DIALEKSIS.COM | Iran - Hampir enam bulan setelah perang dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari 2026, kondisi militer Iran memperlihatkan dua wajah yang bertolak belakang. Kekuatan konvensionalnya terutama angkatan udara, pertahanan udara, dan armada laut mengalami kerusakan besar. Namun, jaringan rudal, pesawat nirawak, fasilitas bawah tanah, serta kemampuan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz belum berhasil dilumpuhkan.
Hasil tracking riset digital Redaksi Dialeksis hingga Rabu, 26 Agustus 2026, menemukan bahwa Iran kini lebih lemah untuk menghadapi perang udara dan laut secara terbuka. Meski demikian, Teheran masih mempunyai kekuatan serangan jarak jauh dan kemampuan perang asimetris yang cukup untuk mengancam pangkalan militer, negara-negara Teluk, serta jalur energi dunia.
Laporan terbaru Reuters menyebut serangan Amerika Serikat telah menghancurkan sebagian besar kekuatan laut dan udara Iran. Tetapi Teheran masih menyimpan rudal dan drone dalam jumlah yang cukup untuk mengganggu kapal tanker di Selat Hormuz dan menyerang negara-negara lawannya di kawasan.
Angka kerusakan masih diperdebatkan
Pemerintah Amerika Serikat memberikan gambaran sangat besar mengenai kerusakan militer Iran. Dalam pernyataan resmi pada 8 April 2026, Gedung Putih mengklaim lebih dari 85 persen basis industri pertahanan Iran telah dihancurkan.
Washington juga menyatakan 150 kapal perang Iran dari 16 kelas telah dihancurkan, seluruh kapal selamnya ditenggelamkan, dan 97 persen persediaan ranjau laut Iran dilumpuhkan. Lebih dari 13 ribu sasaran disebut telah diserang selama 38 hari operasi tempur besar.
Namun, angka tersebut merupakan klaim sepihak pemerintah Amerika Serikat dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Penilaian intelijen Amerika sendiri menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Pada Maret 2026, Reuters melaporkan Washington hanya dapat memastikan sekitar sepertiga persediaan rudal Iran telah dihancurkan. Nasib sepertiga lainnya tidak jelas karena kemungkinan rusak, tertimbun, atau masih tersimpan di jaringan terowongan.
Penilaian intelijen rahasia Amerika yang diberitakan pada Mei bahkan menyebut Iran masih mempertahankan sekitar 75 persen peluncur bergerak dan 70 persen persediaan rudal sebelum perang. Data itu kembali dikutip dalam laporan Al Jazeera pada 22 Agustus 2026.
Perbedaan angka tersebut memperlihatkan sulitnya menghitung kekuatan Iran. Sebagian besar rudal, peluncur, dan fasilitas produksinya ditempatkan di kompleks bawah tanah yang tersebar di wilayah negara itu.
Angkatan udara menjadi titik terlemah
Salah satu kelemahan paling nyata Iran terdapat pada angkatan udara dan sistem pertahanan udaranya. Armada pesawat tempur Iran sebagian besar berusia tua, sedangkan jaringan radar serta baterai pertahanan udara menjadi sasaran utama serangan Amerika Serikat dan Israel.
Serangan udara berulang kali menembus wilayah Iran dan menghantam pusat komando, fasilitas radar, gudang rudal, serta instalasi militer di Bandar Abbas dan sejumlah daerah pesisir. Pada Juli 2026, militer Amerika kembali menyerang pusat komando, sistem pertahanan udara, fasilitas rudal, drone, dan pengawasan pantai Iran, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Iran mengklaim telah mengoperasikan sistem pertahanan udara baru dan berhasil menembak sejumlah pesawat serta drone Amerika. Namun, keberhasilan dalam beberapa pencegatan tidak mengubah fakta bahwa Iran belum mampu sepenuhnya melindungi wilayah udaranya dari serangan lawan.
Dengan kondisi tersebut, Iran diperkirakan tidak memiliki kemampuan memadai untuk memperoleh keunggulan udara. Kekuatan udaranya lebih banyak berfungsi mempertahankan wilayah tertentu, bukan menjalankan operasi udara besar secara berkelanjutan.
Armada laut hancur, Hormuz belum lepas
Di laut, Iran kehilangan banyak kapal perang konvensional. Akan tetapi, kerusakan armada tidak serta-merta menghapus pengaruh Teheran di Selat Hormuz.
Iran masih mengandalkan rudal jelajah antikapal, drone, ranjau, kapal cepat, dan baterai pertahanan pantai. Pola tersebut memungkinkan Iran menekan pelayaran tanpa harus berhadapan langsung dengan armada Amerika yang lebih besar.
Pada 13 Agustus 2026, Reuters melaporkan bahwa serangan berbulan-bulan telah merusak sebagian besar kemampuan militer Iran, termasuk angkatan lautnya. Namun, operasi itu belum mampu mematahkan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz.
Hingga 25 Agustus, sebagian besar lalu lintas kapal di jalur tersebut masih terganggu. Iran dan Oman kemudian membahas pembentukan koridor pelayaran sementara serta pembersihan ranjau. Perundingan berlangsung setelah sebuah kapal tanker lumpuh akibat terkena proyektil di dekat perairan Oman. Pelaku serangan belum diketahui dan tidak ada pihak yang langsung mengaku bertanggung jawab. Associated Press melaporkan kondisi itu menegaskan Selat Hormuz masih berbahaya bagi pelayaran komersial.
Iran mengandalkan rudal, drone, dan fasilitas bawah tanah
Kekuatan utama yang tersisa berada pada arsenal rudal balistik, rudal jelajah, dan drone serang. Senjata tersebut lebih murah dibandingkan pesawat tempur dan dapat diluncurkan dari lokasi tersembunyi atau kendaraan bergerak.
Iran juga memiliki jaringan fasilitas bawah tanah yang tersebar. Sebagian lini produksi di permukaan dilaporkan hancur, tetapi fasilitas tersembunyi membuat Amerika Serikat dan Israel kesulitan memastikan seberapa besar kemampuan produksi yang masih bertahan.
Kementerian Pertahanan Iran mengklaim produksi senjata dan perlengkapan militernya meningkat dua kali lipat dalam satu tahun terakhir. Produksi sejumlah perlengkapan strategis bahkan disebut naik lebih dari tiga kali lipat selama perang. Klaim itu disampaikan juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, melalui Iranian Students’ News Agency pada 22 Agustus 2026.
Teheran juga menyebut lebih dari 9.300 perusahaan terlibat dalam ekosistem produksi pertahanan. Jaringan yang tersebar tersebut diklaim membuat industri militernya tidak dapat dihancurkan hanya dengan menyerang sejumlah pabrik besar. Belum ada pemeriksaan independen yang dapat memastikan angka produksi maupun jumlah perusahaan tersebut.
Ekonomi menjadi ancaman jangka panjang
Ancaman terbesar terhadap daya tahan militer Iran bukan hanya kerusakan persenjataan, tetapi juga tekanan ekonomi. Blokade pelabuhan, jatuhnya ekspor minyak, sanksi finansial, kerusakan infrastruktur, dan keterbatasan komponen impor dapat memperlambat pemulihan kekuatan militernya.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf bahkan mengakui kekuatan militer tidak akan cukup apabila masyarakat menghadapi kelaparan, perputaran uang tersendat, dan produksi nasional melemah.
Amerika Serikat dan Iran memang tidak melakukan serangan besar selama beberapa pekan terakhir. Namun, belum ada kesepakatan damai yang mengikat. Washington justru memperluas tekanan ekonomi, sedangkan Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang kepentingan Amerika dan jalur energi apabila infrastruktur negaranya kembali menjadi sasaran. Reuters melaporkan Iran menunjukkan kesediaan bersyarat untuk kembali berunding melalui mediasi Pakistan.
Berdasarkan keseluruhan data tersebut, militer Iran saat ini dapat dinilai terdegradasi, tetapi belum dinetralkan. Teheran kehilangan banyak kemampuan konvensional untuk bertempur terbuka, tetapi masih mempunyai kekuatan untuk membalas, mengganggu pelayaran, menyerang sasaran regional, dan memperpanjang konflik.
Iran tidak lagi tampil sebagai kekuatan militer yang utuh. Namun, melalui rudal, drone, terowongan, dan perang asimetris, negara itu masih cukup berbahaya untuk membuat setiap operasi militer lanjutan berbiaya tinggi. [red]

