Selasa, 08 September 2026
Beranda / Berita / Dunia / Harga Bensin Iran Kembali Naik, Pemerintah Hadapi Krisis Energi dan Subsidi

Harga Bensin Iran Kembali Naik, Pemerintah Hadapi Krisis Energi dan Subsidi

Selasa, 08 September 2026 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Harga bensin ditampilkan pada dispenser menjelang kenaikan harga bahan bakar di Iran, di sebuah SPBU di Teheran, Iran, 7 September 2026 [Foto: Majid Asgaripour/West Asia News Agency]


DIALEKSIS.COM | Teheran - Pemerintah Iran kembali menaikkan harga bensin bagi pengendara. Kebijakan ini diambil di tengah upaya pemerintah mengatasi penurunan pendapatan sekaligus mempertahankan sistem subsidi bahan bakar yang selama ini membutuhkan biaya besar.

Dilansir dari media pemerintah Iran, harga bensin untuk konsumsi hingga 110 liter (29 galon) masih tetap. Namun, pengendara yang menggunakan bensin lebih dari batas tersebut akan dikenakan tarif baru sebesar 100.000 rial per liter.

Angka itu naik dua kali lipat dibandingkan harga sebelumnya yang berada di level 50.000 rial per liter.

Iran diketahui memiliki salah satu harga bensin termurah di dunia. Namun, kondisi ekonomi yang terus tertekan membuat pemerintah mulai mempertimbangkan penyesuaian subsidi bahan bakar untuk menutup berkurangnya pendapatan negara.

Tekanan ekonomi Iran juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS), termasuk sanksi berat dan gangguan terhadap aktivitas pelabuhan Iran.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan penghematan konsumsi bensin diperlukan agar kebutuhan dalam negeri tetap dapat dipenuhi dari produksi nasional.

"Jika kita mengonsumsinya dengan bijak, kita bisa mencukupi kebutuhan dengan jumlah bensin yang kita produksi di dalam negeri," ujar Ghalibaf dalam pidato yang disiarkan televisi awal bulan ini.

Dia menilai tingginya konsumsi bensin tidak sepenuhnya disebabkan perilaku masyarakat. Menurutnya, sektor industri juga turut berkontribusi terhadap tingginya penggunaan bahan bakar.

"Yang jelas, kita perlu menghemat konsumsi bensin. Tentu saja, sebagian tanggung jawab atas tingginya konsumsi ini bukan terletak pada masyarakat kita, melainkan pada sektor industri kita," katanya.

Iran saat ini menghadapi persoalan konsumsi minyak yang telah melampaui produksi domestik. Negara tersebut juga belum mampu mengembalikan tingkat produksi maupun ekspornya ke level sebelum meningkatnya ketegangan geopolitik.

Tanda-tanda tekanan energi turut terlihat di lapangan. Sejumlah video yang beredar di media sosial dilaporkan memperlihatkan antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Teheran.

Kenaikan terbaru ini menjadi kali kedua harga bensin Iran naik sejak Desember. Kebijakan tersebut juga memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai kemungkinan kenaikan harga lebih lanjut.

Kenaikan harga bahan bakar merupakan isu sensitif di Iran. Pada 2019, kenaikan harga bensin menjadi pemicu awal protes besar-besaran yang kemudian berkembang menjadi aksi anti-pemerintah.

Kini, masyarakat Iran kembali menghadapi tekanan ekonomi berupa aktivitas ekonomi yang melemah, inflasi tinggi, serta penurunan nilai mata uang rial. [AFP, Reuters/Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI
kejati bsi