Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Dunia / Iran dan AS Semakin Panas, Ayatollah Khamenei Muncul Pimpin Salat Jumat

Iran dan AS Semakin Panas, Ayatollah Khamenei Muncul Pimpin Salat Jumat

Jum`at, 17 Januari 2020 20:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ayatollah Ali Khamenei (kiri) menangis saat baca doa di hadapan jenazah Qasem Soleimani yang tewas dalam serangan AS di Irak. (Foto: Iran Press TV)


DIALEKSIS.COM | Iran - Hubungan Iran dengan Amerika masih panas karena meninggalnya Jenderal Qassem Soleimani pada 3 Januari 2020. Di tengah situasi tersebut, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei muncul memimpin salat Jumat pada (17/1//2020).

"Bangsa Iran akan menunjukkan pada dunia persatuan dan kekuatannya pada dunia. Tentunya Iran juga akan menunjukkan kebesaran dan keagungannya," tulis kantor pusat Tehran Friday Prayer yang dikutip media pemerintah Iran, Jumat, 17 Januari 2019.

Khamenei terakhir kali menjadi imam sholat Jumat sekitar 8 tahun lalu pada Februari 2012. Saat itu, Iran sedang memperingati terjadinya revolusi yang ke-33. Sejak saat itu, Khamenei tidak pernah lagi menjadi imam sholat Jumat bagi rakyatnya.

Memimpin Iran sejak 1989, Khamenei memiliki peran penting pada semua langkah dan perkembangan negara tersebut. Khamenei yang berusia 80 tahun, terlihat menangis saat pemakaman Jenderal Qassem. Dia menjanjikan pembalasan seimbang atas meninggalnya Qassem.

Negara Iran saat ini memang berduka atas meninggalnya komandan elit Al-Quds tersebut. Namun Iran juga menanggung kemarahan dunia akibat tidak sengaja menembak sebuah pesawat penumpang asal Ukraina. Sebanyak 176 penumpang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Dikutip dari Al Jazeera, militer Iran yang dikenal sebagai Garda Revolusi, sebetulnya sedang bersiap menghadapi serangan balasan Amerika. Sebelumnya, Iran meluncurkan rudal yang menyasar fasilitas perumahan bagi militer AS di Irak.

Serangan pada 8 Januari 2020 usai Qassem meninggal tersebut, melukai 11 anggota militer Amerika di Irak. Menurut keterangan dari US Central Command, misil Iran juga menyebabkan kerusakan sejumlah fasilitas.

Namun serangan yang ditunggu Iran dari Amerika tidak kunjung datang. Iran justru menyerang pesawat yang baru lepas landas dari bandara internasional Tehran. Penumpang dalam pesawat tersebut kebanyakan berasal dari Iran dan Kanada. Sebelumnya pesawat sempat terbang ke ibukota Ukraina, Kyiv.

Pemerintah sebelumnya menolak bertanggung jawab dan menyatakan ada kesalahan teknis. Pengakuan pemerintah Iran memicu protes di jalanan dari masyarakat, yang dibubarkan dengan amunisi dan gas air mata. Dengan insiden ini, eskalasi konflik Iran vs Amerika terus meningkat.

Editor :
Zulkarnaini

riset-JSI
Komentar Anda