Logo Dialeksis - Masker
Beranda / Dialog / Indonesia Resesi, Dampak dan Antisipasi Secara Ekonomi

Indonesia Resesi, Dampak dan Antisipasi Secara Ekonomi

Selasa, 10 November 2020 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ambiya

Dr. Syukriy Abdullah, S.E, M.Si, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala


Presiden Joko Widodo dan jajaran menteri-menterinya terus menyampaikan sugesti bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Meski resesi, kondisinya diklaim masih lebih baik dibandingkan negara lain, terutama negara tetangga.

Pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) terkait Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III/2020 yang mengalami kontraksi 3,49 persen secara tahunan resmi mengukuhkan Indonesia dalam kondisi resesi. Kontraksi ini menyusul realisasi yang sama pada kuartal sebelumnya, di mana ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32 persen secara year-on-year (yoy).

Akibat resesi jelas memunculkan dampak ekonomi, seperti apa pengaruhnya kepada perekonomian di Indonesia?  Benarkah dampak sangat dirasakan masyarakat Indonesia, termasuk di Aceh ? Dua pertanyaan kunci itu akan terjawab melalui wawancara khusus serta mendalam bersama satu sosok ahli ekonomi Indonesia dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala. Dialah Dr. Syukriy Abdullah, S.E, M.Si nama tidak asing ditelinga kita semua, karena dedikasinya diakui nasional. Mari simak secara tuntas isinya yang disiapkan khusus kepada pembaca setia dialeksis.com, berikut ini hasil wawancara khususnya:

Apakah resesi yang terjadi di Indonesia berdampak sangat signifikan di sektor ekonomi, termasuk di bursa saham maupun seluruh lapisan masyarakat luas ?

Sebenarnya begini, kita kembali melihat korelasi antara sektor bisnis dan realitas yang terjadi, kalau hidup di kampung atau dalam perekonomian sederhana yang tidak terhubung dengan dunia luar, maka pengaruhnya malah tidak terasa. Hal ini disebabkan kehidupan orang kampung tidak bergantung pada produk-produk yang di hasilkan dari hasil produksi perusahaan, akan tetapi bergantung pada alam. Misalnya, makan dari hasil padi yang ditanam sendiri, kemudian buah-buahan, dan sayur sayuran yang dihasilkan sendiri.

Jadi yang terpengaruh lebih banyak sektor bisnis ?

Iya benar. Justru yang terpengaruh adalah bisnis yang memang memiliki saling-ketergantungan satu sama lain. Misalnya bisnis ayam potong. Bisnis ini tergantung pada harga pakan, harga obat, ongkos transportasi, sementara perusahaan yang memproduksi pakan itu sangat bergantung pada perusahaan lain, misalnya pemasok bahan baku untuk pembuatan pakan.

Mengapa mereka sangat tergantung ?

Bisnis harus beroperasi seefektif dan seefisien mungkin, termasuk dalam hal penyediaan kebutuhannya. Akibatnya, terjadi hubungan antara pemasok dengan pabrik, antara pabrik dengan distributor, dan antara distributor dengan pengecer. Jika dilakukan sendiri oleh perusahaan, maka akan tidak efisien dan efeketif, atau malah tidak mampu sama sekali. Saling ketergantungan antar-perusahaan menciptakan suatu mata rantai. Kalau mata rantai ini terganggu, maka aliran dari hulu hingga ke hilir akan terganggu juga. 

Terkait dengan kondisi resesi, logikanya, ketika terjadi resesi orang akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan uang atau tidak punya uang. Misalnya, seorang pegawai diberhentikan karena tempat dia bekerja itu sebuah warung yang sepi pembeli. Oleh karena warung merugi terus, maka pemilik merasa lebih baik menutup warungnya. Karena warung ditutup, pegawainya tidak memiliki penghasilan, jika tidak memiliki penghasilan maka dia (pegawai) tidak punya uang, karena dia tidak punya uang dia tidak bisa beli makanan dan kebutuhan lain. Karena dia tidak bisa membeli kebutuhannya, maka barang kebutuhan juga tidak laku, maka penjual kebutuhan juga ututp dan berhentikan karyawannya. Begitu seterusnya, sehingga menghasilkan efek berantai yang menyebabkan aktivitas ekonomi tidak berjalan.

Kaitan melemahkan saham di bursa efek ?

Karena aktivitas ekonomi tidak berjalan maka orang tidak bisa beli saham, sehingga harga saham juga akan anjlok karena tidak laku. Meskipun hanya bersifat sementara, seseorang bisa saja mendapat keuntungan dari transaksi jual-beli saham ketika terjadi penurunan harga saham. Misalnya kita beli harga saham pada saat harganya seribu rupiah per lembar saham. Ketika terjasi resesi, harga saham mengalami penurunan. Pada saat harga saham terus turun, misalnya menjadi lima ratus rupiah per lembar saham, kita bisa untung jika kita menjual pada saat itu dan kemudian membeli kembali saham yang sama saham pada waktu berikutnya ketika harga sahamnya semakin menurun, misalnya menjadi tiga ratus rupiah per lembar. Artinya, jumlah lembar saham kita tetap, tapi kita “sempat” memperoleh keuntungan karena adanya selisih harga jual dan harga belinya sebesar dua ratus rupiah pada masa terjadinya penurunan harga. Begitu logikanya. Bayangkan jika kemudian harga saham turun terus, lalu perusahaannya mengalami krisis keuangan, lalu kemudian bangkrut, maka otomatis pemegang saham akan rugi karena saham yang dipegangnya menjadi lembaran-lembaran kertas yang tidak berharga.

Bagaimana cara pebisnis atau masyarakat Aceh sekaligus Indonesia agar bisa bertahan dalam keadaan resesi yang terjadi ?

Kalau dalam kondisi resesi, logika sederhananya adalah kita harus mandiri kita tidak bergantung kepada negara lain, terutama untuk kebutuhan pokok. Jadi harus dioptimalkan sumberdaya yang ada di daerah yang selama ini terlanjur terkapitalisasi oleh pebisnis-pebisnis itu. Sekarang yang menjadi masalah bagi kita adalah, salah satunya, adalah penguasaan lahan pertanian atau perkebunan oleh segelintir pengusaha atau pemodal, yang menutup akses masyarakat seperti petani, peternak dan pekebun, untuk mengolah lahan tersebut. Pemerintah hanya memberi izin berupa hak guna, tapi menutup hak masyarakat untuk bisa hidup dari lahan yang menganggur tersebut. Itulah sebabnya mengapa pejabat di pusat dan daerah itu sering disebut sebagai perusak ekonomi, karena dengan kekuasaannya dalam memberikan perizinan, dia bisa menyerahkan sumberdaya yang banyak kepada segelintir orang, khususnya pemodal/kapitalis.

Contoh nyatanya ?

Misalnya, banyak lahan yang masih berupa hutan di pedalaman Aceh yang dikuasai oleh pejabat atau pengusaha yang memiliki izin untuk menggunakan atau mengolahnya. Sementara orang yang mau bekerja membuka lahan secara mandiri dan diolah sendiri tidak bisa lagi. Padahal ketika menjadi milik pejabat atau pengusaha, lahan ratusan ribu hektar itu tidak berproduksi dan tidak menghasilkan apa-apa. Orang lain yang mau mengelola (masyarakat desa) akan dipermasalahkan dan ditangkap karena dianggap merambah hutan atau menguasai milik orang lain, padahal orang lain itu juga hanya sekedar memiliki surat izin. Artinya, keterbatasan lahan menyebabkan masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhannya.

Bagi negara komunis bagaimana, apakah terjadi resesi ?

Resesi kemungkinan tidak terjadi di negara komunis-sosialis ketika semua sumberdaya yang menguasai hidup orang banyak dikuasai seluruhnya oleh negara. Kepemilikan individu terhadap faktor-faktor dibatasi sedemikian rupa. Di sisi lain, pemerintah menyediakan kebutuhan dasar masyarakatnya, seperti pendidikan, kesehatan, pangan, transportasi, dan keamanan. Pada saat resesi, negara harus turun tangan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan mengendalikan perilaku oportunis pada pebisnis yang mencoba mencari keuntungan sebesar mungkin. Jika perlu negara menggunakan tangan besi terhadap pihak-pihak yang mencari keuntungan dengan mengorbankan orang lain. Kenapa Indonesia rentan terhadap resesi karena ketergantungannya terhadap pihak luar sangan besar, lalu sumberdaya-sumberdaya yang berpotensi untuk mencukupi penghidupan orang banyak itu sudah terlanjur dimiliki oleh perusahaan yang hanya mengelola sumberdaya itu kalau mendapat keuntungan. Padahal kalau negara membagi itu kepada masyarakat yang bisa mandiri seharusnya tidak terjadi seperti itu.

Bagaimana Anda mencermati dalam konteks Aceh, relasi yang telah terjadi di Indonesia?

Dalam konteks Aceh, pemerintah daerah harus turun tangan melalui pengelolaan anggaran (APBA dan APBK) secara bertanggungjawab. Jangan lagi diolah oleh pejabat dan politisi yang ada di pemerintahan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain melalui proyek-proyek yang sesungguhnya tidak penting untuk masyarakat banyak. Meskipun terjadi resesi, dalam jangka pendek pemerintah daerah tetap memiliki uang, yang harus diatur ulang penggunaannya untuk hal-hal mendasar yang berkaitan dengan hidup masyarakat banyak. Harus ditunda proyek-proyek yang tidak berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Penyediaan infrastruktur memang penting, tapi diprioritaskan untuk yang mendukung masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Resesi dapat berdampak buruk kepada masyarakat yang tidak bisa berproduksi.

Nah sekarang bagaimana caranya pemerintah melalui pemerintah daerah masing-masing itu mendorong masyarakat untuk lebih mandiri menggunakan sumberdaya yang dimiliki? Fenomena orang di kampung yang sudah membeli sayur dari tukang sayur keliling menjadi petunjuk betapa pengelolaan sumberdaya oleh negara sudah tidak sesuai dengan tujuan Bangsa ini berdiri. Petani tidak lagi merasa perlu hidup dengan keahliannya sebagai petani, tapi berperilaku pragmatis dengan mengabaikan potensi yang dimilikinya. Seharusnya dia bisa menanam sendiri kebutuhan sayur mayur di pekarangan rumahnya.

Makanya ketika Presiden Jokowi menjanjikan masyarakat petani untuk punya lahan sendiri dan bisa hidup dari lahannya itu, ada harapan akan terbangun kemandirian pangan, yang kebal terhadap resesi. Akan tetapi, sepertinya janji cuma janji, yang tidak akan pernah ditepati. Pemerintah daerah harus melakukan inovasi dengan berbagai potensi yang dimiliki dan menguatkan masyarakat untuk bisa mandiri. Para politisi dan pejabat daerah sudah semestinya memikirkan dan memperjuangkan kepentingan rakyat dengan strategi pembangunan yang berdampak langsung kepada mereka.

Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda