Sabtu, 30 Agustus 2025
Beranda / Berita / Dosen UTU Latih Nelayan Lhok Kuala Bubon Buat Bubu Ramah Lingkungan

Dosen UTU Latih Nelayan Lhok Kuala Bubon Buat Bubu Ramah Lingkungan

Sabtu, 30 Agustus 2025 09:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Afdhal Fuadi, S.Pi., M.Si. Dosen UTU jalankan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek tahun 2025. Foto: untuk Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh Barat - Upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus menjaga kelestarian laut kembali dilakukan kalangan akademisi. Tim dosen dari Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Teuku Umar (UTU) menggelar workshop pembuatan teknologi Bubu Dasar (BuDar) ramah lingkungan bagi nelayan tradisional di Desa Lhok Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Jumat (29/8/2025).

Kegiatan yang berlangsung di gudang pertemuan desa ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek tahun 2025. Hadir dalam acara tersebut Panglima Laot Lhok Kuala Bubon Saipul, aparatur desa, serta para nelayan setempat yang menjadi penerima manfaat langsung.

Dalam pelatihan itu, tim dosen bersama mahasiswa UTU membimbing nelayan untuk merakit BuDar secara mandiri, mulai dari pembuatan kerangka, mulut bubu, hingga pemasangan jaring. Harapannya, nelayan mampu menguasai teknik pembuatan sehingga tidak selalu bergantung pada bantuan luar.

Panglima Laot Lhok Kuala Bubon, Saipul, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. “Kami sangat berterima kasih kepada dosen dan mahasiswa UTU yang sudah mendampingi nelayan. Dengan pelatihan ini, kami bisa merakit bubu sendiri yang ramah lingkungan. Alat ini tidak hanya menjaga laut Aceh Barat, tapi juga meningkatkan hasil tangkapan dan pendapatan nelayan,” ujarnya.

Ketua program pengabdian, Hamidi, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa pendampingan terhadap nelayan tradisional merupakan tanggung jawab moral dan akademik pihak kampus. “Program ini kami rancang agar tepat sasaran. Nelayan kecil di Lhok Kuala Bubon adalah penerima manfaat langsung. Harapan kami, mereka mampu merakit sendiri BuDar, terutama bagian mulut bubu, dan menjadikannya sebagai alternatif alat tangkap ramah lingkungan,” jelasnya.

Hamidi juga menitip pesan agar Panglima Laot menjadikan pelatihan semacam ini sebagai agenda rutin dalam mendukung kelompok nelayan.

Sementara itu, Afdhal Fuadi, S.Pi., M.Si., selaku teknisi program, menjelaskan bahwa BuDar berbasis pemanfaatan sumber daya lokal. “Bahan-bahannya mudah didapat di sekitar Lhok Kuala Bubon, seperti batang pinang dan rotan untuk bantalan, serta daun pinang, kelapa, dan paku laut sebagai atraktor pemikat ikan. Semua bahan alami ini bisa terurai sendiri sehingga tidak mencemari laut,” ungkapnya.

BuDar dikenal sebagai alat tangkap ramah lingkungan karena tidak merusak habitat dasar laut. Dengan ukuran mata jaring (mesh size) 5 cm, alat ini memastikan hanya ikan layak tangkap yang terperangkap, seperti kakap merah, jenahak, dan kerapu yang memiliki nilai jual tinggi.

Dari segi ukuran, BuDar yang diperkenalkan memiliki panjang 150 cm, lebar 90 cm, dan tinggi 50 cm. Desain ini disesuaikan dengan kondisi nelayan tradisional Lhok Kuala Bubon yang rata-rata menggunakan kapal kecil berkapasitas di bawah 5 gross ton (GT).

Melalui program ini, nelayan tidak hanya mendapat keterampilan baru untuk meningkatkan hasil tangkapan, tetapi juga diajak berkontribusi menjaga ekosistem laut. “Penggunaan BuDar bukan hanya soal meningkatkan pendapatan, tapi juga bagian dari menjaga laut untuk generasi mendatang,” pungkas Hamidi.

Keyword:


Editor :
Redaksi

perkim, bpka, Sekwan
riset-JSI
pelantikan padam
17 Augustus - depot
sekwan - polda
damai -esdm
bpka