Logo Dialeksis
Beranda / Berita / Dunia / Akibat Covid-19, Inggris Resmi Resesi untuk Pertama Kalinya Sejak 11 Tahun Terakhir

Akibat Covid-19, Inggris Resmi Resesi untuk Pertama Kalinya Sejak 11 Tahun Terakhir

Kamis, 13 Agustus 2020 14:20 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi resesi. [Foto: Shutterstock]


DIALEKSIS.COM | London - Ekonomi Inggris resmi mengalami resesi, dampak penerapan karantina wilayah untuk menekan penyebaran virus corona. Perekonomian Inggris menyusut 20,4% dibandingkan dengan tiga bulan pertama tahun ini. 

Pengeluaran rumah tangga anjlok karena toko-toko diperintahkan untuk tutup, sementara produksi pabrik dan konstruksi juga turun. Kondisi ini mendorong Inggris masuk dalam kondisi resesi pertamanya secara teknis- yang didefinisikan sebagai penurunan ekonomi dua kuartal berturut-turut.

Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris mengatakan ekonomi bangkit kembali pada bulan Juni karena aturan pembatasan pergerakan yang diterapkan pemerintah mulai berkurang. 

"Ekonomi mulai bangkit kembali pada bulan Juni dengan pembukaan kembali toko, pabrik mulai meningkatkan produksi, dan proses pembangunan perumahan rumah terus pulih. Meskipun begitu, produk domestik bruto (PDB) pada bulan Juni masih satu per enam di bawah levelnya di bulan Februari, sebelum wabah virus corona menyerang," jelas Jonathan Athow, deputi ahli statistik nasional untuk statistik ekonomi.

ONS mengatakan penurunan di sektor jasa didorong oleh penutupan toko, hotel, restoran, sekolah dan bengkel mobil. Sektor jasa, yang menggerakkan empat perlima ekonomi Inggris, mengalami penurunan terbesar dalam catatan dalam satu kuartal. Sektor perhotelan juga terpukul parah, sementara penutupan pabrik mengakibatkan produksi mobil yang paling lambat sejak 1954. 

Rishi Sunak, Menteri Keuangan Inggris, mengatakan kemerosotan ekonomi akan menyebabkan lebih banyak orang kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan mendatang. 

"Ratusan ribu orang telah kehilangan pekerjaan mereka, dan sayangnya dalam beberapa bulan mendatang akan lebih banyak lagi yang kehilangan pekerjaan. Tapi sementara ada pilihan sulit yang harus dibuat di masa depan, kita akan melalui ini, dan saya meyakinkan orang-orang bahwa tidak ada yang akan ditinggalkan tanpa harapan atau kesempatan," katanya. (BBC Ind)

Editor :
Indri

riset-JSI
Komentar Anda