Kamis, 03 April 2025
Beranda / Berita / Dunia / Israel Buka Opsi Gencatan Senjata di Gaza Jika Hamas Terima Proposal AS

Israel Buka Opsi Gencatan Senjata di Gaza Jika Hamas Terima Proposal AS

Selasa, 01 April 2025 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +


Pengungsi Palestina kembali ke Rafah setelah gencatan senjata diberlakukan di Jalur Gaza, Ahad, 19 Januari 2025. | AP Photo/Mariam Dagga


DIALEKSIS.COM | Tel Aviv - Pemerintah Israel dikabarkan bersedia membahas penghentian perang di Gaza jika Hamas menyetujui proposal yang diajukan utusan AS untuk Timur Tengah, Steven Witkoff. Media Israel melaporkan, Tel Aviv telah mengirimkan usulan baru mengenai pertukaran tahanan sebagai imbalan gencatan senjata 50 hari di Jalur Gaza, sebagaimana diungkap sejumlah sumber resmi, Minggu (14/4).

Surat kabar Israel Hayom mengutip pejabat keamanan anonim yang menyatakan, Israel siap memulai pembicaraan tidak langsung dengan Hamas untuk mengakhiri konflik, asalkan kelompok tersebut menerima proposal Witkoff. Meski belum ada kejelasan waktu dimulainya negosiasi, pejabat itu menegaskan, Israel akan mempertimbangkan tahap kedua kesepakatan Gaza jika Hamas membebaskan separuh tahanan di awal perundingan dan separuh sisanya di akhir proses.

Menurut laporan Channel 13, proposal terbaru Israel menuntut pembebasan setengah dari total tahanan baik yang masih hidup maupun telah tewas sebagai syarat gencatan senjata 50 hari. Langkah ini diambil setelah pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak usulan mediator yang hanya mencakup pembebasan lima tahanan, termasuk Idan Alexander, warga dengan kewarganegaraan ganda AS-Israel.

Channel 12 melaporkan, pembicaraan intensif telah berlangsung di berbagai level antara Israel, AS, Qatar, dan Mesir sepanjang hari Ahad. Proposal Witkoff disebut mencakup pembebasan 10 tahanan Israel sebagai imbalan gencatan senjata 50 hari, pelepasan tahanan Palestina dari penjara Israel, peningkatan bantuan kemanusiaan, serta pembukaan perundingan tahap kedua.

Namun, Hamas pada Maret lalu menyatakan Netanyahu sengaja melanjutkan “perang genosida” di Gaza untuk menggagalkan kesepakatan. Kendati demikian, pemimpin Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, mengonfirmasi Sabtu (13/4) malam bahwa kelompoknya telah menerima proposal baru dari Mesir dan Qatar. “Kami berharap Israel tidak menghalangi implementasinya,” ujarnya tanpa merinci syarat-syaratnya.

Media Israel mengungkap, Hamas menuntut jaminan internasional agar perang di Gaza tidak terulang. Keluarga tahanan Israel pun mengeluh merasa “terlupakan dalam kegelapan” karena stagnasi negosiasi. Sumber dari Israel Broadcasting Corporation menyebut, Hamas meminta komitmen tertulis dan jaminan global bahwa serangan militer ke Gaza tidak akan terjadi kembali.

Di sisi lain, masih ada perbedaan pendalaman antara kedua pihak. Sumber terlibat dalam negosiasi mengaku, Hamas bersikeras pada pembebasan massal tahanan Palestina dan penarikan penuh tentara Israel dari Gaza dua poin yang ditolak Tel Aviv. “Perselisihan juga terjadi soal waktu dimulainya tahap kedua gencatan senjata, yang sebelumnya diingkari Israel,” tambah sumber tersebut.

Anggota Biro Politik Hamas, Bassem Naim, menegaskan kelompoknya berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata dan proposal terbaru mediator. “Perlawanan bersenjata adalah masalah eksistensial bagi rakyat yang hidup di bawah pendudukan,” tegasnya dalam pernyataan resmi.

Sementara itu, kabinet keamanan Israel dikabarkan menggelar rapat maraton Sabtu malam untuk membahas proposal tahanan dan tekanan militer lanjutan terhadap Hamas. Langkah ini mempertegas kompleksitas jalan menuju perdamaian, di tengah desakan internasional untuk segera mengakhiri konflik berdarah yang telah berlangsung lebih dari enam bulan.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI