Minggu, 19 Juli 2026
Beranda / Berita / Dunia / BN Menang Telak di Johor, Posisi Politik Anwar Ibrahim Kian Tertekan

BN Menang Telak di Johor, Posisi Politik Anwar Ibrahim Kian Tertekan

Minggu, 19 Juli 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Barisan Nasional (BN) dalam pemilihan negara bagian Johor. Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto


DIALEKSIS.COM | Kuala Lumpur - Kemenangan besar Barisan Nasional (BN) dalam pemilihan negara bagian Johor semakin memperkuat posisi koalisi tersebut di pemerintahan persatuan Malaysia. Sebaliknya, hasil tersebut menambah tekanan politik terhadap Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan koalisi Pakatan Harapan (PH).

Dalam pemilihan yang berlangsung Sabtu (11/7/2026), BN berhasil menguasai 48 dari 56 kursi di Dewan Undangan Negeri Johor. Jumlah tersebut bertambah delapan kursi dibandingkan hasil pemilihan negara bagian pada 2022.

Sementara itu, PH hanya meraih delapan kursi atau kehilangan empat kursi dari perolehan sebelumnya yang mencapai 12 kursi.

Meski menjadi mitra dalam pemerintahan persatuan di tingkat federal, BN dan PH tetap bertarung sebagai rival dalam pemilihan Johor.

Analis sosial-politik Universiti Malaya, Awang Azman Awang Pawi, menilai kemenangan telak BN akan memperkuat posisi tawar Organisasi Nasional Melayu Bersatu atau UMNO dalam pemerintahan federal. UMNO merupakan partai utama dalam koalisi BN.

“Kemenangan telak BN memperkuat posisi tawar UMNO di dalam pemerintahan federal, sementara Pakatan Harapan mungkin akan berada di bawah tekanan yang lebih besar,” kata Awang Azman seperti dikutip dari CNA.

Menurutnya, Anwar dan PH perlu segera memperbaiki strategi politik, memperkuat mobilisasi pemilih, serta memberikan respons lebih nyata terhadap persoalan biaya hidup masyarakat.

Kemenangan BN di Johor juga dinilai tidak terlepas dari popularitas calon kepala menteri mereka, Onn Hafiz Ghazi. Sejak menjabat Menteri Besar Johor pada 2022, Onn Hafiz membangun citra sebagai pemimpin muda yang berorientasi pada hasil.

Johor tercatat sebagai negara bagian dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Malaysia pada 2025. Produk domestik bruto wilayah tersebut tumbuh 8 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 5,2 persen.

Johor juga berhasil menarik investasi yang disetujui senilai RM110 miliar atau sekitar US$26 miliar, melampaui Selangor dan Kuala Lumpur.

Selain pencapaian ekonomi, Onn Hafiz dikenal aktif turun ke lapangan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ia juga mengawasi penyelesaian sejumlah persoalan lama, seperti kemacetan di jalur penghubung Johor-Singapura dan pemeliharaan jalan.

“Onn Hafiz adalah faktor kunci di balik kemenangan ini karena berhasil memproyeksikan citra stabilitas, pembangunan, dan kepemimpinan generasi baru,” ujar Awang Azman.

Dukungan terhadap Onn Hafiz terlihat dari hasil pemilihan di daerah Machap. Ia mempertahankan kursi tersebut dengan mayoritas 15.375 suara, lebih dari dua kali lipat dibandingkan selisih kemenangan 6.543 suara pada 2022.

Peneliti senior Nusantara Academy for Strategic Research, Azmi Hassan, mengatakan Onn Hafiz juga menunjukkan kepercayaan diri politik dengan secara terbuka menyuarakan sejumlah tuntutan kepada pemerintah pusat.

Ia antara lain meminta otonomi fiskal yang lebih besar bagi Johor serta mendesak Putrajaya mempercepat pembangunan sejumlah proyek infrastruktur, termasuk sistem Elevated Autonomous Rapid Transit atau E-ART.

“Onn Hafiz menunjukkan bahwa ia bersedia menghadapi Anwar, yang berkampanye secara luas di Johor,” kata Azmi.

