Beranda / Berita / Dunia / Direktur Intelijen AS Sebut China Ancaman Terbesar Bagi Kebebasan Dunia sejak PD II

Direktur Intelijen AS Sebut China Ancaman Terbesar Bagi Kebebasan Dunia sejak PD II

Jum`at, 04 Desember 2020 19:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS) John Ratcliffe. [Dok. AFP]


DIALEKSIS.COM - Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS) John Ratcliffe menyebut China sebagai ancaman terbesar bagi demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia sejak Perang Dunia (PD) II.

Ratclife merupakan bos mata-mata nasional Amerika yang ditunjuk Presiden Donald Trump pada musim semi lalu. Dia mengatakan Beijing condong pada dominasi global.

"Intelijennya jelas: Beijing bermaksud untuk mendominasi AS dan seluruh planet secara ekonomi, militer dan teknologi," kata Ratcliffe dalam sebuah artikel opini di situs Wall Street Journal.

Sebelum jadi bos mata-mata pemerintah Trump, Ratcliffe adalah anggota Kongres Partai Republik."China merupakan ancaman terbesar bagi Amerika saat ini, dan ancaman terbesar bagi demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia sejak Perang Dunia Kedua," katanya dalam tulisan opininya yang dikutip Reuters, Jumat (4/12/2020).

Pihaknya mengaku telah mengalihkan sumber daya dalam anggaran federal tahunan senilai USD5 miliar yang dialokasikan untuk intelijen guna meningkatkan fokus pada China.

Ratcliffe mengatakan pendekatan spionase ekonomi China ada tiga; "Rob, Replicate and Replace (Merampok, Menyalin dan Mengganti)".

Strategi itu, papar dia, adalah entitas China mencuri kekayaan intelektual perusahaan Amerika, menyalinnya, dan kemudian menggantikan perusahaan AS di pasar global.

Juru bicara kementerian luar negeri China Hua Chunying mengatakan pada hari Rabu bahwa tuduhan pencurian teknologi oleh AS adalah "menggelikan".

Beijing sering meminta para pemimpin AS untuk memutar kembali retorika mereka tentang China, yang disalahkan karena ketakutan akan peran China yang semakin meningkat di dunia.

Tulisan opini Ratcliffe di Wall Street Journal adalah laporan terbaru melawan China dari pemerintahan Presiden Donald Trump yang berusaha memberikan warisan keras anti-China menjelang lengser.

Ini adalah pendekatan yang telah membawa hubungan antara dua ekonomi terbesar di dunia ke titik terendah dalam beberapa dekade dan analis mengatakan itu dapat membatasi ruang manuver pemerintahan Joe Biden yang akan datang untuk berurusan dengan Beijing.

Ratcliffe menyinggung laporan yang dikumpulkan oleh badan intelijen AS bahwa perwakilan China berusaha mencampuri politik dalam negeri AS.

Dia juga menuduh China telah mencuri teknologi pertahanan AS untuk memicu rencana modernisasi militer agresif yang diluncurkan oleh Presiden Xi Jinping.

“Pemilu sudah selesai. Sekarang mari kita semua jujur tentang China," katanya kepada Reuters setelah tulisan opini itu diterbitkan.

Di antara masalah lain, Washington dan Beijing telah bentrok mengenai penanganan wabah virus corona oleh China, cengkeramannya yang semakin ketat di Hong Kong, klaim yang disengketakan di Laut China Selatan, perang dagang dan tuduhan kejahatan hak asasi manusia di Xinjiang.

China kemarin mengatakan bahwa politisi di Amerika Serikat mengarang berita tentang Muslim Uighur yang ditahan dipaksa bekerja di wilayah Xinjiang.

Ratcliffe, yang hanya bertugas sebentar di Komite Intelijen Parlemen sebelum Trump menunjuknya untuk peran barunya, telah dituduh oleh kubu Partai Demokrat dan pejabat intelijen saat ini dan sebelumnya telah mempolitisasi intelijen.

Dalam tulisan opininya, Ratcliffe mengatakan pihak berwenang China telah "melakukan pengujian manusia" pada anggota tentara China dengan harapan mengembangkan tentara dengan kemampuan yang ditingkatkan secara biologis. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut tentang tuduhan tersebut.

Lembaga think tank yang berbasis di AS telah melaporkan bahwa China semakin mementingkan bioteknologi dalam strategi militernya, tetapi mereka belum merilis laporan terperinci tentang jenis pengujian yang dituduhkan oleh Ratcliffe.

Kemarin, pemerintahan Trump membatasi perjalanan anggota Partai Komunis China untuk melakukan perjalanan ke AS. Pembatasan itu juga berlaku bagi keluarga anggota partai berkuasa di China tersebut.

Pada hari Rabu, Parlemen AS mengeluarkan undang-undang untuk mengeluarkan perusahaan China dari bursa saham AS jika mereka tidak sepenuhnya mematuhi aturan audit negara itu.

Bonnie Glaser, seorang pakar Asia di lembaga think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan komentar Ratcliffe adalah bagian dari kampanye yang dia lakukan terhadap Beijing dan tampaknya ditujukan untuk mengunci pendekatan yang sulit sebelum Presiden terpilih Joe Biden menjabat pada 20 Januari.

"Tampaknya itu merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengikat tangan Biden dan membatasi ruangannya untuk bermanuver pada kebijakan China," katanya.

"Dalam pemerintahan sebelumnya, normanya adalah menghindari mengambil tindakan seperti itu selama transisi kepresidenan, tetapi pemerintahan Trump telah lama menetapkan pola yang melanggar norma." (SINDOnews)

Keyword:


Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda