Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Mimpi Razikin Akbar Membesarkan USK: Berakar Lokal, Berdaya Saing Global

Mimpi Razikin Akbar Membesarkan USK: Berakar Lokal, Berdaya Saing Global

Selasa, 27 Januari 2026 20:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Razikin Akbar. Foto: for Dialeksis 


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pagi itu, Razikin Akbar berbicara tentang Universitas Syiah Kuala (USK) dengan nada yang tenang, namun penuh keyakinan. Alumni USK yang kini berkiprah sebagai profesional di Jakarta ini menyebut kampus almamaternya sebagai rumah intelektual yang mesti dibesarkan secara utuh bukan hanya dari sisi reputasi akademik, tetapi juga dari kedekatan dengan nilai dan kebutuhan masyarakat Aceh.

Bagi Razikin menyampaikan sambil ngopi bareng bersama Dialeksis, Selasa 27 Januari 2026, kepemimpinan di lingkungan akademik tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan administratif semata. 

Kepemimpinan harus membumi, menghadirkan rasa kedekatan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap setiap unsur kampus. Dari relasi yang egaliter itulah, menurutnya, kepercayaan tumbuh dan kinerja institusi dapat bergerak secara kolektif.

“Universitas bukan hanya soal gedung, peringkat, atau publikasi. Ia hidup dari manusia di dalamnya,” kata Razikin. Karena itu, ia menekankan pentingnya tata kelola yang bersih dan akuntabel, disertai komunikasi yang terbuka antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Gagasan membesarkan USK, dalam pandangan Razikin, bertumpu pada tiga kata kunci: kualitas, relevansi, dan kemandirian. Ketiganya saling terkait dan tak bisa dipisahkan.

Kualitas dimaknai sebagai penguatan pembelajaran berbasis Outcome Based Education (OBE), peningkatan daya saing dosen, serta pengembangan riset yang berintegritas dan bereputasi. USK, menurutnya, harus memastikan bahwa proses akademik berjalan dengan standar tinggi, namun tetap adaptif terhadap perubahan zaman.

Relevansi berarti kehadiran USK dalam menjawab persoalan nyata Aceh dan Indonesia. Mulai dari isu ketahanan pangan, kebencanaan, hingga pengembangan ekonomi syariah, universitas dituntut tidak hanya menjadi menara gading, tetapi juga aktor yang terlibat langsung dalam pemecahan masalah publik.

Sementara kemandirian diarahkan pada penguatan sumber pendapatan universitas yang sehat dan berkelanjutan. Razikin menegaskan, kemandirian finansial penting agar kampus memiliki ruang gerak yang lebih luas, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai akademik dan etika pendidikan.

Dalam konteks internasionalisasi, Razikin mendorong langkah yang terencana dan berjangka panjang. Kerja sama joint degree dan double degree, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta kehadiran profesor tamu internasional menjadi bagian dari strategi memperluas jejaring global USK. Target akhirnya adalah semakin banyak program studi yang terakreditasi secara internasional.

Namun, ia mengingatkan bahwa globalisasi tidak boleh mengikis identitas Aceh. Sebaliknya, kekhasan lokal justru harus menjadi nilai tambah. “Kearifan lokal Aceh adalah kekuatan, bukan beban. Itu yang membuat USK berbeda di mata dunia,” ujarnya.

Razikin juga menyoroti orientasi riset di perguruan tinggi. Menurutnya, riset tidak boleh berhenti pada angka publikasi atau indeks sitasi. Ia mendorong lahirnya flagship research USK yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan kebijakan publik.

Hasil riset, kata Razikin, harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas petani, nelayan, desa, hingga pelaku UMKM. Dari sanalah USK dibangun bukan hanya sebagai kampus yang unggul secara intelektual, tetapi juga relevan secara sosial dan ekonomi.

Dalam seluruh visinya, mahasiswa ditempatkan sebagai pusat kehidupan universitas. Penguatan soft skills, kewirausahaan, dan kepemimpinan menjadi prioritas agar lulusan USK tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.

Di saat yang sama, isu kesejahteraan mahasiswa mulai dari akses beasiswa, layanan kesehatan, hingga konseling dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun iklim akademik yang sehat. Tanpa perhatian pada aspek ini, menurut Razikin, kualitas pendidikan sulit berkembang secara optimal.

Memandang lima tahun ke depan, Razikin membayangkan USK sebagai universitas rujukan nasional yang mulai diperhitungkan di tingkat Asia Tenggara. Kampus yang kuat dalam riset, berdaya saing dalam kualitas lulusan, mandiri secara ekonomi, serta dicintai masyarakat Aceh karena kebermanfaatannya.

Visi itu, menurut Razikin, hanya bisa terwujud jika USK konsisten memadukan standar global dengan akar lokal. “Membesarkan USK adalah kerja kolektif. Ia menuntut keberanian menjaga identitas, sekaligus kesiapan bersaing di tingkat dunia,” ujarnya.

Dalam pandangan Razikin Akbar, di situlah masa depan USK dipertaruhkan menjadi universitas yang tidak hanya besar dalam angka dan peringkat, tetapi juga bermakna bagi masyarakat yang melahirkannya.

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI