DIALEKSIS.COM | Eropa - Kebakaran hutan besar melanda sejumlah wilayah di Prancis dan Spanyol di tengah gelombang panas ekstrem yang menyelimuti Eropa selatan. Puluhan ribu warga dan wisatawan terpaksa dievakuasi setelah kobaran api terus meluas hingga mendekati kawasan permukiman dan destinasi wisata.
Di Prancis, pemerintah memerintahkan evakuasi menyeluruh dari kawasan wisata Cap Ferret di pantai barat daya pada Jumat. Sekitar 40.000 orang diminta meninggalkan semenanjung yang menjadi salah satu tujuan wisata populer tersebut.
Sejak Rabu, kawasan Cap Ferret diselimuti kabut asap berwarna oranye akibat kebakaran yang bermula di wilayah pedalaman dekat Saumos dan kemudian bergerak ke arah barat menuju pesisir Atlantik.
Ribuan penduduk serta wisatawan mulai meninggalkan Cap Ferret dan wilayah sekitarnya sejak Kamis. Pada Jumat pagi, sejumlah perahu dikerahkan untuk mengangkut ratusan wisatawan yang masih berada di semenanjung ketika api mulai mendekati satu-satunya akses jalan menuju daratan utama.
Sekitar 800 petugas pemadam kebakaran diterjunkan untuk menghadapi kobaran api. Upaya pemadaman juga dibantu beberapa pesawat pengebom air yang dikerahkan melalui Komisi Eropa.
Hingga Jumat sore, lebih dari 12.500 hektare kawasan hutan dilaporkan telah hangus terbakar.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan sedikitnya 32 kebakaran hutan dengan berbagai skala terjadi di seluruh negeri pada Jumat.
Sekitar 45 kilometer di selatan Cap Ferret, kebakaran lain juga bergerak mendekati kota pesisir Biscarrosse. Sekitar 23.000 orang telah dievakuasi dari wilayah tersebut untuk menghindari ancaman api.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memperburuk kebakaran. Meski suhu di barat daya Prancis telah turun dibandingkan rekor 42,9 derajat Celsius yang tercatat di Biarritz bulan lalu, gelombang panas selama sekitar enam pekan menyebabkan kawasan hutan menjadi sangat kering dan mudah terbakar.
Nunez menyebut sekitar 50.000 hektare lahan di seluruh Prancis telah terbakar sepanjang tahun ini. Angka tersebut hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Situasi serupa terjadi di Spanyol. Sekitar 19.000 orang diperintahkan mengungsi dari kawasan dekat Madrid dan wilayah tetangganya, Avila, setelah beberapa titik kebakaran meluas.
Dua kebakaran di sekitar Madrid dan satu titik api di Avila dilaporkan telah bergabung menjadi kebakaran besar. Kondisi tersebut kemudian mendorong pemerintah Spanyol menetapkan keadaan darurat nasional.
Presiden wilayah Madrid, Isabel Diaz Ayuso, menyebut kebakaran kali ini sebagai yang terburuk yang pernah dialami wilayah tersebut.
“Ini adalah kebakaran terburuk dalam sejarah wilayah Madrid,” kata Ayuso.
Menurut dia, kebakaran terjadi akibat kombinasi sejumlah faktor ekstrem, mulai dari suhu sangat tinggi, angin yang terus bertiup hingga bergabungnya beberapa titik kebakaran.
Ayuso menggambarkan kondisi tersebut sebagai sebuah “badai sempurna”.
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengaitkan rangkaian kebakaran dengan perubahan iklim.
“Darurat iklim membunuh. Kita melihatnya di seluruh Eropa dan kita melihatnya di Spanyol,” kata Sanchez.
Sanchez sebelumnya juga menyerukan pembentukan “pakta negara” yang melibatkan berbagai kekuatan politik untuk menghadapi dampak perubahan iklim.
Namun, pandangan tersebut mendapat penolakan dari partai sayap kanan Spanyol, Vox. Partai itu menilai kebakaran lebih berkaitan dengan minimnya pembersihan kawasan hutan serta keterbatasan sarana penanggulangan kebakaran.
Gelombang panas memang menjadi perhatian serius di Eropa. Program pengamatan Bumi Uni Eropa, Copernicus, mencatat Eropa Barat mengalami bulan Juni terpanas sepanjang sejarah pencatatan.
Di Prancis, Meteo-France menyebut gelombang panas pada akhir Juni sebagai salah satu yang paling intens dalam sejarah negara tersebut. Sementara di Spanyol, Juni tercatat sebagai bulan terpanas kedua yang pernah dialami negara itu.
Rentetan kebakaran di Prancis dan Spanyol kembali memperlihatkan besarnya ancaman cuaca ekstrem terhadap kawasan Eropa, terutama ketika suhu tinggi berkepanjangan membuat vegetasi mengering dan memperbesar risiko kebakaran hutan.