Minggu, 27 September 2026
Beranda / Berita / Banjir dan Longsor Terjang Lima Kecamatan di Aceh Tengah, Jembatan Baru Hanyut

Banjir dan Longsor Terjang Lima Kecamatan di Aceh Tengah, Jembatan Baru Hanyut

Minggu, 27 September 2026 08:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Kondisi banjir dan tanah longsor melanda lima kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (26/9/2026). Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh Tengah - Banjir dan tanah longsor melanda lima kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (26/9/2026), setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak siang hingga malam. Bencana tersebut merendam permukiman dan sekolah, melumpuhkan sejumlah ruas jalan, serta menghanyutkan jembatan gantung yang baru dibangun TNI.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Aceh Tengah pukul 22.50 WIB, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kebayakan, Pegasing, Atu Lintang, Rusip Antara, dan Linge.

Hingga pembaruan laporan tersebut, tidak ada korban meninggal dunia, korban luka, maupun pengungsi yang dilaporkan. Namun, jumlah rumah dan warga terdampak serta nilai kerugian belum dirinci.

BPBD mencatat hujan deras berlangsung sejak pukul 13.20 WIB dan masih terjadi hingga pukul 22.30 WIB, atau lebih dari sembilan jam. Hujan berkepanjangan itu memicu luapan air serta membawa material tanah, bebatuan, dan kayu ke sejumlah lokasi.

Di Kecamatan Linge, derasnya arus sungai menghanyutkan jembatan gantung di Kampung Reje Payung. Menurut laporan BPBD, jembatan tersebut baru saja dibangun oleh TNI. Laporan itu belum menjelaskan ketersediaan jalur alternatif bagi warga setelah jembatan hanyut.

Sementara itu, longsor di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, menutup jalan lingkar danau yang berstatus jalan provinsi. Material bebatuan dan kayu juga menumpuk di sejumlah aliran sungai sehingga menyebabkan pendangkalan.

Di Kecamatan Pegasing, banjir merendam enam kampung, yakni Kedelah, Ie Relop, Sukadamai, Paya Jeget, Wih Nareh, dan Uring. Sungai serta saluran drainase di wilayah tersebut dilaporkan tidak mampu menampung air hujan yang turun deras.

Banjir juga melanda Kampung Kekelip, Kecamatan Atu Lintang. Air sempat merendam sekolah dan rumah penduduk, sekaligus melumpuhkan akses jalan.

Adapun di Kecamatan Rusip Antara, aliran air yang membawa tanah dan bebatuan melumpuhkan ruas jalan nasional Takengon–Pameu. Laporan tersebut belum memuat kepastian waktu pemulihan akses pada ruas itu.

Untuk menangani dampak bencana, BPBD Aceh Tengah mengerahkan dua unit alat berat miliknya, masing-masing satu ekskavator dan satu loader. Hingga Sabtu malam, petugas dilaporkan telah menyelesaikan pembersihan longsor di ruas jalan lingkar danau serta pengerukan sedimen di Kampung Mendale.

Penanganan di lokasi lainnya direncanakan dilanjutkan pada Minggu (27/9/2026). BPBD menyebut hujan yang masih berlangsung dan tingginya risiko bekerja pada malam hari menjadi pertimbangan penundaan pekerjaan.

Potensi hujan masih perlu diantisipasi. Dalam prakiraan cuaca yang diterbitkan pada 25 September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan Aceh sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan berintensitas sedang pada periode 25 - 27 September dan 28 September - 1 Oktober 2026. BMKG juga mengingatkan potensi genangan dan longsoran material akibat hujan lokal. BMKG

Sebagai konteks risiko bencana, BNPB dalam keterangan tertulis pada 6 Mei 2026 menjelaskan bahwa tanah yang jenuh air di lereng dan perbukitan, disertai drainase yang tidak optimal, dapat memperbesar risiko banjir dan longsor. BNPB mengingatkan masyarakat di daerah rawan agar mewaspadai retakan tanah, suara gemuruh dari lereng, serta kenaikan muka air sungai secara cepat. bnpb.go.id

Masyarakat yang membutuhkan bantuan atau hendak melaporkan kejadian darurat dapat menghubungi Pusdalops BPBD Aceh Tengah melalui nomor 0812-6425-7378, sebagaimana tercantum dalam laporan tersebut.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI