Logo Dialeksis
Beranda / Analisis / Prediksi Akhir Musda XI Golkar Aceh

Prediksi Akhir Musda XI Golkar Aceh

Rabu, 04 Maret 2020 08:07 WIB

Font: Ukuran: - +


Golkar memiliki ciri khas yang membedakan dengan partai politik lainya. Ciri khasnya pada aklamasi. Menghasilkan musyawarah mufakat dalam pemilihan pimpinan diinternal Golkar. Kini muncul pertanyaan, apakah pada Musyawarah XI Partai Golkar Aceh, mampu mempertahankan ciri khas tersebut ?

Pertarungan menjadi orang nomor satu di DPD I Golkar Aceh pada Musda XI, telah menjadi magnet politik tersendiri dalam dinamika politik lokal. Publik memperhatikan setiap detik perkembangan peta politik pemilihan ketua baru Golkar Aceh. Tidak mengherankan, partai pemenang nomor tiga hasil Pemilu 2019 ini memiliki pengaruh kuat di percaturan politik Aceh. Golkar meraih 9 kursi DPRA setelah Demokrat (10 kursi) dan PA berada diurutan pertama (18 kursi).  

Kader dari Golkar Aceh yang maju sebagai ketua DPD I Golkar Aceh pastinya kader terbaik, karena melalui seleksi dan ditempatkan pada kemapanan proses kaderisasi diinternalnya. Ada beberapa kader terbaik yang semula meramaikan bursa calon pimpinan pohon beringin ini. Muncul nama Andi Harianto Sinulingga (Andi HS), berkibar juga nama Hendra Budian (HB) the rising star kader Golkar, serta T. Husein Banta (THB) politikus kawakan, dan incumbent TM. Nurlif.

Namun dalam last minute perubahan peta, menguntungkan kubu T. Husein Banta dan Hendra Budian. Dikarenakan, Andi HS merapatkan barisan memberikan dukungan THB. Artinya posisi THB semakin kuat, bahkan Hendra Budian awalnya didengung-dengungkan maju, untuk mendukung penuh THB. Mereka berdua maju hanyalah menyesir dukungan, agar terkonsolidasi dan solid. THB dan HB bagaikan satu jiwa dan tubuh, tidak mungkin bertarung di “arena”.  

Tarik menarik dukungan dan kepastian suara dari DPD II di daerah, menjadi kunci kemenangan. Jika melihat gambaran arah bandul dukungan DPD II ( sumber ajnn.net 03/03/2020), dominan dukungan lebih mengarah ke THB daripada TM Nurlif. THB memiliki dukungan 17 suara ( 16 DPD II, AMPG dan KPPG 1 suara).  

Sementara untuk TM Nurlif hanya memiliki kekuatan 11 suara (8 dukungan dari DPD II, Soksi/Kosgoro, dan MKGR 1 suara, AMPI 1 suara, dan Wantim 1 suara). Jadi hitungan kasar diatas kertas THB memiliki 17 suara, versus 11 suara untuk TM. Nurlif. Namun yang menjadi catatan pentingya adalah, peta masih bisa berubah seiring dinamika yang terjadi di internal Golkar Aceh.

Dilihat dari modalitas, dukungan DPD II lebih menguntungkan THB daripada TM Nurlif. Mengapa? Karena posisi THB, HB, dan Andi HS memiliki relasi kuat dengan elit penguasa di Aceh maupun pusat. Apalagi sosok HB dianggap DPP anak emasnya Erlangga, Ketua Umum DPP Golkar.

Melirik modalitas keuangan, keduanya sama-sama punya logistik (finansial). Pengaruh ini tidak signifikan, tetapi komunikasi politik menawarkan konsep pembaharuan Golkar secara visi misi serta program menjadi penilai utama kader Golkar.  

Diyakini publik, kader Golkar Aceh memiliki kecerdasan membaca pengalaman dalam menilai kondisi Golkar selama dipimpin TM Nurlif. Patut dicatat dalam rekam jejak hasil diskusi dengan caleg terpilih Golkar di parlemen (DPRA), mereka bisa duduk bukan karena peran partai. Akan tetapi upaya personal masing-masing kader Golkar sendiri untuk berjuang terpilih dan menduduki kursi di parlemen. Mesin partai ketika pemilihan legislatif (Pileg) tidaklah memberikan dampak besar bagi kadernya sendiri. 

Terpenting bagi internal Golkar Aceh kedepannya, sosok yang memimpin haruslah terbebas dari beban masalah masa lalu yang ber-image negatif bagi Golkar Aceh secara kelembagaan partainya. Tentunya nanti akan menurunkan marwah Golkar Aceh secara kelembagaan politik di mata masyarakat Aceh. Diharapkan harus ada sosok yang baru dengan visi misi baru. Program yang kongkrit serta nyata diwujudkan, bukan hanya slogan ataupun catatan dalam buku pada saat pencalonan saja, selepas itu jadi kertas usang tak tersentuh untuk diwujudkan.  


Terpenting dari Musda XI Partai Golkar Aceh, publik berharap dapat menjadi ajang konsolidasi dan rekonsiliasi para kader Golkar Aceh. Selanjutnya bersama-sama, bahu-membahu membesarkan partai Golkar. Hal lainnya, siapapun terpilih jadi orang nomor satu di partai Golkar Aceh, harus dapat memaksimalkan potensi seluruh kader di internal tanpa terkecuali. Itu harus dijadikan agenda utama pasca terpilihnya pemimpin baru DPD I Golkar Aceh.  Aryos Nivada . Dosen FISIP Unsyiah 



Editor :
Redaksi

riset-JSI
Komentar Anda