DIALEKSIS.COM | Internasional - Hubungan Kanada dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Perselisihan kebijakan perdagangan, pemberlakuan tarif tinggi, hingga pernyataan Presiden Donald Trump yang berulang kali menyinggung kemungkinan Kanada menjadi negara bagian ke-51 AS, kini menjadi ujian serius bagi hubungan kedua negara bertetangga tersebut.
Namun, di tengah tekanan dari Washington, perkembangan politik di Kanada justru menunjukkan menguatnya dukungan terhadap keutuhan negara. Hasil awal pemungutan suara di Provinsi Alberta memperlihatkan mayoritas pemilih memilih tetap menjadi bagian dari Kanada, alih-alih memulai proses menuju pemisahan wilayah.
Associated Press melaporkan, sekitar 75 persen pemilih dalam hasil sementara referendum Alberta mendukung provinsi itu tetap berada di dalam Kanada. Sementara itu, sekitar 25 persen mendukung dimulainya proses hukum yang dapat membuka jalan menuju referendum pemisahan pada masa mendatang.
Pemungutan suara yang berlangsung pada Senin, 19 Oktober 2026, tersebut bukan referendum langsung untuk menentukan kemerdekaan Alberta. Hasil resminya dijadwalkan diumumkan pada 29 Oktober 2026.
Jasa Perkembangan ini menjadi dorongan politik bagi Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang tengah berupaya menjaga persatuan nasional di tengah tekanan eksternal dan perbedaan kepentingan antara pemerintah federal dengan sejumlah wilayah. Carney menyambut hasil awal tersebut sebagai sinyal bahwa mayoritas warga Alberta memilih persatuan.
Sebelumnya, Carney memperingatkan bahwa Kanada menghadapi situasi dunia yang semakin berbahaya dan terpecah. Ia juga menyoroti adanya kekuatan dari luar yang, menurutnya, berupaya memecah belah Kanada demi memperbesar pengaruhnya.
Peringatan itu muncul bersamaan dengan perang dagang antara Ottawa dan Washington serta pernyataan Trump mengenai kemungkinan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Tarif 50 Persen Jadi Sumber Ketegangan
Di luar persoalan politik dan kedaulatan, konflik kedua negara terutama terlihat dalam kebijakan perdagangan. Pemerintahan Trump memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap berbagai produk Kanada dengan menggunakan Section 338 dari Tariff Act 1930.
Kebijakan tersebut mencakup beragam produk, antara lain anggur, furnitur, produk susu, semen, pakaian, alat pancing, dan perlengkapan hoki. Pemerintah AS menyatakan langkah itu merupakan respons terhadap apa yang mereka anggap sebagai perlakuan diskriminatif Kanada terhadap produk Amerika, termasuk di sektor otomotif, minuman beralkohol, dan produk susu.
Kanada menolak kebijakan tarif tersebut dan mengambil langkah balasan terhadap sejumlah barang impor dari AS.
Perselisihan semakin tajam setelah Carney membatalkan potensi kesepakatan dagang pada 22 Agustus 2026. Ottawa menilai tuntutan tambahan Washington pada tahap akhir perundingan tidak dapat diterima. Setelah pembicaraan itu gagal, kedua negara belum menjadwalkan kembali perundingan tingkat tinggi, meskipun komunikasi antarpihak masih berlangsung.
Reuters melaporkan, persoalan tarif kini juga menghadapi tantangan hukum di Amerika Serikat. Pada 20 Oktober 2026, importir makanan Gellert Global Group mengajukan gugatan untuk menentang tarif 50 persen atas barang-barang Kanada.
Pihak penggugat mempersoalkan penggunaan aturan perdagangan yang telah berusia hampir satu abad tersebut. Mereka berpendapat, kewenangan penetapan tarif berada dalam batas-batas konstitusional yang melibatkan Kongres AS.
Gugatan itu belum berarti tarif otomatis dibatalkan. Namun, langkah hukum tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan perdagangan pemerintahan Trump juga menghadapi perlawanan dari pelaku usaha di dalam negeri AS sendiri.
Washington Belum Mendesak Kesepakatan Baru
Sikap Washington menunjukkan bahwa penyelesaian konflik perdagangan tidak akan berlangsung cepat. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada September lalu menyatakan Trump merasa nyaman dengan situasi perundingan saat itu dan tidak melihat urgensi untuk segera mencapai kesepakatan baru dengan Kanada.
Meski demikian, hubungan ekonomi kedua negara belum terputus. Greer menyebut perdagangan masih berlangsung, termasuk pasokan minyak, gas, dan potas dari Kanada yang dibutuhkan AS.
Menteri Kanada yang menangani hubungan perdagangan dengan AS, Dominic LeBlanc, juga menyatakan komunikasi kedua pihak tetap berjalan. Pada 20 Oktober, ia menegaskan bahwa Kanada pada akhirnya akan mencari kesepakatan yang menguntungkan perekonomian nasionalnya.
Posisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan pendekatan. Washington mempertahankan tekanan tarif sebagai instrumen kebijakan perdagangan, sedangkan Ottawa berupaya membela kepentingan ekonominya tanpa menutup kemungkinan tercapainya kesepakatan baru.
Di tengah ketegangan dengan Washington, pemerintah Carney juga berupaya mengurangi ketergantungan perdagangan terhadap Amerika Serikat. Salah satu langkahnya adalah memperluas kemitraan ekonomi dan strategis dengan negara lain.
Reuters melaporkan, Carney dijadwalkan mengunjungi Turki pada pekan ini untuk memperkuat kerja sama di sektor pertahanan, energi, ekonomi, dan hubungan diplomatik. Kedua negara diperkirakan membahas deklarasi bersama serta peluang perdagangan, termasuk potensi kerja sama gas alam cair dan mineral penting.
Upaya tersebut sejalan dengan strategi Ottawa untuk memperluas akses pasar dan membangun ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian hubungan dengan Washington. Pemerintah Kanada juga telah membahas langkah untuk mendukung pekerja dan pelaku usaha yang terdampak tarif AS serta memperkuat industri dalam negeri.
Diversifikasi itu tidak serta-merta mengakhiri ketergantungan Kanada terhadap pasar Amerika. Kedekatan geografis, hubungan industri, serta kebutuhan energi membuat hubungan ekonomi kedua negara tetap penting. Namun, konflik yang berlangsung menunjukkan bahwa Kanada semakin terdorong mencari pilihan lain untuk mengurangi risiko ketika kebijakan perdagangan AS berubah.
Ujian bagi Hubungan Dua Negara Tetangga
Perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa ketegangan Kanada-AS kini tidak hanya berkutat pada tarif dan akses pasar. Perselisihan tersebut juga menyentuh isu kedaulatan, solidaritas nasional, dan arah strategi ekonomi Kanada ke depan.
Hasil awal pemungutan suara di Alberta menjadi salah satu indikator bahwa dorongan pemisahan wilayah belum memperoleh dukungan mayoritas. Di saat bersamaan, pemerintah Carney menghadapi tekanan untuk melindungi industri domestik, menjaga persatuan nasional, dan mencari ruang negosiasi dengan Washington.
Bagi AS, kebijakan tarif menjadi instrumen untuk menekan mitra dagangnya agar menerima tuntutan perdagangan Amerika. Namun, gugatan dari importir AS sendiri menunjukkan bahwa konsekuensi kebijakan tersebut juga diperdebatkan di dalam negeri.
Belum ada tanda bahwa hubungan diplomatik dan perdagangan kedua negara akan terputus sepenuhnya. Meski demikian, jalan menuju kesepakatan baru masih terbuka dengan ketidakpastian yang besar.
Persoalan utamanya kini bukan sekadar siapa yang lebih kuat dalam perang tarif, melainkan bagaimana Kanada dan AS mengelola hubungan yang saling membutuhkan ketika kepentingan politik dan ekonomi keduanya semakin berbenturan.