Kemenangan BN turut dipengaruhi lemahnya perlawanan di daerah pemilihan mayoritas Melayu, yang mencakup sekitar tiga perempat kursi di Johor.

Koalisi oposisi Perikatan Nasional (PN) menghadapi perpecahan internal antara dua partai utamanya, Parti Islam Se-Malaysia (PAS) dan Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu).

Perbedaan sikap terlihat ketika PAS meminta pendukungnya memilih BN di daerah yang tidak diikuti kandidat PN. Sebaliknya, Presiden Bersatu sekaligus mantan perdana menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, menilai arahan tersebut tidak masuk akal.

Situasi itu membuat PN gagal memberikan perlawanan berarti. UMNO kemudian berhasil merebut kembali tiga kursi yang sebelumnya dikuasai PN, yakni Bukit Kepong, Maharani, dan Endau.

Profesor Studi Asia Universitas Tasmania, James Chin, mengatakan mesin politik BN bekerja maksimal dalam menggalang dukungan pemilih Melayu.

“Situasi sangat mendukung bagi Onn Hafiz dan BN untuk meraih hasil baik di daerah-daerah Melayu. Hal ini terlihat dari tingginya angka partisipasi yang menunjukkan mesin politik BN bekerja maksimal,” katanya.

Tingkat partisipasi pemilih secara keseluruhan mencapai 68,73 persen. Sejumlah wilayah yang menjadi basis UMNO, seperti Semarang, Sri Medan, dan Sedili, mencatatkan partisipasi di atas 70 persen.

Sebaliknya, tingkat partisipasi di daerah dengan jumlah pemilih etnis minoritas yang besar relatif rendah. Perling, Tangkak, dan Bekok mencatatkan partisipasi kurang dari 60 persen.

Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi Partai Aksi Demokratik atau DAP, salah satu komponen utama PH yang selama ini dikenal memiliki basis kuat di kalangan pemilih perkotaan dan kelompok etnis minoritas.

Hasil buruk di Johor terjadi setelah DAP juga mengalami kekalahan dalam pemilihan negara bagian Sabah. Partai tersebut gagal memenangkan satu pun kursi yang diperebutkan, padahal sebelumnya menguasai enam kursi.

Konsultan geopolitik Viewfinder Global Affairs, Adib Zalkapli, menilai hasil pemilihan Johor menunjukkan masih tersedia ruang bagi partai seperti MUDA dan Bersama untuk menarik dukungan pemilih perkotaan serta kelompok minoritas.

“Masih ada pasar bagi partai-partai di sisi kiri spektrum politik. Apakah mereka akan pulih atau tidak bergantung pada bagaimana mereka memosisikan diri setelah pemilihan Johor,” ujarnya.

Pemilihan Johor juga dipandang sebagai ujian terhadap hubungan BN dan PH dalam pemerintahan persatuan. Namun, para pemimpin kedua koalisi menegaskan hasil pemilihan tidak akan memengaruhi kerja sama mereka di tingkat federal.

Ketua BN Ahmad Zahid Hamidi mengatakan koalisinya akan tetap bekerja sama dengan pemerintahan Anwar demi menjaga stabilitas politik dan kesejahteraan rakyat Malaysia.

Direktur Pemilu Partai Keadilan Rakyat (PKR), Amirudin Shari, juga memastikan komitmen untuk mempertahankan pemerintahan persatuan hingga akhir masa jabatan tidak berubah.

Kendati demikian, para analis memperkirakan kemenangan besar BN di Johor berpotensi meningkatkan ketegangan antara kedua koalisi. UMNO dinilai akan memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan arah dan kebijakan pemerintahan federal.

Tekanan terhadap PH juga diperkirakan semakin besar menjelang pemilihan negara bagian Negeri Sembilan. Pemilihan tersebut akan menjadi ujian berikutnya bagi Anwar dan PH dalam mempertahankan dukungan pemilih perkotaan serta kelompok etnis minoritas di tengah perubahan peta politik Malaysia.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI