Beranda / Data / Mendalami Esensi Budaya Peusijuek di Aceh

Mendalami Esensi Budaya Peusijuek di Aceh

Senin, 11 Maret 2024 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Budaya lokal Aceh penyelenggaraan Peusijuek. Foto: kolase Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Aceh- Upacara adat Aceh yang disebut Peusijuek menggambarkan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terwujudnya harapan dan impian masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya terbatas pada momen pernikahan, naik haji, atau pencapaian individu, tetapi juga pada kesempatan lain seperti pergi menuntut ilmu atau mendapat keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyelenggarannya, Peusijuek dipimpin oleh tokoh agama dan adat setempat, yang memimpin doa-doa keselamatan dan kesejahteraan kepada Tuhan. Istilah "Peusijuek" berasal dari bahasa Aceh yang menggambarkan proses pendinginan, mencerminkan perubahan budaya ketika Aceh memeluk Islam pada abad ke tujuh. Islam membawa pembaruan budaya dengan memadukan unsur-unsur lokal dengan ajaran agama, menghasilkan ritual baru seperti Peusijuek.

Adat ini tidak hanya mempertahankan budaya lokal, tetapi juga memadukan unsur-unsur Islam ke dalam tradisi. Perubahan ini terlihat dalam doa-doa yang beralih dari bahasa Aceh ke bahasa Arab. Namun, esensi Peusijuek sebagai ungkapan syukur tetap terpelihara hingga saat ini.

Penyelenggaraan Peusijuek melibatkan tokoh agama yang dihormati, seperti Tengku (ustadz) dan Umi Chik (ustadzah), untuk memastikan kesucian dan kesahihan ritual. Persiapan materi ritual melibatkan simbol-simbol keharmonisan dan kesuburan, seperti dedaunan, beras, padi, air, dan tepung ketan.

Dalam pelaksanaannya, Tengku memimpin prosesi dengan menggunakan dedaunan dan rerumputan, serta menaburkan beras dan padi sebagai simbol kesuburan. Tepung dan ketan dioleskan pada telinga sebagai simbol persaudaraan. Prosesi ini diperkaya dengan berbagai perlengkapan lain seperti buah talam, kue, tempat cuci tangan, dan tudung saji.

Doa-doa dipanjatkan untuk kedamaian, keselamatan, dan kelimpahan rezeki dari Tuhan. Prosesi ini diakhiri dengan pemberian uang dari para tamu kepada penyelenggara, menandakan dukungan dan keberkahan untuk calon jemaah haji, acara sunatan, atau pernikahan.

Peusijuek menggambarkan kesatuan antara budaya dan agama dalam masyarakat Aceh. Kedalaman makna ritual ini menjadikan pentingnya peran Tengku dan Umi Chik dalam memimpin upacara, sehingga doa-doa yang dipanjatkan menjadi lantunan kesucian yang memperoleh berkah dari Tuhan. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda