DIALEKSIS.COM | Teheran - Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk Persia mulai mempercepat pembangunan jalur pipa alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz yang kini berada dalam cengkeraman Iran.
Sebelum perang, sekitar 15 juta barel minyak per hari dikirim melalui selat strategis tersebut. Namun, meningkatnya ketegangan dan melonjaknya harga minyak membuat negara-negara Teluk mencari jalur alternatif menuju pasar global.
Sedikitnya tujuh proyek pipa utama kini sedang dibangun, direncanakan, atau dibahas. Jalur-jalur tersebut akan mengalihkan pasokan minyak menuju pelabuhan di Laut Merah, Laut Mediterania, hingga Teluk Oman.
Peneliti senior Kpler, Victoria Grabenwöger, menilai ketergantungan besar terhadap Selat Hormuz bukan lagi strategi jangka panjang yang bijaksana.
Salah satu jalur penting adalah Pipa Timur-Barat milik Arab Saudi yang dibangun pada 1980-an. Pipa ini mengangkut minyak dari fasilitas pengolahan Abqaiq menuju Yanbu di pesisir Laut Merah.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) juga mempercepat pembangunan pipa sepanjang sekitar 300 kilometer menuju Fujairah. Proyek senilai 3 miliar dolar AS tersebut ditargetkan meningkatkan aliran minyak ke Fujairah hingga lebih dari 1,2 juta barel per hari.
Di Irak, pemerintah juga berupaya mengembangkan jalur ekspor alternatif dari ladang minyak di sekitar Basra. Salah satu rencana akan menghubungkan Basra dengan Ceyhan di Turki melalui jalur yang menuju Laut Mediterania.
Irak juga membahas rencana pembangunan pipa menuju Aqaba, Yordania. Dari pelabuhan tersebut, minyak dapat dikirim melalui Laut Merah atau Terusan Suez menuju Asia dan kawasan lainnya.
Menurut analis Goldman Sachs, proyek-proyek baru untuk menghindari Selat Hormuz berpotensi mengangkut hingga 3,8 juta barel minyak per hari pada akhir 2027 dan meningkat menjadi 7,3 juta barel per hari pada akhir 2028.
Meski demikian, jalur alternatif tersebut juga memiliki risiko. Pasokan minyak melalui Laut Merah masih dapat terancam serangan kelompok Houthi di Yaman. Jalur pipa yang berada jauh dari Iran pun tetap berpotensi menjadi sasaran serangan kelompok militan yang bersekutu dengan Teheran.
Selain minyak, ketergantungan terhadap Selat Hormuz juga mencakup gas alam cair (LNG). Sekitar seperlima pasokan LNG dunia, sebagian besar berasal dari Qatar, melewati jalur strategis tersebut.
Kondisi ini membuat negara-negara Teluk menghadapi tantangan besar untuk mengamankan jalur ekspor energi. Upaya membangun pipa alternatif dinilai dapat mengurangi risiko, tetapi belum sepenuhnya mampu menggantikan posisi strategis Selat Hormuz. [AP/abc news]