketahui. Reporters Without Borders mengatakan telah membagikan temuannya kepada pemerintah Burkina Faso, yang tidak memberikan tanggapan.

Kelompok tersebut mengatakan Oulon telah menjadi sasaran junta sejak tahun 2022, ketika ia merilis investigasi yang menuduh seorang kapten tentara melakukan penggelapan. Kelompok tersebut menyerukan pembebasan segera jurnalis tersebut.

Kelompok advokasi tersebut mengatakan lingkaran dalam junta tampaknya terlibat langsung dalam penahanan, dengan seorang petugas keamanan untuk pemimpin junta Kapten Ibrahim Traoré secara pribadi memberi pengarahan kepada para tahanan sebelum pembebasan mereka dan memperingatkan mereka untuk tidak berbicara.

Sejak merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2022, junta Burkina Faso telah menindak keras perbedaan pendapat politik dan jurnalis, menutup media independen dan secara paksa merekrut para pembangkang ke dalam tentara untuk melawan militan Islam.

Human Rights Watch dalam sebuah laporan bulan April menyatakan bahwa di bawah kepemimpinan Traoré, junta telah melakukan penindakan luas yang telah menumbuhkan “suasana teror dan sangat membatasi arus informasi.” [AP/abc news]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI