Logo Dialeksis
Beranda / Dialog / Konsep Perikanan dan Petani Milenial di Aceh ala Muslim, Tekan Kemiskinan melalui Perubahan

Konsep Perikanan dan Petani Milenial di Aceh ala Muslim, Tekan Kemiskinan melalui Perubahan

Rabu, 11 Maret 2020 14:10 WIB

Font: Ukuran: - +


DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Muslim. [Foto: IST/Dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Data BPS per September 2019, angka kemiskinan di Aceh masih berada di angka 15,01 persen atau tertinggi se-Sumatera. Meski begitu, persoalan kemiskinan di Aceh dapat ditekan bila potensi pertanian dan perikanan dapat dimanfaatkan dengan baik. 

Untuk menggali potensi pertanian dan perikanan di Aceh, serta solusi apa yang bisa diterapkan di sektor tersebut, Dialeksis.com berdialog dengan Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Muslim pada Senin (9/3/2020). Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana konsep yang ideal mengembangkan bidang pertanian dan perikanan sehingga menjadi sektor utama Pemerintah Aceh dalam pendapatan daerah?

Pertama tentu kita melihat potensi pertanian dan kelautan di Aceh itu sangat besar. Kedua, kita lihat juga hari ini khususnya di beberapa kabupaten/kota, sebagian masyarakat kita kehidupannya bergantung pada nelayan atau pertanian.

Yang sangat dibutuhkan para petani dan nelayan tentu sarana dan prasarana infrastruktur pertanian dan perikanan. Ketika kami reses (turun ke lapangan) di beberapa kabupaten/kota, masyarakat sangat membutuhkan alat-alat pertanian atau perikanan. Kemudian untuk petani, perlu pupuk subsidi.

Dan yang paling terpenting dari semua ini adalah sumber daya manusianya. Misal, penyuluhan dan pelatihan. Bagaimana menjadi seorang petani atau nelayan yang baik dan berhasil. Ini sangat dibutuhkan masyarakat dan betul-betul harus diberikan.

Selanjutnya, yang jadi program utama saya khususnya periode ini di komisi IV DPR RI adalah bagaimana mendorong petani milenial.

Bagaimana itu dengan konsep petani milenial?

Konsep petani milenial adalah bagaimana mendorong anak-anak muda di Aceh, berpartisipasi di sektor pertanian. Mereka kita libatkan untuk membentuk kelompok-kelompok tani dan semua nantinya akan dibiayai oleh pemerintah melalui APBN.

Kita tahu betul pengangguran terbesar di Aceh salah satunya di kalangan generasi muda. Dan saya sudah melakukan beberapa langkah khususnya di beberapa kampus, termasuk di Unimal, Unsam, juga di UIN Ar-Raniry.

Ada pandangan jadi petani itu tidak menjanjikan ekonomi, bagaimana tanggapannya ?

Selama ini pandangan orang-orang terhadap petani ini diidentikkan dengan lesuh dan kemiskinan. Kita berharap dengan munculnya anak-anak muda petani milenial ini, kita bisa ubah pelan-pelan mindset berpikir mereka bahwa petani ini keren lho, bisa jadi pengusaha dan konglomerat juga dari sektor ini.

Bahkan kemarin saya turun di beberapa titik, misal di pelabuhan Kuala Idi, justeru pelaku-pelaku usaha itu ada dua anak muda yang menurut saya sangat luar biasa dalam membangun sektor perikanan di sana.

Saudara Erli namanya. Dia masih muda, punya cost prorate yang dikelola dengan bagus. Sehingga nelayan-nelayan tidak merugi saat ikan melimpah, paling tidak mereka bisa beli ikannya dengan harga yang normal. Kan kasian kalau harga murah. Tapi dengan peran anak-anak muda ini, mereka bisa simpan di cost prorate, mereka bisa kirim ke beberapa daerah juga, bahkan saat ini mereka sedang menjajaki untuk ekspor.

Selanjutnya, yang kita harapkan dari anak-anak ini adalah memberi peluang kerja. Dengan satu lokasi yang mereka menampung sekitar 120 pekerja. Artinya jika per keluarga ada 3 orang tanggungan di rumah, maka dia sudah menghidupi 360 orang.

Ini juga mesti jadi pertimbangan dalam membangun sektor perikanan Aceh ke depan. Sebab yang diperlukan nelayan saat ini salah satunya adalah cost prorate itu. Sedangkan saat ini kan yang punya pihak swasta. Inilah yang kemudian kita dorong kepada pemerintah, khususnya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan agar dapat membantu membangun cost prorate.

Nantinya bisa dimanfaatkan para nelayan ini untuk menyimpan ikan-ikannya. Jadi saat jumlah ikan membludak, tidak lagi seharga Rp 4-5 ribu dari yang seharusnya Rp 15 ribu per kilogramnya. Dengan cost prorate, harga lebih stabil.

Bagaimana saran agar terjadinya sinergitas antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pelaku usaha di sektor ini?

Tentu kita minta ini pemerintah daerah juga ikut terlibat. Saya sudah sampaikan kepada Plt Gubernur Aceh dan saya pikir beliau sangat serius dalam hal ini. Dan kita juga kemarin sudah bawa Dirjen ke Aceh Utara untuk mendorong supaya diberikan bantuan berupa support daripada pengembangan usaha, khususnya di bidang pertanian.

Kemudian peran pemerintah daerah, kita berharap terutama dalam hal penganggaran, harus betul-betul bagi hak kepada sektor riil. Di antaranya melalui pertanian dan perikanan ini. Kenapa, karena itu menyangkut hajat orang banyak.

Bagaimana konsep yang bapak gulirkan terkait petani milenial, sehingga peran pemerintah bisa optimal, turut melahirkan anak-anak muda yang bisa membuka lapangan pekerjaan?

Pertama yang kita minta dari sisi penganggaran. Salah satu saya cek di dinas memang sangat tidak berpihak. Aceh Utara misal, hanya diberi anggaran hanya Rp 9 miliar. Sementara kita lihat potensi pertaniannya, ada 64 persen. Justeru di sini yang harusnya kita dukung.

Kita harus ciptakan konsep kalau anak-anak muda di Aceh jangan lagi berpikir jadi PNS, pegawai BUMN dan sebagainya. Tapi bagaimana caranya menjadi entrepreneur di bidang pertanian dan perikanan. Ini solusi yang harus kita dorong. Peran-peran petani milenial ini mampu memberi peluang kerja melalui entrepreneur muda dan angka kemiskinan hari demi hari bisa berkurang.

Anak-anak muda bisa kreatif, inovatif dan berkontribusi memberikan yang terbaik buat kepentingan pemberdayaan nantinya. Sebab, rata- rata sekarang pengusaha adalah para kalangan muda.

Lalu apa peran dari institusi pendidikan dalam merubah mindset sebagaimana bapak singgung tadi?

Untuk merubah mindset ini kan sulit, harus kita buktikan dulu, baru kemudian orang lain ikut. Karena anak-anak di Aceh ini tidak bisa hanya kita beri teori. Makanya saya menawarkan program kelompok-kelompok tani ini kepada adik-adik mahasiswa, kita lihat ini sebagai projek percontohan. Kalau ini berhasil, yang lain pasti akan ikut nantinya.

Kita berharap ini menjadi pilot projek yang kelak diikuti oleh orang lain ke depan. Mindset bahwa mahasiswa bisa menjadi petani sukses, nelayan sukses, harus dimulai sejak sekarang.

Hari ini pemerintahsangat banyak menggelontorkan dana untuk KUR (Kredit Usaha Rakyat), itu kan bunganya sangat rendah. Bisa jadi pinjaman lunak dari pemerintah untuk pengembangan di sektor pertanian dan perikanan melalui kelompok milenial ini. Misal dari Bank Aceh Syariah yang memang punya daerah, bisa berkontribusi untuk hal tersebut.

Inilah konsep saya hari ini. Mudah-mudahan bisa tetap di komisi IV dan saya akan terus dorong semua itu. Paling tidak kita bisa melahirkan banyak petani-petani milenial menjadi pengusaha-pengusaha sukses di bidang perikanan dan kelautan.

Lalu pilot projek yang cocok untuk pengembangan sektor pertanian dan perikanan di Aceh saat ini di mana?

Ini kita sedang mulai di Aceh Utara. Kemudian di Aceh Timur, Langsa. Nanti ke depan kita lihat lagi konsepnya seperti apa. Seperti di Aceh Tengah kondisinya dingin, tentu formatnya akan berbeda pula.

Nantinya juga bisa kita dorong dari petani milenial ini ke agrowisata. Itukan menghasilkan luar bisa. Contoh yang kita lakukan di Langsa. Di antaranya ada wisata mangrove, wisata hutan kota, wisata.

Berarti sektor pertanian dan perikanan ini bisa membuka sektor wisata?

Iya, jelas. Kemarin kita keliling ke Aceh Utara. Saya melihat daerah Buloh Blang Ara, itu potensi durian luar biasa di sana. Saya ajak kepala dinas, coba ini ciptakan wisata durian. Konsepnya, makan durian di kebun durian.

Kalau ini kita kelola dengan baik, maka ribuan orang akan datang ke sini. Saat orang bicara durian, maka rujukannya ke Aceh Utara, kemudian bicara mancing mania ada di mana gitu. Dengan demikian, kalau agrowisata ini hidup, maka tidak ada lagi orang yang berharap jadi pegawai negeri.

Buktinya Banyuwangi itu, dari 17 persen angka kemiskinan kini jadi 3-4 persen saja. Berhasil kan.

Apa saran kepada masyarakat agar bersama-sama peduli mengembangkan sektor pertanian dan perikanan ini di Aceh?

Saya berharap besar terutama kepada generasi milenial. Mereka ini kan sebagai motor (penggerak), berharap sama-sama punya kemauan mengembangkan sektor perikanan dan pertanian ke depan.

Dan hari ini, saya pikir mulai banyak yang tertarik dengan konsep yang demikian. Kita berharap nantinya di Aceh ada khusus sentra durian, sentra rambutan, dan sebagainya. Tidak ada lagi yang menghabiskan waktu di warung kopi. Semua bergerak untuk melakukan berbagai kreatifitas dan perubahan.

Kalau sudah begini, saya yakin insya Allah dalam lima tahun ke depan akan ada perubahan yang drastis dan luar biasa untuk Aceh. (ahn/sm)


Editor :
Sara Masroni

riset-JSI
Komentar Anda