Minggu, 19 Juli 2026
Beranda / Celoteh Warga / Soal "Alutsista Impor" dan Kaderisasi: Tanggapan untuk Bang Jabal Sab

Soal "Alutsista Impor" dan Kaderisasi: Tanggapan untuk Bang Jabal Sab

Sabtu, 18 Juli 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Risman Rachman

DIALEKSIS.COM | Celoteh Warga - Terima kasih Jabal Sab sudah menanggapi status saya soal "Ada Apa dengan Demokrat" itu. Saya senang forum ini bisa hidup, tempat kita bisa berbeda sekaligus pemicu agar saling “panggil” u jep kupi sikhan hhaha. Izinkan saya menanggapi, sebagaimana layaknya sesama pemerhati yang sama-sama ingin partai ini ” atau politik Aceh secara umum ” tumbuh lebih sehat.

Bung Jabal membawa analogi yang segar: di tengah PAN, PKB, dan Golkar yang sudah unjuk kekuatan menuju 2029, Demokrat perlu "alutsista" baru yang siap tempur, dan Sayuti Abubakar Jabal posisikan sebagai rudal jelajah yang tepat untuk itu. Menarik, dan saya paham logikanya ” di medan yang makin sesak, kadang orang berpikir jalan pintas kekuatan instan lebih masuk akal daripada menunggu proses panjang.

Tapi izinkan saya menggeser sedikit letak persoalannya. Bagi saya, ini bukan sekadar debat kader internal versus eksternal, seperti yang sempat saya singgung juga. Titik krusialnya ada pada bagaimana partai membangun daya tahan jangka panjang, bukan sekadar daya gentar sesaat.

Analogi alutsista itu, kalau boleh saya pinjam dan balik sedikit, justru menunjukkan persis kenapa jalan pintas ini berisiko. Drone atau rudal bisa dibeli dari luar karena mereka benda mati ” tidak punya loyalitas, tidak punya sejarah, tidak akan pindah pihak di tengah pertempuran. 

Partai politik bukan begitu. Partai adalah organisasi manusia yang hidupnya bergantung pada soliditas struktur, loyalitas berjenjang, dan kepercayaan yang dibangun lewat waktu. Rekam jejak Bang Sayuti sendiri justru memperlihatkan pola sebaliknya dari yang dibutuhkan: pernah maju sebagai caleg DPR RI dari PKB, pernah pula menjadi sekretaris Majelis Tinggi Partai Nanggroe Aceh, sebelum kini disebut-sebut menuju kursi ketua Demokrat. Ini pola seorang politisi kutu loncat yang piawai membaca peluang, bukan soal salah atau benar secara personal, tapi soal apakah pola semacam ini yang ingin kita jadikan standar kepemimpinan partai ke depan. Kalau dia rudal saya kuatir nanti bisa meledak di di ruang rapat demokrat hehe. 

"Rudal antar benua" yang Bang Jabal gambarkan itu, kalau saya jujur, justru berpotensi menjadi senjata yang bisa diarahkan ke mana saja, tergantung siapa yang membayar ongkos peluncurannya paling tinggi saat itu. Itu bukan jaminan kemenangan struktural untuk Demokrat, melainkan gambling jangka pendek yang taruhannya adalah soliditas partai itu sendiri.

Bandingkan dengan sejarah Demokrat Aceh sendiri. Di 2009, partai ini sempat menembus 10 kursi DPRA, kedua terbanyak setelah Partai Aceh, ditopang gelombang popularitas SBY yang memang lahir dari proses panjang di partai. Setelah itu naik turun ” 8 kursi di 2014, kembali 10 di 2019, lalu melorot ke 7 di 2024. Yang membuat partai ini bertahan, meski grafiknya tidak stabil, bukan karena sesekali mendatangkan "bintang tamu", tapi karena tetap ada struktur DPC yang jalan di 23 kabupaten/kota. Itulah modal yang perlu dirawat, bukan dipertaruhkan demi kejutan jangka pendek menjelang satu-dua musim pemilu.

Jadi begini Bung Jabal, kalau boleh saya tarik simpulnya: PAN, PKB, dan Golkar hari ini memang unjuk kekuatan dengan skuad besar. Tapi kekuatan yang mereka pertontonkan itu tetap dibangun di atas struktur kepartaian yang sudah berjalan lama. "Show of force" bukan sama dengan mendadak mengimpor senjata dari luar barisan. Demokrat, kalau ingin benar-benar kembali berjaya, menurut saya tetap harus menempuh jalan yang lebih sunyi tapi lebih tahan lama: membesarkan kader dari DPC, menguji mereka lewat dinamika internal, baru mempercayakan tongkat kepemimpinan. Bukan karena saya anti terhadap tokoh-tokoh dari luar struktur, tapi karena partai yang sehat semestinya punya jalur regenerasi yang jelas, bukan bergantung pada siapa yang paling siap tempur di saat genting.

Dulu, teman-teman dengan lantang menolak Om Bus memimpin Golkar Aceh. Nah, kenapa sekarang malah menerima Sayuti?! Ayooo hehe. 

Sekali lagi, terima kasih atas tanggapannya, Bang Jabal. Beda pendapat begini justru sehat untuk demokrasi internal partai ” dan saya kira, itu juga bagian dari semangat "Demokrat sejati" yang sesungguhnya: berani berbeda pandangan, tapi tetap saling menghormati. Tabek juga dari saya.

Penulis: Risman Rachman dikutip dari laman Facebook, Tanggal 18 Juli 2026. 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI