DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakanaktivitas influenza di Indonesia pada 2026 hingga minggu ke-38 masih berada dalam kategori rendah hingga moderat. Kenaikan kasus yang terjadi pada September dinilai masih mengikuti pola musiman influenza yang umumnya meningkat hingga akhir tahun.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan influenza merupakan penyakit yang disebabkan virus RNA, terutama influenza tipe A dan B. Virus tersebut memiliki karakter mudah bermutasi.
“Influenza tipe A dan B itulah yang beredar di Indonesia. Kemudian sifat daripada virus RNA ini adalah virus yang mudah bermutasi,” ujar Andi dalam konferensi pers, di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Menurut Andi, sebagian besar penderita influenza ini dapat pulih sepenuhnya tanpa memerlukan perawatan di rumah sakit. Penanganan dapat dilakukan dengan istirahat yang cukup dan mengonsumsi obat sesuai gejala. "Sementara pada kasus berat, penderita dapat menjalani perawatan di rumah sakit," jelasnya.
Influenza Bersifat Musiman
Andi menjelaskan, tren influenza secara global menunjukkan pola musiman (seasonal). Peningkatan aktivitas influenza umumnya terjadi sekitar September hingga akhir tahun. Pola serupa juga terlihat di sejumlah negara Asia, termasuk Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Pada 2026, influenza A subtipe H1N1 menjadi subtipe yang paling banyak bersirkulasi secara global. Di Singapura dan Thailand, subtipe yang dominan adalah Influenza A H1N1 pdm09. Pola musiman ini juga terlihat di Indonesia. Sementara di Malaysia, influenza yang beredar meliputi H3N2, H1N1 pdm09, serta influenza tipe B.
Dia menjelaskan, pada minggu ke-38 September 2026, positivity rate influenza tercatat 56 persen. Angka tersebut masih berada dalam pola historis. Sebagai pembanding, pada 2023 positivity rate influenza sempat mencapai 68 persen pada periode September hingga akhir tahun.
“Kami tentunya berharap bahwa setelah minggu ini terjadi penurunan. Kita juga bisa lihat tren-tren sebelumnya bahwa ketika sudah melampaui sekitar minggu ke-39, dan ke-40, trennya akan menurun. Untuk Indonesia, subtipe influenza yang predominan adalah influenza A H1N1 pdm09," ujarnya.
Kemenkes kata dia, juga melakukan pemeriksaan spesimen Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) untuk memantau perkembangan influenza di Indonesia. Hingga minggu ke-38-2026, sebanyak 8.757 spesimen telah diperiksa. Dari jumlah tersebut, 1.527 spesimen atau sekitar 17 persen dinyatakan positif influenza.
Sementara itu, sepanjang 2025 terdapat 11.805 spesimen yang diperiksa dengan 2.790 spesimen positif influenza atau sekitar 26 persen. Pemantauan aktivitas influenza juga dilakukan dengan membandingkan data 2026 dengan tren historis selama 10 tahun, yakni periode 2016–2025.
"Pada SARI yang dipantau melalui rumah sakit, aktivitas influenza pada 2026 hingga minggu ke-38 masih berada pada area low atau rendah, yakni kisaran 28–53 persen. Posisi tersebut juga masih berada di bawah rata-rata historis 10 tahun terakhir," sebutnya.
Sementara itu, aktivitas influenza berdasarkan ILI yang dipantau melalui puskesmas dan Balai Kekarantinaan Kesehatan pada minggu ke-38 mengalami peningkatan mengikuti pola historis. Namun, tingkat aktivitasnya masih berada pada kategori moderate atau sedang, yakni 54–60 persen.
Lanjut Andi menjelaskan, aktivitas tersebut belum mencapai kategori high maupun extraordinary. Berdasarkan pola historis 10 tahun, puncak aktivitas influenza diperkirakan berada di sekitar minggu ke-39 hingga ke-40 sebelum memasuki tren penurunan.
“Jadi kalau yang SARI itu tingkat aktivitas influenzanya berada pada area kuning, low, masih rendah. Kemudian yang untuk ILI itu tingkat aktivitasnya sedang,” ungkapnya.
Untuk memantau perkembangan influenza, Kemenkes menjalankan surveilans Sentinel ILI-SARI yang terintegrasi dengan pemantauan COVID-19. Jaringan surveilans tersebut melibatkan 35 rumah sakit, 39 puskesmas, 13 Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat, dan 14 Balai Kekarantinaan Kesehatan.
Menurut Andi, jaringan tersebut mencakup seluruh provinsi sehingga perkembangan influenza dapat terus dipantau melalui fasilitas pelayanan kesehatan dan laboratorium. "Distribusinya semua ter-cover, provinsi ter-cover daripada sentinel surveilans ini,” katanya.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), antara lain mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker dengan benar.
Penggunaan masker terutama dianjurkan bagi masyarakat yang sedang sakit. Sementara masyarakat yang sehat disarankan menggunakan masker ketika berada di tempat ramai seperti terminal dan pasar. Vaksinasi influenza secara rutin satu tahun sekali juga dianjurkan sebagai bagian dari upaya pencegahan.