Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Iran Bantah Tuduhan Trump soal Rudal Capai Daratan AS

Iran Bantah Tuduhan Trump soal Rudal Capai Daratan AS

Kamis, 26 Februari 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Juru bicara Kemlu RI Esmail Baghaei menolak keras tuduhan Donald Trump soal rudal Iran. Foto: AFP/Atta Kenare


DIALEKSIS.COM | Internasional - Pemerintah Iran membantah keras tudingan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Teheran tengah mengembangkan rudal balistik yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menilai tuduhan tersebut sebagai narasi lama yang terus diulang di tengah dinamika negosiasi nuklir antara kedua negara.

“Apapun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, rudal balistik Iran, dan jumlah korban jiwa selama kerusuhan Januari lalu, hanyalah pengulangan ‘kebohongan besar’,” ujar Baghaei, Rabu (24/2), seperti dikutip dari AFP.

Pernyataan itu muncul setelah Trump menuding Iran memiliki ambisi nuklir yang berbahaya serta mengembangkan sistem rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan militer Amerika di luar negeri.

“Iran telah mengembangkan rudal yang bisa mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri,” kata Trump. Ia bahkan mengklaim Teheran sedang berupaya membangun rudal yang “akan segera mencapai Amerika Serikat”.

Menurut Trump, Iran kini kembali mengejar ambisi nuklir yang ia sebut sebagai ancaman global. “Saat ini, mereka kembali mengejar ambisi nuklir jahat,” ujarnya.

Ketegangan retorika ini terjadi ketika Washington dan Teheran tengah menjalani beberapa putaran negosiasi terkait program nuklir Iran. Dalam proses itu, Trump berulang kali menyatakan Amerika Serikat tidak akan segan mengambil langkah militer apabila kesepakatan tidak tercapai.

Pemerintah AS, di bawah kepemimpinan Trump, menghendaki pengayaan uranium Iran ditekan hingga nol serta pembatasan ketat terhadap produksi rudal balistiknya.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa rudal merupakan bagian dari sistem pertahanan nasionalnya dan bukan instrumen agresi. Teheran juga berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya dikembangkan untuk tujuan damai.

Iran menambahkan, mereka tetap bersedia berada di bawah pengawasan badan atom internasional guna memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan nonproliferasi.

Polemik ini kembali memperlihatkan rapuhnya kepercayaan antara kedua negara, bahkan ketika jalur diplomasi masih dibuka. Dialektika antara ancaman dan negosiasi menjadi gambaran nyata betapa isu nuklir Iran tetap menjadi salah satu poros ketegangan geopolitik dunia.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI