Dialeksis - Akurat, Tajam, dan Strategis
Klinik Kita
Beranda / Dialog / Tgk. Faisal Ali (Lem Faisal) : PNS Korupsi Karena Ketamakan

Tgk. Faisal Ali (Lem Faisal) : PNS Korupsi Karena Ketamakan

Sabtu, 20 Oktober 2018 08:00 WIB

 Tgk. Faisal Ali  (Foto: kemenag)


Tindakan maraknya aparatur pemerintah “pegawai negeri sipil” yang melakukan tindakan penyimpangan korupsi di lingkungan Pemerintah Provinsi Aceh.

Data dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengungkapkan fakta yang mengejutkan di Provinsi Aceh mencatat terdapat 89 PNS, 13 di Provinsi sedangkan kabupaten/kota berjumlah 76 orang.

Pembanding data lainnya dari hasil analisa putusan perkara korupsi yang dilakukan MaTA, sebanyak 157 PNS terlibat dari 293 terdakwa disidang di Pengadilan Tipikor Banda Aceh sejak 2013-2017.

Merespon fakta maraknya PNS bertindak serakah sehingga melakukan korupsi direspon ulama Tgk. Faisal Ali disapa akrab Liem Faisal.

Dirinya Pimpinan Dayah Mahyal 'Ulum Al Aziziyah Sibreh, Tidak hanya itu saja Lem Faisal dipercaya menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Periode 2015-2020 dan Wakil Ketua Majelis Pemusyarawatan Ulama (MPU) Aceh.

Berikut ini petikan hasil wawancara khusus media dialeksis bersama beliau. 

===============================================================


Maraknya perilaku PNS yang cenderung melakukan korupsi, menurut Lem apa yang melatarbelakangi mereka cenderung melakukan korupsi?

Mereka berperilaku seperti itu karena tamak. Jadi tamak itu dia tidak merasa cukup dengan apa yang sudah ada.  Makanya tamak itu salah satu sifat yang menghancurkan diri sendiri dan dunia. Bisa dikatakan sangat berbahaya. Dalam agama tamak disebut “Thoma’a”.


Apa yang menyebabkan muncul sifat tamak dari diri manusia? Apakah ketika dalam posisi memegang kekuasaan atau memang ada peluang ?

Jadi pertama sekali itu munculnya karena ada peluang. Orang yang ada peluang karena ada jabatan maka muncullah ada ketamakan tadi, tapi kalau masyarakat mana ada, mereka tidak ada ketamakan karena memang tidak ada peluang. Jadi bahasa kita keserakahan, jadi muncul keserakahan itu karena nilai-nilai kasih sayang itu berkurang, nilai-nilai kasih sayang yang ada dalam jiwa dia itu sudah menipis dan berkurang. Akibat kekurangan nilai kasih sayang itu, maka dia itu akan tamak untuk dirinya.


Ilustrasinya bagaimana ?

Kalau orang pergi kenduri maulid itu yang dia tau untuk taruh di piring dia, orang yang disekeliling dia tidak tau, itu karena sudah berkurang nilai kasih sayang. Jadi orang yang tidak ada kasih sayang itu lebih cenderung menonjol sifat hayawaniyah “Jiwa kebinatangan”. Jadi kalau itu dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari jelas merugikan banyak orang, karena sudah tidak ada lagi sifat kasih sayangnya. Maka ditafsirkan dalam kitab adalah orang yang hilang kasih sayang itu lebih dekat kepada sifat binatang buas atau sifat kebuasan.


Kasih sayang dalam konteks agama seperti apa Lem ?

Kasih sayang itu lah dari sisi agama. Kasih sayang itu sifat dari agama, sifat anjuran. Allah saja bersifat dengan kasih sayang dan manusia juga harus mempunyaI sifat kasih sayang, sifat belas kasihan. Karena dengan sifat kasih sayang itu dia akan menghargai orang, dia tidak akan mendzalimi orang, dia tidak akan tamak termasuk dalam menjalankan amanah jabatan dan pekerjaan di kantor.


Kembali membahas sifat kasih sayang di manusia dalam kondisi kekinian sudah mulai luntur, apa yang harus dilakukan ?

Harus lebih banyak kepada pembinaan spiritual melalui kajian-kajian tasawuf. Pembelajaran-pembelajaran yang sifatnya spiritual, sifatnya ke hati, harus dibumikan itu. Misalnya orang-orang pegawai negeri kita itu sekali-sekali misalnya dibawa ke panti jompo itu hal-hal yang sifatnya spiritual.  Sekali-sekali dibawa ke daerah-daerah yang mayoritas orang miskin. Sekarang ini kenapa manusia kita ini terus menumbuhkan rasa ketamakan dan kasih sayang itu berkurang, karena orang-orang kaya, pejabat-pejabat kita hidupnya sudah inklusif, dia rumahnya berpagar jadi tidak nampak lagi di keluarga itu ada orang yang meminta belas kasihan, karena kenapa rumah mereka tidak bisa masuk. Sesudah itu pergaulan mereka sesama orang kaya.


Berarti secara langsung lingkungan untuk membentuk karakter?

Iya betul, salah satu yang membuat manusia itu hilang kasih sayang dan memunculkan sifat-sifat yang lain adalah salah satunya faktor lingkungan. Itu anak-anak orang kaya misalnya anak-anak pejabat yang rumah-rumahnya besar dia tidak tau ada kasih sayang kenapa karena dia tidak pernah melihat penderitaan orang. Orang tuanya pun tidak pernah membawa dia.


Jika itu menjadi satu solusi yang konkrit untuk membumikan dilingkungan pemerintah berarti ada peran utama yang dimainkan oleh pemimpin disini. Apakah ini menjadi pondasi utama untuk membumikan kasih sayang tadi?

Pasti. Karena kenapa karena kita ini, hidup ini dalam konsep keislaman itu tidak bisa hidup itu terpisah antara nilai-nilai agama itu dengan kekuasaan. Seperti ajaran agama kita, kekuasaan itu bahagian dari pada hal yang terpenting dalam unsur perbaikan dalam kehidupan. Karena itu peran pemerintah cukup besar untuk memunculkan hal-hal yang seperti itu, misalnya itu sekolah jangan lagi orang-orang yang memberikan suka-suka antara orang miskin dan orang kaya. Perilaku hidup juga jangan lagi menimbulkan, contohnya ibadah shalat, di shaf itu kan tidak ada dilihat orang kaya, tidak ada melihat orang miskin, tidak ada melihat apa jabatan, itulah prinsip itu.


Terakhir untuk menutup wawancara ini, apa yang Lim ingin katakan apakah memberi saran atau pernyataan penutup?

Kita berharap agar kedepan itu, perlu dirancang sebuah ketentuan orang-orang yang akan menerima jabatan itu yang berpotensi untuk memunculkan ketamakan itu adalah harus lebih banyak nilai-nilai spriritual yang menonjol kasih sayang kepada dia. [ HH]


Editor :
AMPONDEK

IKLAN SYAMSUL RIZAL ACADEMIC LEADER 2018
Komentar Anda