Logo Dialeksis
Beranda / Analisis / Fenomena Bukit Magnit dan ‘Gabuknya’ Pejabat Kita

Fenomena Bukit Magnit dan ‘Gabuknya’ Pejabat Kita

Senin, 06 Januari 2020 20:51 WIB

Font: Ukuran: - +



Indonesia memang doyan dengan fenomena unik, tidak lazim dan menakjubkan. Terlebih ketika fenomena tersebut diketahui oleh pejabat daerah setempat. 

Berbondong bondong pejabat teras dan jajaranya mengunjugi lokasi peristiwa unik tersebut. Kemudian menggembar gemborkan peristiwa itu sebagai sebuah capaian unik dan khas wilayahnya. Hal inilah yang terjadi di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Tersiar kabar bahwa terdapat spot atau wilayah medan magnit di Aceh Besar. Informasi yang diketahui didapatkan dari salah satu wartawan lokal di Aceh, kemudian merangsang Mawardi untuk mengunjunginya, Minggu 5 Januari 2019.

Lokasi berada di Jalan Bukit Radar, Blang Bintang. Dari hasil pengujian pihaknya, diketahui memang mobil bergerak mundur kebelakang, setelah mobil dimatikan dan porsneling pada posisi netral. Lokasi ini kemudian dikaitkan dengan wilayah legendaris di Arab Saudi, yaitu Jabal Magnit yang Letaknya sekitar 60 kilometer dari Kota Madinah.

Tidak tanggung tanggung, Mawardi Ali yang sempat merekam fenomena di lokasi mengaku takjub dan akan segera mendatangkan ahli Geofisika dari Bandung.

"Untuk membuktikan kandungan medan magnet ini, kita akan mendatangkan ahlinya. Bila lokasi ini terbukti secara ilmiah memiliki kandungan medan magnet, akan kita kembangkan sebagai destinasi wisata dan sebagai tempat penelitian", sebut Mawardi Ali.

Bukan yang Pertama

Medan magnetik bumi sudah ada, setidaknya 4.2 milyar tahun lalu. Medan magnetik bumi ini pada kemudian hari diketahui bermanfaat dalam menentukan arah dalam kompas/navigasi. Pengukuran intensitas medan magnetik bumi pertama di Indonesia dilakukan oleh de Rossell pada 9 Oktober 1792 di Surabaya.

Minat umat manusia terhadap magnetisme berawal pada sifat tarik menarik dari mineral lode – stone, bentuk magnetik alami. Sering disebut sebagai loadstone sebutan tersebut berasal dari bahasa Inggris lama, kata “load” bermakna “jalan” ataupun “jalur”. Loadstone secara harfiah merupakan sebuah batu yang menunjukan arah kepada para musafir (Lowrie, 2007).

Pada abad pertengahan banyak fantasi mengerikan mengenai magnet. Namun, semua itu dibantah oleh William Gilbert dalam bukunya pada tahun 1600 Monograf De Magnete, yang bisa dibilang merupakan teks ilmiah modern pertama.

Pemeriksaan arah bidang dipol pada permukaan bola Lodestone atau “terella”, dan mengaitkannya dengan pengamatan kemiringan yang saat itu telah diukur pada banyak titik dipermukaan bumi. Gilbert mengidentifikasikan gaya dari sumber magnetik yang menyelaraskan jarum kompas seperti bumi itu sendiri, bukan bintang seperti yang diasumsikan sebelumnya. Dia menduga bahwa bumi itu sendiri adalah magnet raksasa.

Secara sederhana, medan magnet bumi dapat digambarkan sebagai medan magnet yang ditimbulkan oleh batang magnet besar yang ada di dalam inti bumi. Letaknya tidak berimpit dengan garis utara selatan geografis bumi.

Ada beberapa alasan sehingga bumi memiliki medan magnetik, diantaranya (1) Kecepatan rotasi Bumi yang tinggi; (2) Proses konveksi di mantel dengan inti luar bumi, dan (3) Inti dalam yang konduktif, kaya kandungan besi.

Bila dilacak sebenarnya fenomena medan magnit di pegunungan ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Berdasarkan penelusuran beragam sumber, wilayah medan magnit terdapat di beragam lokasi di dunia. Di Australia ada bukit magnet di Orrorroo, Selatan Australia. Di China terdapat situs yang bernama gansu di daerah gurun di Kabupaten Yugur. Situs yang berada di ketinggian lereng 200 kaki di ini terdapat fenomena unik, dimana air mengalir menanjak.

Korea selatan punya Mysterious road atau Dokkaebi yang terletak di sebuah bukit di kaki gunung dan menghubungkan dua jalan raya utama di Jeju. Ditempat ini dipercaya mengandung medan magnit karena membuat mobil atau benda apapun yang berjalan diatas Dokkaebi bisa bergerak sendiri ke atas.

Misalnya, mobil yang diparkir dalam kondisi netral mampu berjalan sendiri tanpa dikendalikan sopirnya. Air yang dituang diatas jalan ini juga tidak akan mengalir ke bawah melainkan justru naik ke bagian jalan yang posisinya lebih tinggi.

Tentu saja yang paling fenomenal adalah Jabal magnit di Arab Saudi. Di lokasi yang disebut sebagai Manthiqa Baidha, wisatawan takjub dengan fenomena daya dorong di lokasi ini, dimana kendaraan yang melaju dengan kecepatan 120km, kecepatannya turun menjadi 5km perjam. Di Indonesia sendiri punya bukit gravitasi ini ada di Banyumas dan Gunung Kelud di Kediri.

Lantas timbul pertanyaan, pakah fenomena bukit magnit ini merupakan tertolaknya hukum gravitasi di beberapa lokasi didunia ? Benarkah fenomena itu disebabkan karena tarikan magnet yang kuat sehingga mobil bisa tersedot dan meluncur dalam kecepatan tinggi pada porsneling netral?

Ilusi optik?

Meski banyak teori seputar bukit medan magnit, namun hingga kini terdapat penjalasan lebih akurat terhadap fenomenan tersebut, yang dikenal sebagai ilusi optikal atau ilusi visual. Ilusi optik adalah ilusi yang terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia.

Menurut Webster Collegiate: Ilusi adalah sesuatu yang menipu atau menyesatkan intelektual; -persepsi untuk sesuatu -yang ada sedemikian rupa untuk menimbulkan salah tafsir. Optik adalah penglihatan / mata.

Sedangkan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang dimaksud Ilusi adalah angan-angan; khayal; (1) sesuatu yang memperdaya pikiran dengan memberi kesan palsu ; (2) suatu gagasan yang keliru; suatu kepercayaan yang tidak mendasar; keadaan pikiran yang memperdaya seseorang. Optik adalah pengetahuan tentang mata/ penglihatan.

Efek yang kita rasakan sebagai keanehan itu hanyalah ilusi. Ilusi yang disebabkan oleh faktor topografi (landschap) setempat. Posisi pohon dan lereng di daerah sekitar, atau garis cakrawala yang melengkung, dapat menipu mata, sehingga apa yang terlihat menaiki tanjakan sesungguhnya menuruni tanjakan. Tentu tidak semua bagian di daerah itu bisa menimbulkan efek ilusi, hanya pada titik tertentu dengan kondisi tertentu yang memungkinkan efek ini terjadi.

Untuk membuktikannya dapat dilakukan dengan peralatan objektif seperti GPS (Global Positioning System). Pengujiannya sederhana sekali, yaitu dengan mengukur di titik dasar dan puncak tanjakan. Catat ketinggian dasar tanjakan dan puncak tanjakan, perhatikan apakah benar sesuai dengan pengalaman indrawi sebelumnya.

Sejumlah pihak kemudian meragukan klaim adanya medan magnit di kawasan Aceh Besar itu. Sejauh ini, kesimpulan yang didapat tidak adanya medan magnit di tempat tersebut.

Dikutip Aceh Trend, disebutkan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Mahdinur, mengatakan fenomena tersebut disebabkan oleh faktor kemiringan. Hal itu dibuktikan pihaknya setelah melakukan pengujian di beberapa titik dan menarik garis lurus ke arah Krueng Raya sepanjang 100 meter dan ke arah Bandara Blang Bintang sepanjang 100 meter.

Hasil pengujian itu diketahui pada titik nol tersebut ketinggiannya 241 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara garis yang ditarik ke arah Krueng Raya tingginya mencapai 243 mdpl. Terdapat selisih ketinggian 2 meter dengan titik nol. Kemudian ke arah Bandara Blang Bintang setelah diukur dari titik nol diketahui memiliki ketinggian hanya 239 mdpl dengan selisih sekitar 4 meter.

Kemudian Dosen Universitas Syiah Kuala Dr. Muhammad Irham, Senin (6/1/2020) sebagaimana dikutip aceHTrend juga mengatakan klaim adanya medan magnet di kawasan itu perlu penelitian lebih lanjut. Sebab acapkali fenomena tersebut berujung pada pseudo elevasi (tipuan pandangan mata).

Tentunya kita berharap, bahwa hasil dari pengujian oleh para pakar dapat membuktikan kebenaran klaim adanya medan magnet di kawasan Aceh Besar itu. Hal ini penting, agar kita tidak latah dalam menyikapi fenomena. Alih alih bangga, yang tampak justru keluguan, untuk tidak mengatakan kebodohan, pejabat kita didepan publik. Alamak! ( tim redaksi)


Editor :
Redaksi

DMPTSP
riset-JSI
Komentar Anda